Cinta

Cinta
masih menunggu!


__ADS_3

Novak yang masih serius dengan fail fail nya, sedangkan Niken sudah mulai merasa bosan duduk di sana tanpa melakukan apa-apa, dia melihat deretan Buku-buku yang berjejer di dalam lemari di ruangan tersebut.


Niken masih menunggu, tidak ingin menganggu pekerjaan Novak dengan berbagai pertanyaannya, dia pun beranjak dari duduknya, menghampiri lemari Buku-buku tersebut.


"sepertinya dia sudah merasa bosan karena masih menunggu di sini" gumam Novak sambil memperhatikan Niken.


"tuan, semuanya sudah siap. " sebuah pesan dari layar ponselnya yang di baca Novak.


Niken meraih sebuah buku yang berada tepat di samping sebuah majalah The Fashion, dengan tidak sengaja juga Niken menyenggol sebuah buku di sebelahnya.


"jegrek, sebuah suara seperti handle pintu yang terbuka! " Niken mencari sebuah suara tersebut di samping nya.


pergerakan dua sisi lemari tersebutpun terlihat oleh Niken, Novak yang melihat kejadian tersebut menepuk jidatnya.


"apa yang kamu lakukan Nike? " tanya Novak sambil menghampiri Niken.


"untung saja aku menutup gorden nya kalo tidak seseorang akan melihat ada ruangan rahasia di ruangan ku! " gumam Novak sambil meraih buku yang di ambil Niken.


"kamu tidak boleh memegang buku ini! " ujar Novak.


Niken yang melihat sebuah lemari terbelah jadi dua dia pun penasaran, "apa ini? " tanya Niken sambil ingin melihat ke dalamnya.


"bukan apa-apa, nanti kamu juga akan tau!" jawab Novak.


"ada ruangan lain di kantor mu? " tanya Niken.


Novak menjadi gemas dengan pertanyaan dari Niken yang terlalu ingin tau.


"sudahlah, kita pergi sekarang ayo!" ujanya sambil menarik tangan Niken mendekap nya, karena ingin mengalihkan perhatian Niken yang ingin tau soal ruangan tersebut.


Niken menjadi terkejut karena pelukan dari Novak, tangan Novak dengan cepat membetulkan posisi sebuah buku yang di senggol Niken tadi, dan lemari tersebut kembali ke posisi semula.


"apa kamu menutup nya kembali? " Niken yang mendengar suara lemari bergeser dia pun melihatnya dengan spontan.


"sudahlah tidak ada apa-apa di sana! " jawab Novak yang tidak ingin memberi tahu Niken sebuah kebenaran yang ada di dalam ruangan tersebut.


"belum saatnya, nanti aku akan mengajak mu ke sana! " kalo waktunya sudah tepat. " ujar Novak kembali meyakinkan Niken.

__ADS_1


"heeemmm, baiklah. " ayo kita menjenguk Pak Romi saja! " apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan mu? " jawab Niken sambil melepaskan pelukan dari Novak.


"heemm ayo. " ujar Novak sambil meraih ponsel nya di atas meja kerjanya.


Novak pun memutuskan untuk segera pergi dari kantornya, dari pada terlalu lama di sana nanti rasa ingin tau Niken dengan ruangan rahasia di kantornya itu semakin penasaran.


mereka pun berjalan keluar ruangan tersebut, para pegawai yang di suruh untuk makan malam tadi, mereka belum kembali.


kantor menjadi sepi hanya beberapa orang satpam yang mondar-mandir di lantai gedung tersebut.


satpam tersebut merundukan badannya ketika Novak menghampiri dirinya, "pak, tolong bilang sama para pegawai yang bekerja lembur malam ini, untuk mengumpulkan hasilnya besok pagi saja, karena saya ada pekerjaan yang lebih penting saat ini. " ujar Novak sambil menghentikan langkah kakainya di depan satpam tersebut.


"baik Tuan. " jawab satpam tersebut. sambil melirik Niken di belakang Novak dengan posisi masih merunduk.


"bruk! " badan Niken menabrak punggung Novak yang mendadak berhenti karena berbicara dengan satpan itu.


"aauuu." ujar Niken sambil memegang keningnya karena menabrak punggung Novak.


"kamu ini hati-hati! badanku begitu tinggi kaya begini apa kamu tidak melihat? " ujar Novak sambil menatap wajah Niken yang meringis, terlihat lucu dan menggemaskan menurut pikirnya.


"lagi, siapa suruh berhenti mendadak seperti tadi! " jawab Niken.


"ciiih, kamu ini! " gerutu Niken sambil menyapa pak satpam di hadapan nya.


"kalian berdua sangat menggemaskan! " sudah lama saya tidak melihat senyuman Tuan seperti ini! " gumam satpam tersebut sambil membalas merunduk kan badannya di hadapan Niken.


"sudahlah ayo kita ke rumah sakit! " nanti waktu jenguk nya sudah habis! " ujar Novak sambil meraih tangan Niken menariknya memasuki lift yang sudah di terbuka karena satpam tadi yang menekan tombol lift tersebut setelah melihat Tuuannya.


di sisi lain Nancy dan para pegawai sedang asyik menyantap Barbekyu di sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung Shinoda Group.


"sepertinya Tuan sudah berbeda sekarang? " ujar salah satu pegawai yang merupakan seorang senior di kantor tersebut.


"Pak Han, bapak lihat tadi wajah Tuan Novak begitu berseri-seri bukan." jawab pegawai lainnya.


"aku senang melihat Tuan belakangan ini, yang selalu tersenyum. " uuuuhh manis sekali. " ujar seorang wanita yang duduk berada di samping Nancy.


"Iyah! aku ingat dulu sewaktu aku pertama menjadi sekertaris Tuan, wajahnya begitu dingin sedingin tumpukan es di kutub Utara! " heheh.. ujar Nancy yang tidak mau kalah untuk membahas topik terhangat malam itu.

__ADS_1


"Nancy! apa kamu tidak ingin menjadi sekertaris pribadinya Tuan? " apa kamu tidak bosan menjadi sekertaris cadangan? " tanya seorang pegawai wanita yang lainnya.


seketika itu langsung suasana menjadi sunyi, pertanyaan dari seorang pegawai membuat mata Nancy berubah menjadi merah karena kesal.


"Vi, apa yang kau katakan? " tanya pegawai yang duduk bersebelahan dengan Vivi yang berbicara kepada Nancy tadi.


"dengar! kamu pikir kamu siapa? kamu tidak tau apa-apa! " Tuan Kendo adalah orang penting di kehidupan tuan, jadi tidak ada seorangpun yang bisa menggeser posisinya! kamu paham itu! "


Nancy menjelaskan dengan nada kesal kepada pegawai yang bernama Vivi tersebut.


"apa kamu senang menjadi bayang-bayang dari Kendo? " kalo jadi aku, aku akan berusaha menjadi sekertaris pribadinya tuan satu-satunya! " jawaban Vivi membuat semua orang terkejut dengan perkataannya.


"hentikan nona Vivi! teriak pak Han yang merupakan pegawai senior yang di takuti di kantor tersebut.


" sudah lah Pak Han, dia hanya pegawai baru di perusahan Tuan, dia tidak tau siapa itu Ken, dan siapa itu Tuan! " mungkin dia sudah bosan dari pekerjaannya! " ancaman dari mulut Nancy membuat Vivi menjadi terdiam menahan emosi.


"Pak Han, aku sudah kenyang dan kalian teruskan makan malamnya sepuasnya, aku akan mencari udara segar di luar. " ujar Nancy yang langsung berdiri meninggalkan meja makan dan rekan-rekannya..


"Nancy, tunggu!" ujar Vivi berteriak mencoba ingin mengikuti Nancy.


Pak Han langsung memegang tangan Vivi untuk duduk kembali di kursi nya.


"hentikan! " ujar Pak Han.


"jangan pernah ada keributan lagi sesama staf yang berada di bawah pengawasan ku! " tambah Pak Han. yang membuat Vivi duduk dengan kesal karena tidak berhasil memancing emosinya Nancy.


di luar Nancy mengambil sebuah rokok dari saku mantelnya, dia mengambil satu batang rokok dan memasukan batang rokok tersebut ke mulutnya lalu mencoba menyalakan korek api, "jeg rek' jeg rek! beberapa kali korek api tersebut tidak mau menyala.


seseorang dari belakang Nancy menyalakan korek api dan menyulutkan nya ke rokok yang menempel di bibir Nancy.


dengan terkejut Nancy melirik pria tersebut, yang sekarang berdiri tepat di samping Nancy.


" terimakasih! " ujarnya sambil menyalakan rokok nya dengan api yang di berikan pria di sampingnya.


"siapa dia! gumamnya.


" Hai! sapa pria itu tersenyum manis.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2