
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Mereka kelihatan bahagia. Para istri melayani suaminya dengan ciri khasnya masing-masing.
" Menunya spesial banget ini. Pasti mantu bunda tersayang nih yang masak. " Puji bunda.
" Anak siapa dulu dooong !! 😁😁 balas ummi tak mau kalah.
" Kalau yang pinter masak, pastilah isteri Muh, anaknya ummi dan mantunya bunda. " Jawab Muh berusaha menengahi ibu dan ibu mertuanya.
" Sudah.... Ayah dan abi sudah lapar ini. Ayo kita berdo'a dulu."
Ayah pun memimpin do'a. Mereka menyantap makanan dengan lahap dan hikmat. Tak terasa nasi dan lauknya pun ludes.
" Alhamdulillah, nikmatnya. Sudah lama sekali kita dua keluarga tidak makan bersama seperti ini. Enak tak enak semuanya terasa lezat. Terimakasih ya nak, semoga keluarga kalian senantiasa bahagia berlimpah rezeki dan berkah. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamin. " Kata ayah.
" Katanya ada yang ingin kalian bicarakan, mengenai apa nak" tanya ayah.
" Lebih baik selesaikan makan
dulu, setelah itu kita berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakannya." jawab Muh.
" Baiklah, ayolah kalau sudah selesai semua kita segera berkumpul di ruang keluarga."
Mereka pun beranjak meninggalkan meja makan, dan brrkumpul di ruang keluarga.
" Sebenarnya ada masalah apa kalian berdua ini. Tolong segera ceritakan dengan jujur, agar kami yang hadir disini meras tenang." Jelas ayah.
Cinta dan Muh menceritakan permasalahan yang sebenarnya. Semua keluarga mendengarkan dengan tenang.
" Sekarang kami mohon bantuan nasehat dan bimbingan dari semua keluarga agar kami tidak gegabah dalam mengambil keputusan yang berakibat fatal bagi rumah tangga kami."
Semua terdiam dengan ekspresinya masing-masing. Setelah itu, abi pun memberikan tanggapannya.
" Sebagai orangtua kami menginginkan rumah tangga anak-anaknya baik-baik saja. Namun, mengenai permasalahan ini, ada baiknya nak Muh sendiri bagaimana? "
" Saya mencintai Cinta abi. Gisel adalah masa lalu, Cinta adalah masa depan. Mengenai Ghibran, Muh minta maaf. Muh bingung, ......" Muh tak mampu berkata apapun, ia menangis.
" Sayang, maafkan abang. " Muh bersimpuh di kaki Cinta.
Cinta tak kuasa menahan rasa harunya.
__ADS_1
" Abang, jangan seperti ini." Cinta meminta Muh untuk kembali duduk disebelahnya.
" Bagaimana pendapatmu nak. Semua keputusan ada di tanganmu. Bijaksanalah. " Abi menepuk pundak Cinta lembut.
" Abi, Ummi maafkan Cinta. Cinta akan menerima Ghibran dan Cinta akan berusaha merawat dan menganggap Ghibran seperti anak sendiri. "
Semua keluarga terkejut dengan keputusan Cinta.
"Alhamdulillah nak. Abi dan ummi menerima keputusan mu."
" Cinta, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Bunda tidak setuju dengan keputusanmu. Biarlah Ghibran diasuh Gisel nak. Kalian baru saja berumahtangga".
" Bunda, Cinta tidak mau abang Muh melakukan kesalahan dan dosa untuk kedua kalinya. Kasihan Ghibran. Cinta ikhlas. Mohon do'anya agar kami mampu menjadi orangtua yang baik bagi Ghibran dan anak-anak kami nantinya. Aamiin."
" Aamiin" semua turut mengaminkan do'a Cinta.
****
Keesokan harinya, mereka berkumpul ruang keluarga menunggu kedatangan Gisel dan Ghibran.
Pada pukul 10.00 Gisel dan Ghibran bersama ibu yang mengasuh Ghibran yaitu ibu Asih tiba.
Gisel memperkenalkan Ghibran kepada semua keluarga. Ghibran memberikan salam kepada semua.
" Assalamu'alaikum, kenalkan nama saya abang Ghibran dan ini emak Asih." Ghibran memeluk emak Asih dengan penuh sayang. Emak Asih adalah ibu yang mengasuh Ghibran dari bayi sampai sekarang.
" Wa'alaikumussalam. " jawab Cinta dan semua yang hadir. Cinta memeluk Ghibran dengan kasih sayang.
" Kemari nak, kamu sangat mirip dengan ayahmu. " bunda pun memeluk Ghibran.
Keluarga besar Cinta dan Muh menerima Ghibran dengan bahagia.
Gisel nampak tersenyum melihat Ghibran diterima dengan suka cita.
" Kapan nak Gisel akan berangkat nak? " tanya ayah.
" Besok pagi ayah. Maafkan saya sudah menyusahkan. Setelah menikah, saya akan ikut suami menetap disana. Saya mohon agar bu Asih tetap mengasuh Ghibran, mengenai salary nya, nanti saya transfer setiap bulan ke rekening bu Asih. Mengenai nafkah untuk Ghibran, akan saya kirim langsung ke rekening Ghibran. Ini bukunya saya titip kepada mu ya Cin" jawab Gisel dan ia menyerahkan buku tabungan Ghibran kepada Cinta.
" Apakah kamu tidak akan menemui Ghibran lagi Gisel? Bagaimana dengan Ghibran?" tanya Cinta dengan wajah bingung.
__ADS_1
" Ghibran bisa video call dan menelponku. Handhphonenya ada sama bu Asih. Ghibran sudah mengerti."
" Saya mohon pamit, karena masih mau menyelesaikan berkas yang mau dibawa.."
" Bolehkah bunda bertanya pada mu?" tanya bunda
" Silahkan bu. "
" Apakah kamu sayang pada Ghibran ? Apakah kamu tidak bersedih meninggalkan Ghibran bersama kami ?"
" Saya menyayanginya ibu. Sedih juga. Tapi saya percaya keluarga ini bisa menerima Ghibran dan membahagiakannya. Maaf Cinta, boleh saya bicara sama Ghibran dan Muh ?"
" Silahkan. Nanti saya panggil Ghibrannya. " Cinta memanggil Ghibran dan memberikan kesempatan pada Gisel untuk berbicara bertiga dengan Muh.
" Silahkan kalian berbicara di ruangan keluarga. Kami semua akan menunggu kalian di kebun belakang. " jawab Cinta dengan tenang.
Alhamdulillah akhirnya Cinta mengajak keluarga besar ke ruang makan.
****
Gisel pun pamit. Ghibran menatap ibunya, ia memeluk dengan erat.
" Mommy, I Love You." Hanya itu kata yang diucapkan Ghibran. Ia memeluk Gisel.
" Love you too, jagoan mommy. Baik- baik disini, jangan nakal ya. Nurut sama bu Asih. Kalau rindu telpon mommy ya. Gisel memeluk dan menciumi pipi Ghibran.
" Mommy jangan sedih, abang akan jadi anak baik dan sayang terus sama mommy juga bu asih."
" Mommy pamit ya sayang. "
" Bu Asih, saya titip Ghibran. "
Gisel melepas pelukan Ghibran. Ia masuk ke mobil tanpa menoleh ke belakang.
Gisel mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Muh.
****
Keluarga Muh dan Cinta merawat Ghibran dengan baik. Mereka hidup bahagia.
__ADS_1
Begitu juga Gisel, akhirnya keluarga suaminya bisa menerima Ghibran