
Hari ini, acara syukuran untuk kepulangan Rangga dan Cinta di adakan dengan sederhana. Hanya mengundang warga sekitar dan anggota pengajian mesjid di dekat rumah Rangga.
Muh dan Ambar sudah hadir, mereka duduk berdua di bawah tenda yang terbentang di depan rumah. Muh dan Ambar sengaja duduk dipojokkan karena suasana di dalam rumah cukup ramai.
Keluarga Cinta belum hadir. Ayah nampak agak sedikit gelisah, karena ayah memikirkan perasaan Cinta. Muh mengajak Ambar bersamanya.
Tak lama kemudian, keluarga Cinta datang dengan membawa buah tangan. Mereka menuju ke dalam rumah, tanpa melihat ke arah tenda tempat Muh dan Ambar berada.
Muh menatap ke arah keluarga Cinta yang disambut dengan gembira oleh bunda. Muh terkesima melihat seorang wanita berkulit putih, berhidung mancung, memakai gamis dan berjilbab panjang berjalan dengan anggun. Senyum merekah dibibirnya.
" Cinta" bisik Muh dengan lirih. Hatinya berdetak kencang. Muh sangat ingin menemui Cinta dan keluarganya. Rasa rindu yang selama ini terpendam kini bangkit kembali.
" Cinta, kamu semakin cantik dan anggun." batin Muh, dengan pandangan terus menatap ke arah Cinta.
Ambar yang merasa aneh dengan sikap Muh, mencoba mengarahkan pandangan ke arah tatapan Muh.
" Kamu ngapain kak, kamu kangen sama si Cinta itu. Sana samperin aja. Aku gag apa-apa kok, biasa aja. " Ambar bicara dengan nada yang tidak enak di dengar.
" Keluarga kakak dan keluarga Cinta berhubungan baik. Cinta juga sudah mengetahui mengenai hubungan kita. Jadi sayang tidak perlu khawatir."
Ambar menatap ke arah Cinta, ada rasa cemburu dihatinya. Apalagi sambutan keluarga Muh terhadap keluarga Cinta sangatlah hangat. Berbanding terbalik dengan penyambutan keluarga Muh terhadap dirinya.
" Aku adalah Ambar, bukan Cinta. Aku akan menjadi diriku sendiri, peduli amat dengan Cinta." batin Ambar, berusaha menenangkan dirinya.
Cinta terlihat biasa-biasa saja, ia sesekali melirik ke arah tamu dan keluarga besar Rangga. Ia mencari Muh. Cinta duduk disebelah bunda, terkadang bunda menggenggam tangan Cinta dan tertawa ketika ada hal-hal yang terlihat lucu. Mereka seperti seorang ibu dan anaknya.
" Muh mana jeng kok dari tadi gag keliatan? Apa Muh gag pulang ya? " tanya ibu-ibu komplek.
" Muh ada tadi dia menyambut tamu bersama temannya. Mungkin dia ada di tenda depan." jawab bunda.
" Tadi aku lihat Muh gandengan tangan gitu lo di kursi penerima tamu dipojokkan sana. " ibu tersebut menunjuk ke arah Muh dan Ambar. Cinta pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk ibu tersebut. Muh yang sedari tadi melihat ke arah Cinta, merasa terkejut dan mengarahkan pandangannya ke arah lain.
" Tuh kan ada di pojokkan sana. Nak Cinta kalau Muh punya calon yang baru, lihat tuh mesra banget kan. Udahlah Cin, Ibu juga mau kok jodohin kamu sama anak ibu. Anak ibu sudah mapan lo. Mau kan jadi calon mantu ibu? Ayo lah Cin. Mau ya ?" Ibu Retno mulai heboh merayu Cinta. Ibu Retno selama ini selalu menanyakan Cinta ke Ummi. Akhirnya kesampaian juga dia berkata langsung ke Cinta.
" Sekarang Cinta mau fokus belajar dulu. Kalau emang berjodoh sama anak ibu Retno pasti akan ketemu juga. " ummi berusaha membantu Cinta agar tidak terpojokkan dengan keadaan tersebut.
__ADS_1
Cinta hanya tersenyum saja menanggapi ibu Retno. Cinta sudah menduga hal seperti ini pasti terjadi. Jadi, ia tidak terlalu sedih atau tertekan.
Acara pun dimulai, semua orang mengikuti acara syukuran tersebut dengan khidmat.
Setelah acara selesai, para tamu sudah pulang. Keluarga yang lain pun sudah mulai pulang. Sekarang hanya tinggal keluarga dekat termasuk keluarga Cinta, yang sedari tadi mau pamit tapi ditahan terus oleh ayah sama bunda Rangga.
Semua berkumpul di ruang keluarga, Cinta dan Rangga berkumpul dengan sepupu yang lain. Mereka banyak mendapatkan pertanyaan- pertanyaan mengenai kehidupan di pondok.
Terkadang Rangga dan Cinta tertawa bersama bersama sepupu dan keponakan-keponakan yang hampir seusia mereka.
Muh dan Ambar menatap mereka.
" Abang dan mbak Ambar, ayo sini gabung." teriak Boy dan Roy si kembar anak dari om Darwin
Muh dan Ambar pun ikut bergabung bersama mereka.
" Apa kabar dek? " Tanya Muh ke Cinta
" Alhamdulillah baik."
" Kenalkan ini Ambar." Muh memperkenalkan Ambar ke Cinta.
" Ambar" jawab Ambar. Ambar menyambut tangan Cinta tanpa menjawab salamnya.
" Wa'alaikumussalam" jawab Rangga dan sepupunya secara bersamaan.
" Mbak Ambar kenapa gag jawab salamnya kak Cinta? Kata oma kalau gag jawab salam itu dosa. Jadi kita jawabnya rame-rame deh. 😄😄😄"
Ambar terdiam dengan ucapan Boy. Ia duduk disebelah Muh, menatap ke arah Cinta yang sedang bermain bersama sepupu Rangga dan Muh.
Cinta terlihat bahagia, begitu pula Aul yang sibuk berdebat dengan Rangga mengenai Aul yang tidak mau mondok di Jawa. Aul ingin mondok tapi masih di kota Palembang.
Setelah puas berdebat, Aul meninggalkan Rangga dan ikut bergabung bersama Cinta. Rangga duduk di dekat Cinta namun tetap berjarak.
Semua handphone anak-anak di sita bunda selama berkumpul keluarga. Bunda ingin suasana yang akrab tanpa gangguan handphone.
__ADS_1
Untuk menghilangkan rasa bosan mereka memutuskan bermain tebak-tebakan. Rangga dan cinta terlihat sangat dekat, mereka tertawa bahagia bersama.
Muh menatap Cinta dan Rangga, ia tidak suka. Sementara Ambar yang menolak handphone disimpan bunda, ia sibuk dengan handphonenya tak mempedulikan Muh.
" Cinta, ikut bunda sebentar ya. "
" Iya bun." Cinta beranjak dari duduknya, dan berdiri di samping bunda.
" Bunda pinjem dulu ya, Cintanya."
" Jangan lama-lama tante, gag seru nih kalau gag ada kak Cinta. " teriak yang lainnya.
" Iya, cuma sebentar saja"
Bunda mengajak Cinta ke kamar, disana sudah ada ummi yang menunggu kedatangan Cinta
" Cinta, Bunda ingin menitipkan kotak ini sama kamu. Bunda sudah meminta izin ke ummi dan abi, mereka mengizinkan. Jadi kamu tidak bisa menolak. "
" Cinta gag ngerti maksud bunda? Terus kotak ini untuk apa?"
"Ini kotak perhiasan milik keluarga besar bunda. Bunda tidak mempunyai anak perempuan dan bunda juga tidak punya saudara. Jadi kotak ini beserta isinya bunda serahkan ke kamu. Pakailah disaat kamu menikah nanti. Kamu juga bisa menjualnya apabila kamu membutuhkan uang untuk ibadah misalnya naik haji ataupun biaya untuk membangun mesjid, sekolah dan lainnya. " Bunda menyerahkan lotak tersebut ke Cinta.
" Bukalah nak. " kata bunda
Cinta membuka kotak tersebut, dan Cinta segera menutupnya kembali.
" Bunda, Cinta belum siap menerima amanah ini. Kenapa tidak bunda serahkan ke abang dan Rangga saja"
"Tidak bisa nak, ini diberikan hanya ke anak perempuan. Rangga dan Muh sudah ada bagian sendiri. Bunda sudah mendapat petunjuk dari Allah bahwa kamu adalah wanita yang tepat untuk menyimpannya."
Bunda tak bisa berkata apapun, ia memegang kotak tersebut dengan perasaan yang kacau. Ummi menepuk pundaknya.
" Terimalah nak, nanti ummi akan menjelaskan semuanya. "
Bunda memasukkan kotak tersebut ke dalam tas milik bunda, dan menyerahkannya ke Cinta
__ADS_1
Sore menjelang, keluarga Cinta pun pamit pulang.
Ambar dan Muh sudah tidak terlihat, Muh mengantarkan Ambar ke kosannya. Sementara Muh akan menginap selama satu minggu di rumah, karena sedang libur.