Cinta

Cinta
Bab 55 Hadirnya si Mrs X


__ADS_3

Tiga hari menjelang pernikahan.


Keramaian sudah mulai nampak di rumah Muh dan Rangga. Mereka nampak suka cita menanti hari pernikahan Muh dan Rangga.


" Om...kata oma, Windy mau pakai baju orang jawa kalau om Muh dan Om Rangga pengantin. Ntar Win mau duduk dekat tante Cinta. WIN mau ajakin abang Dewa juga. Jadi bisa main pengantinan. Bang Dewa pasti lebih ganteng dari om Muh dan Om Rangga 😊😊"


Windy adalah anak Om Teguh, sedangkan Dewa adalah teman satu kelasnya Windy. Dewa adalah keponakan Cinta.


" Alaaaahhhh masih kecilpun sudah naksir-naksiran, pake mau pengantin-pengantinan lagi. NO .... NO.......NO!"


"Paaaapiiiiii .... Maaaaamiiiiii.... Omaaaa.....Opaaaaaa Om Rangga jahaaaat 😭😭😭😭."


" Ada apa nak?." Bunda segera memeluk Windy.


" Ooomaaa 😭😭😭😭😭 " Windy segera memeluk omanya.


" Bisa gag sih sifat usil mu itu dikurangi persentasenya?"


Rangga berlalu dari hadapan bundanya, ia sedikit mencibir ke arah Windy.


" Bocil bocil bocil bocil, SD kelas 3 masih ompol😄😄😄" ledeknya ke arah Windy.


"Ranggaaaaa."


Rangga berlari menaiki tangga menuju kamarnya


Teeeettt teeeeetttt teeeeettt


Dering suara bek berbunyi nyaring.


Tante Maya pun membukakan pintu.


" Selamat siang bu. Apakah benar ini rumahnya Muhammad Agung?"


" Ya betul, anda siapa ?." Tante Maya menatap Gisel dengan wajah penuh selidik.


" Perkenalkan nama saya Gisel. Saya temannya Muhammad Agung ketika ia kuliah di Siangapore. Bisakah saya bertemu dengannya?"


Tante Maya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Silahkan duduk."

__ADS_1


Tante Maya masuk ke dalam menemui bunda.


" Siapa May yang datang?" tanya bunda masih memeluk Windy yang terlelap dipangkuannya.


" Maaf bun, di luar ada perempuan cantik mencari Muh. Katanya teman kuliahnya, ia baru datang dari Singapore bu. Gimana bun? Abangnya belum pulang, ia masih perawatan pengantin di salon bersama Cinta. "


" Gag usah dikabarin Muhnya. Nanti bunda saja yang menemuinya. Sekarang kamu pindahin saja Windy ke kamar. Bunda mau ganti pakaian sebentar. Jangan lupa minta tolong bibi buatkan minuman dan makanan ringan untuk tamunya."


Bunda pun menuju kamar untuk berganti pakaian.


" Ya Allah semoga tamunya membawa kabar baik dan berniat baik. Lancarkanlah semua urusan dan jalan anak-anakku untuk menunaikan ibadahnya kepada mu. Aamiin." Bunda terus berdo'a.


Tak lama kemudian, bunda pun menemui Gisel yang sudah cukup lama menunggu.


" Assalamu'alaikum."


" Maaf bu, saya non muslim."


Gisel berdiri dari duduknya dan menyalami bunda.


" Maaf ya nak, bunda kira kamu seorang muslim. Silahkan duduk."


" Terimakasih ibu." Gisel pun duduk dengan sopan.


" Muh belum pulang nak. Ia sedang perawatan tubuh bersama calon istrinya. Kalau nak Gisel ada pesan nanti bunda sampaikan."


" Apakah Muh sakit bu?"


" Tidak nak, Muh sedang perawatan tubuh untuk pernikahannya."


" Muh mau menikah bu?"


" Iya nak. "


Gisel menundukkan wajahnya, ia diam dan menangis.


" Nak Gisel kenapa ? Kalau ibu boleh tahu, sebenarnya ada masalah apa antara Muh anak saya dengan nak Gisel ?"


" Maafkan saya ibu maksud kedatangan saya kemari untuk meminta pertanggung jawaban Mas Agung. Saya memiliki anak dari Agung ibu."


Bunda terdiam dan berusaha tenang, ia mengatur nafasnya dan mengambil air mineral yang ada di meja.

__ADS_1


" Maaf nak, bunda tidak mau ikut campur urusan kalian. Kalau mau bertemu dengan Muh jangan sekarang, tapi datanglah satu minggu ke depan. Besok Muh berangkat ke Lampung. Ada tugas yang harus diselesaikannya disana." Bunda menjawab setenang mungkin.


" Terimakasih ibu, tolong titip pesan untuk Mas Agung agar bisa menghubungi saya ke nomor ini ya bu. Saya tidak ingin bermaksud mengganggu ketentraman keluarga ini. Tapi saya hanya ingin menitipkan anak kami karena saya harus kembali ke Jerman. Orang tua saya tidak mau menerima kehadiran anak tersebut."


" Baiklah nanti pesannya akan bunda sampaikan. Bisakah bunda melihat foto anaknya?"


Gisel mengambil selembar foto dan menyerahkannya ke bunda.


" Namanya Ghibran. " Gisel menyerahkan foto anaknya yang saat ini berusia 5 tahun.


Bunda terkejut begitu memandang wajah anak tersebut. Ibarat pepatah " seperti pinang dibelah dua". Namun bunda berusaha tenang.


" Saya tidak ingin menuntut apapun, saya hanya ingin menitipkan anak ini ke Muh. Saya percaya keluarga disini bisa menerima Ghibran. Ghibran sering menanyakan siapa dan dimana ayahnya. Saya selalu menjawab jujur mengenai ayahnya " '


" Saat ini anaknya ada dimana?"


" Ghibran ada di apartemen saya diasuh oleh baby sitter bu.


" Mengapa anaknya mau dititipkan ke anak saya? Apakah kamu tidak takut apabila istrinya Muh kelak tidak mau menerimanya ? Bagaimana kalau ternyata anak tersebut bukan darah daging Muh?"


" Saya percaya istri Muh mau menerima Ghibran karena ia adalah seorang muslimah yang shalehah. Muh sering bercerita tentang dia. Ghibran adalah anak Muh, saya bersedia jika keluarga disini mau melakukan tes DNA kepada Ghibran."


Bunda terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi.


" Baiklah bu, saya permisi. 2. minggu lagi saya akan mengajak Ghibran kemari. Saya akan menitipkannya, setelah itu saya akan berangkat ke Jerman. Ibu tidak usah khawatir karena saya akan tetap berkomunikasi sama Ghibran. Nafkahnya pun akan tetap saya transfer ke rekening Ghibran. "


" Andai orangtua saya mau menerima Ghibran, saya akan tetap bersamanya. Saya sangat menyayanginya. Tapi saya terpaksa melakukan ini, demi keamanan dan masa depan Ghibran. "


".Saya pamit ibu. Selamat siang. "


" Selamat siang."


Setelah bersalaman, Gisel segera mengendarai mobilnya.


Bunda masih terpaku di tempat duduknya.


" Apa yang harus ku lakukan Ya Rabb ?"


Bunda masuk ke kamarnya. Ia berbaring di tempat tidur, dan menatap foto Ghibran. Bunda menelpon ayah.


Beberapa kali ia menelpon tapi tak juga dijawab. Bunda menulis pesan untuknya.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum. Ayah dimana? Bunda tunggu di rumah. "


Bunda mengirimkan pesan tersebut.


__ADS_2