
Kamu, iya kamu.. Begitu santunnya caramu memasuki duniaku, mengetuk pintu dengan salammu. Mataku melihat ada yang berbeda dari dirimu. Cahaya itu selalu kau pancarkan. Aku pun melihat matamu yang berbinar binar. Memandangmu adalah suatu ketenangan. Senyummu sederhana, namun terasa istimewa.”
Menuliskan kata hati adalah salah satu kebiasaanku dikala sepi, karena hal itu selalu membuatku tersenyum dan mensyukuri nikmat yang Allah beri. Allah memang sutradara yang paling hebat. Menjadikan hamba-Nya hijrah secepat kilat. Dan Allah pun tau kapan hidayah hamba-Nya layak didapat.
Aisyah Nur Fiiqolbi. Itulah namaku. Nama terindah yang pernah aku dapatkan dari orangtuaku. Nama yang berarti aku ‘Aisyah Cahaya di hati’. Panggil saja Aisyah. Aku berusia 16 tahun. Aku adalah akhwat yang sudah lama menjalani proses hijrah namun masih saja melanggar perintah-Nya.
Aku tipe orang yang periang, humoris tapi moodnya suka turun drastis. Aku memiliki dua orang sahabat yaitu Vina dan Karis. Kemana pun kita selalu bersama sampai izin ke toilet pun ikut semua.
Saat itu adzan dzuhur tengah dikumandangkan, aku dan dua sahabatku langsung bergegas menuju Masjid. Sengaja kubawa mereka melewati mading dan ternyata ada info yang luar biasa. Aku mendapatkan informasi tentang Kak Yusuf, kakak tingkat yang menjadi ikhwan impianku.
“Karis, liat deh ini.. inii..” Kutunjuk ke arah mading bagian biodata seorang ikhwan.
“Ya terus kenapa?” dengan dinginnya dia menjawab.
__ADS_1
“Liat nih.. ada tipe akhwatnya juga… Yang pertama, sholihah.. Kedua, berbakti kepada orangtua, ketiga feminin, yang keempat berkulit kuning langsat dan yang kelima tidak terlalu tinggi. Duhhh ris, pokonya aku harus bisa penuhi 5 kriteria ini” ucapku dengan rasa percaya diri.
Sejak saat itu aku mulai mencari tahu tentang diriku. Mulai dari tinggi badanku, warna kulitku, kebiasaan sehari-hariku. Apa aku feminin? Apa aku sudah berbakti pada orangtuaku? dan apakah aku sudah menjadi akhwat sholihah?. Banyak sekali pertanyaan tentang diriku.
Hari demi hari kulewati dan kucoba untuk memperbaiki diri. Hingga disuatu hari aku menceritakan masalah yang sedang aku hadapi yaitu ketidakakrabanku dengan ayahku. Aku menceritakan hal itu pada Kak Yusuf, kami memang suka saling bertukar cerita dan dia juga selalu memberikan masukan untuk mengubah keburukan yang ada dalam diriku. Setelah kuceritakan itu, dia memberikan sebuah nasehat agar aku segera meminta maaf pada ayahku. Kutunggu moment yang tepat untuk meminta maaf, kuambil waktu dimana aku memasuki usia 17 tahun. Saat dihadapan orangtuaku, kucium tangannya dan kuhiasi suasana dengan air mata hingga akhirnya aku berhasil. Berhasil mendapatkan maaf dari kedua orangtuaku bukan hanya dari ayahku. Aku tak tahu, apakah itu salah satu bentuk bakti kepada orangtuaku? Tapi semenjak moment itu, Aku jadi mulai akrab kembali dengan ayahku dan rajin membantu orangtuaku.
Nah, tinggal satu kriteria lagi yang belum aku penuhi yaitu ‘Sholihah’. Aku bingung harus memulainya dari mana. Tapi saran dari sahabatku ialah mulai dengan introspeksi diri, apa saja yang harus aku perbaiki. Mulai dari sholat tepat waktu, menutup aurat, berpikiran positif dan menghadiri majelis-majelis ilmu. Kujalani tahapan itu tanpa aku pikirkan “Apakah yang kujalani ini karena Allah?”. Selang beberapa minggu aku mulai berubah, sedikit demi sedikit aku belajar menjadi akhwat sholihah. Walaupun banyak sekali godaan tapi kucoba untuk istiqomah.
Sejak saat itu aku mulai mengenali sahabat-sahabat Kak Yusuf dan mereka pun mengenaliku. Setiap mereka bertemu denganku, pasti ada saja pembahasan tentang Kak Yusuf. Hingga disuatu hari salah satu sahabatnya mengatakan padaku “Sudahlah.. tak perlu menunggu, dia menyukai akhwat lain. Bukan kamu”. Aku terkejut mendengar kalimat itu tapi kucoba memasang muka tak masalah saat itu.
“Aisyaahh.. kumohon jawab aku. kamu kenapa?” Tanya Karis sambil mengusap air mataku.
“Kak.. Kak Yusuf ris” Jawabku dengan sedikit terbata-bata.
__ADS_1
“Iya kenapa?”
“Kak Yusuf suka sama akhwat lain”
Setelah itu, aku kembali menangis dan terus menangis. Karis pun tersenyum dan memelukku. “Aisyah, ini kasih sayang Allah.. Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya untukmu.” Aku pun terdiam dan melepaskan pelukan Karis.
“Maksud kamu?” Tanyaku dengan wajah heran.
“Aku tahu kok, kamu ingin menjadi sholihah itu bukan karena Allah. Tapi aku takut kamu sakit hati jika aku menasehatimu seperti itu. Aisyah.. kamu harus ingat, Allah itu sangat pencemburu. Allah cemburu liat kamu suka sama Kak Yusuf dengan cara seperti itu. Allah ingin kamu kembali kepadaNya.”
“Astaghfirullah..” Kutundukkan kepala dan mencoba menenangkan diri.
Dua Minggu ini.. Aku tak bertemu Kak Yusuf. Ingin sekali kukatakan “Aku merindukanmu” Namun kini, rasanya berat sekali untuk mengatakan itu. Aku hanya bisa menjerit di hadapan Allah, diatas sajadah yang suci ini dan kuungkapkan semuanya dari hati.
__ADS_1
“Yaa Allah, katakanlah padanya.. Aku merindukannya.. Kumohon.. Maafkan aku yang masih belum bisa menghilangkan rasa. Entah sampai kapan rasa ini akan bersinggah namun saat ini aku akan berusaha untuk mencintai-Mu dan meluruskan niat hijrahku yaitu memperbaiki diri karena Allah dan menjadi sholihah karena ingin mendapat ridhoMu Yaa Allah”.
Setelah itu, kucoba untuk mengikhlaskan rasa yang pernah ada. Karena kini aku tahu dan mengerti bahwa “Sebaik-baiknya mencintai yaitu dengan cara menjaga” dan “Yang terindah dari sebuah perpisahan yaitu mengikhlaskan”. Akhirnya, aku pun belajar dari kesalahanku. Belajar untuk menjadi akhwat sholihah karena Allah dan menjadi diri sendiri karena Allah. Segala sesuatu yang ku lakukan memang atas izin Allah namun tak semua yang kulakukan disertai ridho Allah dan jangan pernah kau memandang kesakitan sebagai suatu penyiksaan sebab Allah memberikan rasa sakit bukan semata-mata hanya sebuah teguran namun kau harus tahu bahwa itulah salah satu bentuk cinta-Nya kepadamu.