
Setelah berbelanja Muh dan Ambar pun berangkat menuju rumah Ambar di daerah XXXXXXXX. Muh mengenakan pakaian casual yang menambah ketampanannya. Ambar pun mengenakan pakaian yang sama namun terkesan seksi. Apalagi Ambar memiliki tubuh yang padat dan berisi, kulit putih susu dengan rambut kepirang-pirangan, hidung mancung, bibir seksi menambah pesona dirinya. Para pria akan terpesona menatapnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mereka pun sampai di rumah Ambar.
Rumah yang besar dan mewah, halaman yang luas nan asri, di seberang jalan nampak area persawahan yang rapi dan sejuk dipandang mata. Suasana ini membuat Muh merasa nyaman.
Ambar memegang tangan Muh, dan mengajak Muh ke rumahnya. Setelah beberapa kali menekan bel namun tak ada juga yang membuka pintu, Ambar mengeluarkan kunci di dalam tasnya.
Ambar mengajak Muh masuk dan duduk di kursi tamu. Ambar menelpon seseorang.
" Bik kami sudah sampai, kenapa tidak ada yang membukakan pintu. Bibi segera kemari sekarang jangan lupa bawakan minuman dan makanan ringan." Ambar menutup panggilannya.
Suasana rumah tidak terlalu ramai seperti yang Muh bayangkan. Seorang wanita separuh baya menyambut mereka dengan ramah.
" Selamat sore non, maaf bibi tidak membukakan pintu buat non dan aden. Bibi sedang bersih-bersih di gedung belakang. " Ibu tersebut sedikit membungkukkan punggungnya. Ia meletakkan minuman dan makanan k
" Semua pada kemana bi, kok sepi sekali?l
" Tuan dan Nyonya bersama abangnya non, pergi ke rumahnya Om Alex sejak kemarin non. Kamar non dan aden sudah disiapkan."
" Barang-barangnya mau dibawa ke kamar sekarang atau nanti non. "
" Bawa sekarang lah bi. Tas warna coklat dan silver bawa ke kamar kak Muh. Tas warna biru dan pink itu ke kamar saya. "
Bibi pun segera melaksanakan perintah Ambar.
" Tas saya gag usah bi, nanti saya bawa sendiri saja. Bibi bisa kan mengantarkan saya ke kamar. " Muh beranjak dari duduknya dan melepaskan tangan Ambar.
" Boleh kan dek Kakak ke kamar sekarang. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan kakak mau mandi dan istirahat sebentar. Nanti adek call kakak kalau mau pergi." Muh membawa tasnya dan berjalan mengikuti langkah bibi.
Ambar pun mengikuti Muh, ia melangkah dengan sedikit kesal.
" Ini kamarnya den, dan ini kamarnya non Ambar. "
Bibi membuka kamar Ambar dan meletakkan tas dan barang-barangnya dengan rapi.
Muh masuk ke kamarnya, Ambar pun ikut masuk ke kamar Muh. Ia berbaring di tempat tidur di kamar Muh tanpa sungkan. Tempat tidurnya cukup besar dan empuk.
" Dek kenap masuk ke kamar kakak? Gag enak dilihat bibi. Apalagi kalau dilihat orangtua dan abangnya. "
" Biasa saja kak, abang Ferdi dan mbak Mery juga biasa kok ngobrol berdua dikamar. Udah lah kak jangan terlalu kuno dan fanatik, adek gag suka."
" Kakak ingin istirahat, sebaiknya adek ke kamar adek. Bukan masalah fanatik atau kuno sayang, tapi kakak takut nanti kita melakukan kekhilafan. "
" Kiss dulu dong.." Ambar tersenyum nakal.
Muh duduk di tempat tidur di dekat Ambar. Ambar menarik tangan Muh. Ambar begitu agresif membuat Muh yang tadinya berusaha menahan godaan, akhirnya khilaf juga.
Namun Muh selalu berusaha menahan nafsunya jangan sampai ke arah yang terlalu jauh. Muh melepas pelukan Ambar.
" Adek cukup ya.. Kalau adek tidak berhenti, kakak akan kembali ke Palembang sekarang juga"
" aahhhh kakak, selalu saja nanggung kayak gini. Sebel. "
Ambar menutup kancing kemejanya yang sudah terbuka semuanya. Ia keluar dari kamar Muh, ia membanting pintu kamar dengan kuat.
"Astaghfirullah, ampuni aku Ya Allah. "
__ADS_1
Muh masuk ke kamar mandi, ia membersihkan dirinya. Ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Dzuhur yang sudah hampir habis waktunya.
Setelah itu, ia menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Muh menyetel alarm pukul 5.00 Ia pun tertidur dengan lelap.
****
Hari ini Ambar dan Eca mengisi waktunya dengan mencuci pakaian di tempat cuci. Mereka ikut bergabung dengan santri lainnya.
" Ca setelah ini kita ke wartel yuk. Aku kangen sama ummi dan abi."
" Iya, aku juga mau nelpon ayah sama ibu. Biasaaaaa minta kirim paket 😄😄😄"
" Semoga wartelnya sepi hari ini, jadi kita gag perlu antri terlalu lama."
" Aamiin. "
" Ayo Ca buruan cuci bajunya, aku sudah selesai nih. Sini aku bantuin bilasnya."
Cinta pun membantu Eca menyelesaikan cucian pakaiannya.
1 jam kemudian, Eca dan Cinta sudah antri di bagian depan.
Cinta menelpon umminya, tapi tak dijawab. Ia mencoba beberapa kali, namun tetap tak dijawab juga.
Ia terdiam, akhirnya ia menelpon bunda. Dengan harapan bunda mengetahui keberadaan umminya.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam. Ini Cinta kan ?"
" Iya bun, apa kabar bun? "
" Ayah mana bun?"
" Ayah mu dinas ke luar kota, makanya Adek mu Aul yang menemani bunda disini. "
" Tadi Cinta nelpon ummi, tapi gag diangkat. Beberapa kali Cinta telpon masih tetap gag diangkat. "
" Mungkin masih dijalan nak. Coba nanti kamu telpon lagi. Cin, kamu punya teman yang namanya Ambar gag?"
" Gag ada bun, bukankah Ambar itu sepupunya abang Muh dan Rangga?"
" Sepupu? Saudara sepupunya Rangga sama Muh gag ada yang namanya Ambar. Apalagi sudah kuliah. Sepupunya Muh dan Rangga masih sekolah SMA dan SMP semua. Bahkan yang TK dan belum sekolahpun ada. "
" Yang bilang sepupu itu siapa nak? " Bunda mulai curiga.
" Abang yang bilang. Saat Cinta nelpon abang salah panggil nama. Kirain abang yang nelpon Ambar, gag taunya Cinta. Kata abang Ambar itu adik sepupunya." Cinta menjelaskan ke bunda.
" Maaf bun, Cinta mau nelpon ummi. Semoga ummi sudah sampai dirumah. Aamiin. "
" Iya iya nak... " Bunda terkejut mendengar penjelasan Cinta.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam."
Bunda terdiam, firasatnya selama ini benar bahwa Muh berbohong.
__ADS_1
***
Sementara itu, tepat pukul 5 Muh terbangun dari tidurnya. Ia segera mandi dan shalat Ashar.
Muh membuka pintu kamarnya, ia berjalan ke arah dapur. Ia melihat Ambar sedang asyik menelpon, ia duduk santai di tepi kolam renang.
Muh melangkah ke sana, Ambar melihat bayangan Muh dari kaca. Ia segera mengakhiri telponnya.
Muh ikut duduk di tepi kokam renang, kakinya sengaja menyentuh air. Muh merasa segar.
" Untung Muh gag denger percakapanku dengan Roy." Ambar tersenyum lega.
" Kamu sudah bangun sayang?" tanya Ambar.
"Ya, telpon dari siapa? "
" Biasa dari Novi"
" Bapak sama ibu belum pulang? " Tanya Muh.
" Belum, tadi abang sama mbak Mery pulang terus pergi lagi. "
" Kita kapan mau ke rumah Om Alex, katanya keluarga adek sudah kumpul semua."
" Sebentar lagi ayah sama ibu pulang, habis maghrib kita perginya bareng sama mereka."
" Adek coba pake baju yang gag terlalu terbuka gitu, nanti kalau dilihat orang lain gimana? "
" Adek dandan keg gini cuma di depan kakak. Emang kenapa kak? "
" Kakak laki-laki normal, nanti kalau kakak khilaf lagi gimana?Kita baru kuliah tingkat 1, cari duit saja belum bisa. "
Ambar duduk di dekat Muh, ia menyandarkan kepalanya di dada Muh.
" Kalau khilaf juga gag apalah, kita bisa buka usaha. Modalnya kita minta saja sama orangtua kita. Selesaikan." Ambar mulai mengeluarkan godaan-godaannya.
Muh berusaha untuk tidak terpancing dengan godaan Ambar. Melihat Muh berusah menahan diri, ia langsung menarik Muh ke dalam kolam.
Muh terkejut, ia berusaha untuk naik kembali. Ambar dengan cepat menarik Muh dan memeluknya. Ambar begitu pintar dan cerdas membuat Muh tak berdaya.
Muh khilaf untuk kesekian kalinya, mereka berenang cukup lama. Kolam renang menjadi saksi bisu, melihat perbuatan yang dilakukan mereka.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari kolam. Pakaian Ambar dan Muh sudah tidak karuan.
" Kamu memang nakal dek, untung abang masih bisa menahannya. " Muh merapikan pakaiannya. Ambar tersenyum penuh makna.
Ambar dan Cinta kembali ke kamarnya masing-masing. Mereka mandi dan berganti pakaian. Muh mulai berubah.
" Ambar kau memang benar-benar nakal. " Muh kembali mengingat adegan demi adegan yang terjadi di kolam renang. Ia tersenyum-senyum sendiri.
Muh tak sadar ia meletakkan hpnya di meja dekat kolam renang. Ambar yang masih berada disana, mengambil hp tersebut dan membawa ke kamarnya. Ia meletakkan hp Muh di atas meja belajarnya. Ia mandi dan bersiap-siap ke rumah Om Alex.
Terlalu lama menunggu Ambar, Muh tertidur dan lupa mengunci pintu kamarnya. Tanpa Muh sadari, Ambar masuk dan berbaring disebelahnya.
Baru saja Ambar membaringkan tubuhnya, suara handhpone Muh yang di letakkan Ambar di meja berdering.
Tertulis kontak BUNDA
__ADS_1
###
Gimana cerita selanjutnya, tunggu episode berikutnya.