
"Ayah kenapa abang merasa sangat gugup, tangan gemetar. Rasanya mau ke toilet, gimana ini yah.?"
" Kamu ini, kamu peegi ke toilet dulu lah. Daripada ditahan-tahan nanti malah jadi penyakit. Rangga antar abang mu ke toilet, buruan ya. Sebentar lagi acara dimulai."
" 😀😀 Ayo bang. "
Muh nampak bingung, karena melihat Rangga sepertinya sudah terbiasa dengan rumah tersebut.
" Kamu sudah sering main kesini ya dek?"
" Gag juga sih, cuma pernah diajak oleh ayah sama bunda."
" Ketemu gag sama calon kakak ipar mu."
" Lah iya lah, emang kenapa kak? Takut ya?"
" Takut sih nggak. Cuma abang mau nanya, calon istri kakak cantik gag??."
" Cantiklah kak. Baik lagi. Guru ngaji pulo, dengan orangtua santun. Pokoknya the bestlah. "
" Cantikan dia atau Cinta?"
" Kedua-duanya sama cantik!!Penasaran ya kak. "
*****
Tak lama kemudian semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu. Bapak Hasan sebagai sepuh merupakan juru bicara mewakili keluarga besar calon istri Muh.
" Terimakasih kepada pihak keluarga Pak Romli dan Bu Wita yang telah hadir disini berkumpul bersama keluarga besar kami. Semoga silaturahim ini mendapat ridho dari Allah SWT dan berkah buat kita semua. Maaf pak, bolehkah kami mengetahui maksud kedatangannya bersilaturahim kemari?"
" Maksud kedatangan kami kemari, kami berniat ingin melamar Nur Cinta Asy-Syifa dan Nur Auliya Asy-Syifa untuk anak kami Muhammad Agung dan Muhammad Rangga.
" Alhamdulillah, maksud dan niat yang baik tentunya akan kami terima dengan senang hati. Namun, mengenai keputusannya, kami akan menanyakan terlebih dahulu kepada keponakan kami Nur Cinta Asy-Syifa dan Nur Auliya Asy-Syifa juga kedua orangtuanya. Kami disini hanya sebagai sepuh atau tetua dalam silsilah keluarga Haji Makhmud. Mengenai berkenan atau tidaknya akan kami tanyakan kepada mereka.
" Umi tolong panggilkan mereka. "
" Iya abi." Ibu yang dipanggil ummi beranjak dari duduknya menuju sebuah ruangan.
10 menit kemudian sepasang suami istri keluar dari ruangan tersebut. Muh nampak terkejut melihat umi dan abi keluar dari ruangan tersebut berjalan menuju ke arah ruang pertemuan keluarga.
Muh dan Rangga segera berdiri menyambut dan menyalami umi dan abi Cinta.
Umi dan abi tersenyum ramah dan menyambut tangan mereka dengan hangat.
Ayah dan bunda tersenyum. Mereka pun saling bersalaman.
" Baiklah sekarang kita langsung saja memasuki acara inti. Bismillahirrohmanirrohim."
Pak Hasan diam, kemudian melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
" Adikku Aldi kedatangan Pak Romli sekeluarga adalah ingin melamar Cinta dan Auliya. "
Abi dan ummi tersenyum tenang. Mereka berusaha menghilangkan ketegangan dan kegugupan menjadi senyuman.
Muh tampak tegang sekali.
" Astaghfirullah, apakah benar aku akan dijodohkan dengan Aul. Yaa Allah kalau memang ini adalah ketentuan Mu hamba tak bisa apa-apa. Hamba yakin akan ada hikmah dibalik ini semua. Tapi Cinta dan Aul adalah bersaudara, mana mungkin aku menikahinya. " Muh nampal tegang dan bingung. Muh sangat gelisah sekali, ia mau ngomong tapi tak enak hati.
" Ada apa nak Muh? Apa ada yang mau ditanyakan atau dibicarakan ?" Pak Hasan yang melihat kegelisahan Muh segera menanyakan kepada Muh.
" Begini pak, Cinta dan Aul adalah bersaudara. Saya dan Rangga juga bersaudara. Bagaimana kami bisa menikahi dua saudara kandung ?"
Pak Hasan selaku sepuh disana, meminta kedua orangtua Cinta untuk menjelaskan kepada Muh.
" Maafkan kami nak Muh, kami belum menjelaskan kepada mu. Sebenarnya Cinta dan Aul bukanlah saudara kandung. Cinta adalah anak dari almarhum adik ummi. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan. " Ummi pun meneteskan air matanya. Kemudian ummi menjelaskan semuanya kepada Muh.
" Baiklah sekarang kita lanjutkan kembali. Muhammad Agung setelah engkau mendengarkan semuanya, apakah kamu akan tetap melanjutkan lamaran mu ke Cinta ? " Tanya Pak Hasan kepada Muh.
Muh semakin bingung, ia merasa gugup. Ia melihat ke ayah dan bundanya.
" Maaf pak Hasan, bolehkah saya meminta break sebentar untuk berbicara kepada anak saya Muh. Sepertinya ia gugup sekali." Semua pandangan melihat ke arah Muh. Wajah Muh terlihat pucat dan panik.
" Silahkan pak. " jawab pak Hasan.
Ayah memegang tangan Muh lembut, dan mengajaknya ke ruang lain.
" Maaf ayah, sebenarnya abang akan dijodohkan dengan siapa? Cinta atau Aul ?."
" Menurut mu?" tanya ayah.
" Ayah, abang telah berjanji akan menerima perjodohan ini. Namun, tolong jangan buat abang bingung ayah."
" Maafkan ayah nak telah membuat mu bingung."
Kemudian Ayah menceritakan semuanya kepada Muh.
" Bagaimana nak? Apakah kamu akan membatalkan lamaranmu ke Cinta ?"
" Abang akan menjawabnya di hadapan mereka semua ayah. "
" Baiklah , sebaiknya kita masuk kembali. Nak, kalau kamu tidak mau, jangan dipaksakan. "
" Iya .... ayah."
Ayah dan Muh masuk keruangan kembali. Semua mata tertuju ke Muh.
" Bagaimana Muh, apakah kamu akan melanjutkan lamaran mu ke Cinta?." tanya pak Hasan.
Muh berjalan ke arah Cinta, ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah muda dari saku bajunya. Muh berjalan dengan tenang dan mantap.
__ADS_1
" Nur Cinta Asy Syifa, are you willing to marry me and be the mother of my children? I want to grow old with you. I love you." Muh mengungkapkan semua perasaannya ke Cinta. Ia sangat serius dengan ucapannya.
Cinta terdiam dan terunduk malu. Ia tak menyangka Muh akan melakukan hal ini.
" Bagaimana Cinta, apa jawaban mu untuk Muh?" tanya pak Hasan
" Muhammad Agung, I am willing to marry and grow old with you. I am also ready to be the mother of your children. I love you too."
"Alhamdulillah." semua keluarga yang hadir mengucapkan Alhamdulillah.
" Muh pakaikanlah cincinnya ke jari manis Cinta. "
Dengan melafadzkan Basmalah dan dengan senyum penuh kebahagiaan Muh memasukkan cincin yang dibawanya ke jari manis Cinta. Cjnta pun melakukan hal yang sama.
Tak lupa bunda memberikan kotak isi perhiasan kepada Cinta.
" Nak terimalah kotak ini dan bukalah setelah pernikahan kalian nanti. "
Cinta menatap ke arah Muh.
" Terimalah sayang. " Mendengar perkataan sayang Muh ke Cinta, membuat heboh semua orang.
" Buciiiin nya kumat nih. " Seloroh Rangga.
Setelah kehebohan yang dilakukan oleh Muh. Selanjutnya adalah lamaran Rangga untuk Auliya.
" Nur Auliya Asy- Syifa
Rangga memberikan sebuah kertas foto berbingkai bertuliskan pantun yang romantis.
Semua orang tersenyum bahagia melihat Rangga dan Aul.
Aul yang terbiasa tomboy, nampak gugup.
" Jawablah nak, jika kamu menerimanya. Kasihan nak Rangga menunggu balasan pantunnya. "
" Saya menerima lamarannya."
" Alhamdulillah. "
Rangga memberikan kotak perhiasan dari bunda ke Aul.
Kemudian tanpa disangka-sangka, Rangga mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dari saku bajunya. Ia membukanya.
sepasang cincin cantik bertengger disana.
Rangga memakaikan cincin kecil ke jari manis Aul. Begitupun sebaliknya. Mereka tersenyum bahagia.
__ADS_1