
Rahel adalah seorang mahasiswa disalah satu perguruan tinggi yang ternama di pulau Borneo. Dia adalah tipe pemuda yang biasa-biasa saja dikalangan teman sebayanya, namun sebenarnya rahel adalah tipe cowok yang suka bercanda, homoris, mampu menghidupkan suasana dan yang tidak kalah penting dia adalah tipe cowok yang suka memberi serta berbagi dari kekurangannya, dia juga tipe cowok yang penyanyang. Itulah sedikit gambaran tentang hidup rahel.
Singkat cerita, hari demi hari terus berganti, rahel masih terlena dengan hidupnya yang selalu happy dan senang-senang saja, layaknya seorang pria sejati yang tidak pernah bersedih walaupun pahit kehidupan terkadang mencoba menghampirinya, namun satu persatu terus dilewatinya, Walaupun mungkin, salah satu dari rasa kehidupan terlalu susah untuk digambarkan dengan lukisan ataupun rangkaian kata mutiara, tapi itulah rahel seorang pemuda yang mempunyai keperibadian yang tegar, pantang baginya seorang pria untuk terhanyut dan terbawa arus kehidupan yang penuh penghayatan.
Suatu ketika pendirian rahel sedikit demi sedikit mulai berubah, seakan dia telah berjalan ke arah yang sesat walaupun jalan tersebut sudah benar menurutnya. Dia mulai kehilangan jati dirinya, satu per satu imannya mulai goyah, sebab dia mulai membagi iman yang dimilikinya dengan iman yang lain, yang mungkin mengusiknya. Dia sudah tidak melakukan apa yang semestinya imanya lakukan serta tidak juga menjalankan apa yang iman lain tawarkan. Hidupnya mulai kacau hanyut dalam kebingungan seolah berjalan dengan pikiran yang hampa, tak tau arah mana yang akan ditujunya.
Waktu terus berputar dan malam juga terus berganti, rahel masih berperang melawan kebingungan dalam dirinya, sampai waktunya pada suatu malam rahel bermimpi bertemu seorang kakek tua yang asing baginya.
“rahel, apakah kamu tau siapa aku?” Dengan nada yang datar dan santai.
__ADS_1
“saya belum pernah bertemu dengan kakek sebelumnya, sambil menggelengkan kepalanya. Memangnya kakek siapa?” tanya rahel, kok tau nama saya?
sambil menarik napas yang panjang lalu tertawa “hahahahaha dunia ini sempit rahel”
“apanya yang lucu kek, kok tertawa, bukannya menjawab pertanyaan saya?” Celoteh rahel
“iya lucu aja, saya kenal kamu, tapi kamu bilang tidak kenal saya, ini apakah duniamu terlalu luas atau pengetahuanmu yang sangat sempit” kata kakek tua tersebut sambil tersenyum
“baiklah jika kamu belum mengenalku, maka aku akan memberitahumu siapa aku, dan dari mana asalku”.
__ADS_1
“ya langsung saja kalau begitu” kata rahel dengan wajah yang cemberut
“Sebenarnya aku adalah sifat dari padamu, sebab aku hadir karena khayalanmu yang sesat dari rasa bingung yang kau perbuat”, Jelas kakek tersebut.
“maksud kakek apa? Saya kurang paham, apa yang kakek bicarakan” ucap rahel, dengan mata yang melotot ke arah kakek tersebut
“suatu saat nanti kamu akan paham, apa yang saya maksud, dan pada saat itu saya akan datang lagi untuk membawa terang bagimu, yaitu ketika kamu sudah menemukan sepercik cahaya dalam terang, pada saat itu juga saya akan membawa cahaya tersebut ke tempat yang gelap, supaya cahaya bisa berfungsi sebagai mana mestinya, Jelas kakek tersebut. Ingat rahel hanya satu pesanku untukmu, bingungmu tercipta karena perasaan gelisah dari hatimu sendiri, dan cahaya yang kau bawakan di tempat yang terang tidak bisa berfungsi sebagai mana mestinya sebab cahaya akan nampak jika di bawa ketempat yang gelap”, kata kakek tersebut dengan nada yang bersenggaung
Rahel masih bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya, pada saat itu pula pandangan rahel mulai kabur dan napasnyanya mulai terasa sesak, dan 1, 2, 3 doooorrrr kepala rahel terjatuh ke lantai, dan ketika itu pula dia tersadar ternyata dia hanya mimpi.
__ADS_1
Setelah kejadian yang dialaminya dalam mimpi tersebut, sedikit demi sedikit rahel mulai mengerti apa maksud dari mimpinya beberapa saat yang lalu, dan Kini hidup rahel berjalan normal seperti biasa lagi, sebab dia sudah paham tentang maksud dari mimpinya.
Rasa bingung tercipta karena perbuatan hati yang tidak menetap, begitu pula dengan iman dan kepercayaannya, mereka tidak akan pernah tampak jika hanya dibandingkan dengan iman dan kepercayaan lain, sebab iman dan kepercayaan seseorang tidak akan berkembang jika orang yang mempunyai iman tersebut masih tidak percaya tentang iman dan kepercayaan yang dimilikinya. Seperti halnya dengan nafas yang kita miliki, dia tidak akan mengalir jika kehidupan tidak lagi berpihak atas dirinya.