Cinta

Cinta
Bab 43 Broken Heart.


__ADS_3

Mendengar cerita bunda tentang Muh dan Citra kepala ayah mulai pusing.


" Pernikahan itu bukanlah permainan atau sebuah game online. Kalau game online gag cocok bisa di hapus dan diganti game lain dengan mudah. Hapus game yang lama dan download game yang baru. Permasalahan yang dihadapi Muh dan Citra tidak bisa disamakan dengan game online bun. Mereka tidak bisa semudah itu membatalkan rencana pernikahannya." Kemudian ayah menggenggam tangan bunda.


" Bunda jangan sampai mengikuti permainan mereka. Muh dan Citra sudah sama-sama dewasa, mereka harus bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Jangan sampai undangan sudah tersebar ke luar mereka membatalkan begitu saja."


" Jadi gimana yah? "


" Citra lah kuncinya. Citra harus berani membicarakan masalah ini ke keluarganya, karena Citra yang ingin membatalkannya bukan Muh."


" Besok pagi ayah tidak ke kantor, Muh juga masih cuti. Jadi besok saja kita membahas masalah ini dan mencari solusinya. Sekarang kita refreshing dulu, ayah mau mengajak bunda ngemall. 😄😄😄 Hari ini kita bernostalgia seperti dulu. Buruan bunda dandan gih, ayah menunggu di teras ya. 😘"


Bunda bengong gag tau mau ngomong apa.


" Bundaaa, ayo ganti pakaiannya dan dandan yang cantik. "


" Oke ayah, tapi nanti bunda boleh belanja barang-barang keinginan bunda. Sudah lama sekali bunda gag ngabisin uang ayah 😆😆😆"


" Mudah di atur ituuu. " jawab ayah sambil menjentikkan jarinya dan tersenyum manis pada bunda.


" Bang, bunda sama ayah mau pergi. Abang jagain rumah ya.."


" Bunda sama ayah mau kemana? Idiiih bunda dandan cantik lagi. Hmmmmm abang ikut doooongggg."


" No !!! This event is specifically for people who are already in pairs." 😄


" Bunda ngejek abang nih, "begini nasib jadi bujangan, punya pasangan tapi gag tau juntrungan". Muh menjawab perkataan bunda dengan nyanyian dengan syair versi Muh.


" Inget, jangan kemana-mana. Kalau mau pergi telpon bunda atau ayah. Jangan lupa bilang sama bibi."


" Siap bunda ku sayang. Jangan lupa bawain abang martabak XXX pake telor bebek dan sayur ya bun. "


" iya iya iya.... Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumussalam. Hati-hati bunda."


Muh kembali menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


*****


Sehabis shalat subuh, bunda menyiapkan sarapan pagi. Mereka berkumpul di meja makan. Hanya Rangga yang tidak ada. Rangga sedang mengikuti seminar di Bandung.


" Abang masih cuti hari ini? "


" Masih yah. Tapi, besok abang mulai kerja lagi."


" Hari ini, ayah sama bunda ingin bicara sama kamu. Mengenai rencana pernikahan mu dengan Citra. Apa Citra sudah menghubungi mu?."


" Belum ayah, Citra masih di Singapore. Abang sudah menghubunginya tapi nomornya di luar jangkauan."


" Sekarang, dengarkan penjelasan ayah. "


" Iya Yah."


" Bunda sudah menceritakan semuanya. Ayah tidak setuju mengenai rencana kamu sama Citra. Apabila Citra ingin membatalkan rencana pernikahan ini, silahkan saja. Tapi dengan cara yang baik. Katakan saja sama Citra bahwa ia harus berani jujur ke orangtuanya. Jangan sampai merusak silaturahim antara Citra dan orangtuanya. Insya Allah orangtuanya Citra bisa memakluminya." Ayah menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan perkataannya.


" Bang, saat ini kamu sudah dewasa bukan anak remaja lagi. Belajarlah menyelesaikan masalah dengan bijaksana, jangan hanya menuruti hawa nafsu semata. Dulu kamu hampir merusak hubungan keluarga kita dengan keluarga Cinta. Sekarang kamu ingin kembali lagi meraih Cinta yang dulu pernah kamu campakkan. Untung saja kedua orangtua Cinta adalah orangtua yang bijaksana, sehingga hubungan keluarga tetap terjalin dengan baik."


" Ayah dan bunda meminta maaf pada abang, karena kami tidak bisa menjodohkan mu dengan Cinta. Kami telah menjodohkan Cinta dengan adikmu Rangga".


" Maksud ayah ??? Muh dan Rangga akan menikah??? " Muh menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya. Ia menatap bunda, tapi bunda menundukkan wajahnya.


" Iya Muh, sejak kamu memutuskan memilih Ambar kami telah menjodohkan Rangga dengan Cinta. Jadi, tolong jangan mengganggu Cinta lagi karena Cinta dan Rangga sudah bertunangan dan rencananya mereka akan menikah satu tahun setelah pernikahanmu.


Muh terdiam, ia menggenggam erat tangannya.


" Menurut ayah sebaiknya abang menikahlah dengan Citra, kalian sudah lama dijodohkan. Cobalah abang hubungi Citra dan bicarakan baik-baik. "


" Kami tidak saling mencintai ayah, bahkan Citra sudah lama tinggal dirumah kekasihnya Nick. Nanti abang akan menghubungi Citra, abang akan berusaha menyelesaikan masalah ini. Apabila Citra tetap bersikeras membatalkan, maka abang akan menerimanya dan membicarakannya dengan keluarga Citra. " Muh berusaha berbicara setenang mungkin agar ayah dan bunda tidak curiga bahwa saat ini hatinya sedang hancur berkeping-keping.


" Baiklah ayah, abang izin mau ke rumah teman. Abang ada janji sama Wildan. Insya Allah sore abang sudah pulang. "


" Abang mau bersiap dulu ayah, bunda. " Muh menyalami tangan kedua orangtuanya. Ia pun menuju kekamarnya untuk bersiap-siap.


****

__ADS_1


Bunda berjalan menyusul Muh ke kamarnya. Bunda mengetuk pintu kamar Muh. Muh segera beranjak dari tidurnya.


" Bunda, ada apa?"


" Bunda ingin bicara sama abang. Apa bunda boleh masuk? "


" Iya bun"


" Kenapa abang belum bersiap ? Katanya mau pergi ke rumah Wildan."


" Wildan membatalkannya bun, Wildan mau nemenin check up ayahnya ke Rumah Sakit. "


" Kalau gitu, gimana kalau sekarang abang perginya sama bunda. Kita makan di Pondok bakso Pak Karyo. Sudah lama kita tidak makan di sana."


" Boleh juga, oke bun abang bersiao-siap dulu ya. Ayah ikut gag?"


" Hari ini bunda mau perginya berdua sama abang saja. Bunda juga mau bersiap-siap, nanti bunda tunggu di bawah. Capek bunda turun naik tangga. "


" Oke bunda ku. " Muh tersenyum.


10 menit kemudian.


Muh menuruni tangga dengan pelan, wajahnya terlihat menyimpan kesedihan. Bunda pun keluar kamar dengan dandanan yang sederhana tapi menarik dan mempesona. Ayah menatap bunda dengan penuh kekaguman.


" Bunda mau pergi ke pondok bakso Pak Karyo saja kan? Tapi kenapa dandanannya begitu cantik??."


" Ayah kalau bunda cantik, itu memang sudah dari dulu. Bunda pergi dulu ya yah. Insya Allah, kita pulang sebelum maghrib."


" Hati-hati dijalan bun, abang dijagain bundanya. "


" Iya ayaaahhhhh. Kenapa ayah gag ikut? "


" Ayah mau mancing sama pak Abu."


" Bunda pamit ya yah, Assalamu'alaikum. "


Muh menyalami ayah. Hari ini, Muh menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Bunda terus mengajak Muh bercerita agar Muh tidak bersedih.

__ADS_1


__ADS_2