Cinta

Cinta
Bab 35Perpulangan Cinta dan Rangga


__ADS_3

Hari ini, sesuai janji Muh ke ayah dan bundanya. Ia mengajak Ambar berkenalan dengan kedua orangtuanya.


"Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumussalam."


Ayah dan bunda melihat ke arah Ambar. Mereka menunggu Ambar menyalami mereka, tapi Ambar tetaplah Ambar. Muh memperkenalkan Ambar ke ayah dan bundanya.


" Ayah bunda ini perkenalkan Ambar. Ambar perkenalkan ini ayah sama bunda. "


Ambar hanya tersenyum ke arah ayah dan bunda.


" Silahkan duduk, nak." Ayah mempersilahkan Ambar untuk duduk. Bunda nampak bingung dan sedikit kesal dengan sikap Ambar. Ambar duduk santai tanpa menyapa ataupun berbasa basi kepada ayah dan bunda.


" Apakah kalian sudah lama berkenalan? " tanya bunda.


" Belum lama tante, kurang lebih 5 bulan. " jawab Ambar.


" Apakah sebelumnya Muh tidak bercerita bahwa ia telah mempunyai kekasih dan akan bertunangan?"


Ambar tersenyum sinis, ia tidak menggubris pertanyaan bunda.


" Ambar sudah mengetahuinya bun. Abang sudah menceritakannya beberapa hari yang lalu." Muh menjawab pertanyaan bunda.


" Kenapa kamu yang jawab? Bukankah bunda mu bertanya pada Ambar?" Ayah yang tadinya hanya diam kemudian angkat bicara juga.


" Cinta itu kan hanya masa lalu bagi kakak Muh, sedangkan untuk masa depan adalah aku. Jadi peduli amatlah." Ambar menjawab dengan cuek.


" Baiklah, kalau begitu ayah kira perkenalannya sudah cukup. Ayah ingin mengantar bunda ke salon. Untuk makan siang semua sudah disiapkan oleh bibi di meja makan. Kami pamit ya nak. Maafkan kami tidak bisa menemani kalian. Assalamu'alaikum."


" Ayo bun, nanti kita terlambat. Tidak enak sama bu Balqis menunggu terlalu lama." Ayah memegang tangan bunda dengan lembut dan mengajak bunda ke luar rumah.


Muh terdiam seribu bahasa, ia tahu ayah dan bundanya menghindari mereka.


" Oh iya om, tante. " Ambar menjawab sekenanya saja.


Muh mengantar ayah dan bunda ke gerbang.

__ADS_1


" Maafkan sikap Ambar ayah, bunda." Muh menyalami ke dua orangtuanya.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan nak, ini sudah pilihanmu. Kami pergi dulu ya nak." ayah membuka pintu mobil untuk bunda.


Bunda tak berkata sedikitpun, diam seribu bahasa. Perkenalan dengan Ambar membuatnya shock. Tak sesuai dengan khayalan dan impiannya selama ini.


Mereka bertandang ke rumah kedua orang tua Cinta.


Tok tok tok


" Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah silahkan masuk ayah, bunda. Silahkan duduk. Aul pamit mau memanggil umi dan abi di kebun. " Aul menyalami kedua orangtua Muh dan Rangga.


Setelah berkumpul bersama, Ayah membicarakan permasalahan hubungan Muh dan Cinta.


" Mohon maafkan kami, yang tidak bisa memaksa Muh untuk memilih Cinta. Kami merasa malu kepada umi dan abi " ayah berkata berat dan lirih.


" Tidak usah malu dan sungkan. Mereka masih belum dewasa jadi biarkan saja mereka memilih sendiri pasangannya. Bagi kami tidak menjadi masalah. Mengenai Cinta nanti akan kami bicarakan pada waktu perpulangan di bulan Maret." Abi menjawab dengan santai.


" Iya bun, gag usah dipikirkan. Anak kami Cinta Insya Allah bisa menerima keputusan Muh" Ummi pun turut bersuara.


Mereka mulai menyusun rencana demi rencana dalam rangka kegiatan anak-anak ketika perpulangan liburan nanti.


*****


Kesibukan-kesibukan di pondok membuat Cinta dan Rangga sangat jarang sekali memberi kabar kepada keluarganya.


Hari ini, Cinta dan Rangga menelpon kedua orangtuanya dan mengabarkan bahwa perpulangan liburan di bulan Maret akhir.


Kedua keluarga menyambut kabar gembira ini penuh dengan suka cita.


1 tahun kemudian.


Semua wali santri telah berkumpul untuk menyambut dan menjemput anak-anaknya di tempat yang telah ditentukan.


Kedua keluarga Cinta dan Rangga dari pukul 7 telah hadir di bandara.

__ADS_1


Semua membawa buket coklat yang telah mereka pesan melalui bimbelnya masing-masin



Bunda dan Ummi segitu hebohnya, berdiri di barisan depan menunggu kedatangan Rangga dan Cinta.


Para santri telah tiba. Para ustadz dan ustadzah mengatur tempat untuk para santri dan wali santri.


Tempat pertemuan santri laki-laki dan santri perempuan terpisah. Sehingga kedua orangtua Cinta dan Rangga memutuskan akan bertemu dan saling menunggu di parkiran mobil.


Setelah diberikan pengarahan-pengarahan, mereka pun diperbolehkan menemui keluarganya masing. Para santri saling berpelukan, tangis haru dan bahagia bercampur menjadi satu.


Cinta tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk erat ke dua orangtuanya. Setelah merasa lega melepas rindu, mereka pun berjalan menuju ke tempat parkir sesuai kesepakatan dengan orangtua Rangga.


Ternyata Rangga dan keluarganya sudah lebih dulu menunggu disana. Kehebohan bunda meneriakkan nama Cinta membuat semua mata tertuju ke Cinta dan bunda. Adegan layaknya film layar lebar itu pun, membuat orang-orang yang melihat menjadi terharu.


" Abang di mana bun?" tanya Cinta.


" Muh sibuk kuliah nak. Ia titip salam untuk mu dan Rangga. " Bunda berusaha menutupi masalah yang terjadi.


" Sekarang kita ke sana yok, mereka sudah menunggu kita." ajak bunda.


" Bagaimana kabar mu nak ?" tanya ayah.


" Alhamdulillah sehat ayah. Ayah sehat juga kan?"


" Seperti yang kamu lihat nak, Alhamdulillah ayah sehat. "


" Cinta, kamu gag nanyain kabarnya aku ?" Tanya Rangga.


" Kabarmu gimana Rangga?" tanya Cinta.


" Baik juga Cinta"


Akhirnya, mereka pun makan bersama di tempat yang telah di pesan bunda sebelumnya.


" Hari Kamis malam jum'at nanti, rencananya kami akan mengadakan syukuran kepulangan Rangga dan Cinta. Mohon abi dan umi tidak keberatan untuk hadir. Kami juga minta tolong agar abi membaca do'a di acara tersebut. "

__ADS_1


" Insya Allah kami usahakan hadir. "


__ADS_2