
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, akhirnya mereka sampai juga di rumah Pak de Sugito. Rumah yang megah, dikelilingi taman yang asri membuat mata sejuk memandangnya.
Selain itu, sejauh mata memandang hamparan sawah menghijau menambah pesona keindahan alamnya.
Mereka disambut oleh pakde Sugito beserta istrinya. Semua merasa bahagia karena sudah lama sekali tidak berjumpa kurang lebih 8 tahun.
" Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. "
" Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulilllah, lama sekali kita tidak bertemu. Aku bahagia hari ini kita bisa bertemu kembali." Ayah dan pak de Sugito saling berpelukan satu sama lain.
" Oalah mbak yu.. Lama sekali kita gag ketemu, kamu masih terlihat tambah cantik saja. Apa sih resepnya."
Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan obrolan-obrolan ringan disertai dengan tawa candanya.
Bu sugito meminta asisten rumah tangganya untuk membawa koper dan bawaan lainnnya ke kamar masing-masing.
" Kita ngobrolnya di ruang keluarga saja. Lebih asyik sambil mencicipi makanan-makanan ringan yang sudah disiapkan. "
" Oh iya, kenalkan ini namanya Cinta dan ini Aul. Mereka anak ummi dan abi yang aku ceritakan kemarin. "
Cinta dan Aul bersalaman dengan pak de dan bu de Sugiti.
" Kalian cantik dan baik. Pingin deh jodohin kalian dengan anak bu de. Tapi sekarang ia sedang berdinas di Bandung. ..."
Belum selesai bu de berpromosi tentang anaknya, Rangga sudah memotong pembicaraan
" Maaf bu de. Bolehkah kami istirahat sebentar. Pinggang rasanya mau patah nih."
" Boleh, nanti bude panggil mbok Jum untuk mengantar kalian. Mbok Jum , tolong antarkan abang dan adek ke kamar ya."
Rangga dan Muh satu kamar, sedangkan Cinta dan Aul juga satu kamar. Kamar mereka bersebelahan.
Muh lebih dulu masuk ke kamar, sedangkan Rangga masih berdiri.di depan kamar.
" Kalau mau makan malam, jangan lupa bangunin aku ya sayang. " Rangga mulai menjahili Cinta dan Aul.
" Bye bye. 😘"
Cinta dan Aul segera masuk ke kamar, dan meninggalkan Rangga yang masih sibuk berpetuah di depan pintu.
" Rangga kamu mau mandi sekarang atau nanti?"
" Nanti saja bang, aku mau baring sebentar. "
" Istirahatlah, abang mau mandi. "
Rangga membaringkan tubuhnya, ia menelpon seseorang.
" Rencana kita berhasil, ingat jangan mikirin tawaran bu de Sugito ya sayang. Kamu gag boleh mikirin laki-laki manapun kecuali hanya memikirkan mamas Rangga mu yang ganteng ini.
" Iya, mas..kamu juga ya gag usah melarak melirik sana sini. "
"iyaaa tuan putri yang cantik. Mas Rangga mandi dulu ya dek. Kamu jangan nakal. "
" iya maaaasss, atau mau mandi bareng???"
__ADS_1
Rangga terus berbicara dengan mesra sama seseorang yang ia telpon hampir 30 menit. Rangga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan dan menyimak pembicaraan mereka.
" Mungkinkah Rangga menelpon Cinta dengan semesra itu?" batin Muh.
Tak berapa lama kemudian Rangga menyadari bahwa ada Muh yang memperhatikannya.
" Cinta sayang, kita percepat saja ya pernikahannya."
Muh terlihat kesal mendengar percakapan Rangga.
" Dek, mandi dulu sana. Sebentar lagi maghrib. "
" Sayang, mas mandi dulu ya. Bye honey."
Rangga mengakhiri percakapannya. Muh keluar kamar, ia merasa bosan di kamar.
Muh memainkan hpnya dan tanpa sengaja Muh menabrak seseorang. Muh segera berbalik melihat ke arah orang yang telah ia tabrak.
" Cin... ta..maaf abang tidak sengaja menabrakmu. " Muh sangat gugup tangannya gemetar dan hatinya berdebar-debar kencang.
" Adek yang minta maaf, karena tidak melihat kalau abang keluar kamar" Cinta tersenyum dan terlihat tenang.
" Dek, apakah adek benar-benar sudah mantap untuk menikah ?"
" Maksud abang?"
" Abang mencintaimu dek. Tolong beri abang kesempatan untuk memperbaiki diri. Menikahlah dengan abang, abang mohon. "
Cinta tidak menjawab perkataan Muh, ia berjalan menuruni anak tangga.
Setelah makan malam. Muh berbaring di sofa depan kamarnya. Ia melihat bunda keluar dari kamar, menuju kamar Cinta.
Tok tok tok
" Cintaaaaa, sudah siap belum kita mau mengambil pakaian seragam untuk panitia besok. "
" Iya bun, Cinta sudah siap kok. "
Cinta melihat Muh sedang berbaring di sofa.
" Cinta pergi ya kak,. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam. Emang ngambil pakaian seragamnya jauh bun?"
" Lumayan jauh sih, kenapa bang?"
" Abang boleh ikut gag? Suntuk bun di rumah saja, mana sepi pula."
" Boleh banget bang, kebetulan kita gag ada yang nyopirin. Ayolah kita berangkat sekarang, nanti kemalaman."
Ibarat pepatah " Pucuk di cinta, Ulam pun tiba. " Muh merasa bahagia karena bisa pergi bersama Cinta.
" Cinta kamu duduk depan saja nak, bunda ingin berbaring di belakang. Kasian juga lihat Muh gag ada teman ngobrol karena rumahnya lumayan jauh."
" Iya bun. "
__ADS_1
Muh membukakan pintu untuk bunda, kemudian membukakan pintu untuk Cinta.
" Terimakasih bang."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, menembus kegelapan malam.
Cinta merasa serba salah, bingung mau omong apa.
" Bunda mau tidur sebentar, kalau sudah sampai tolong bangunkan ya nak. Bunda lelah sekali."
" Iya bun. " Jawab Muh dan Cinta secara bersamaan.
" Kalian ini selalu kompak. " Bunda tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian, bunda terlelap.
" Dek, andai kita berdua berjodoh. Apakah kamu akan menerima abang kembali?" Tanya Muh.
" Insya Allah."
" Bagaimana Rangga? Abang perhatikan ia selalu bersama Aul. Kemana-mana berdua, apakah kamu tidak cemburu?"
" Mengapa harus cemburu? Namanya jodoh kita tidak bisa menebaknya. Semua rahasia Allah. Abang sendiri bagaimana? Kenapa tidak bersama mbak Citra?"
Muh lama terdiam, ia bingung mah menjelaskannya dari mana.
" Abang bingung mau jelasinnya. Kalaupun abang jujur menceritakannya, apakah kamu mempercayainya?"
Muh menghela nafasnya, ia berusaha untuk tetap tenang. Walaupun jantungnya berpacu dalam gelap dan dinginnya malam bersama Cinta disampingnya.
" Abang akan menjelaskannya, tapi tidak sekarang. Abang lagi nyetir, nanti abang gag fokus. "
" Abang juga ingin adek memberikan sedikit sarannya. Jujur abang pun tak bisa menentukan sikap. Masalahnya cukup rumit. "
Cinta hanya diam tak menanggapi perkataan Muh.
" Adek maukan mendengarkan keluh kesah abang?"
" Insya Allah."
" Nanti malam kita ngobrol di gazebo rumah om Sugito saja. Abang akan menceritakan semuanya. Saat ini abang butuh orang yang tepat untuk membantu abang. "
" Abang telpon saja. Adek takut akan ada fitnah nantinya. "
" Baiklah. Nanti malam abang telpon."
" Kalau adek mengantuk tidur saja."
" Abang tidak apa-apa kan, kalau adek tertidur. "
Muh menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum menatap Cinta.
Tak lama kemudian, Cinta menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil. Ia pun tertidur.
" Cinta, semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk bersatu kembali." Muh berkata lirih seraya memandangi wajah Cinta.
__ADS_1
Muh mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia menyetir sambil bershalawat untuk menghilangkan rasa sepi selain itu agar ia tak diserang rasa kantuk.