
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, Muh telah sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke rumah dan mencari orang tuanya.
Ia melihat ayah dan bundanya sedang duduk di teras.
" Assalamu'alaikum" Muh mengucapkan salam dan menyalami kedua orangtuanya.
" Wa'alaikumussalam." Jawab bunda dan ayah.
Muh duduk di sebelah ayah. Kedua orangtuanya diam menunggu Muh untuk menceritakan sendiri kesalahan yang ia lakukan.
" Bersihkanlah badanmu, gantilah pakaianmu terlebih dulu. Kami menunggu mu di meja makan. " Ayah membuka percakapan.
" Baiklah Yah. Muh izin ke kamar. "
" Iya nak. " jawab ayah singkat.
Muh merasa serba salah, ia melangkah dengan gontai menuju kamarnya. Ia tampak letih setelah melakukan perjalanan yang melelahkan.
Muh bersiap-siap dan langsung menemui kedua orangtuanya. Mereka sudah menunggu untuk makan bersama.
" Maaf ayah, bunda Muh agak lama."
" Tidak apa nak, mari kita makan." ajak bunda.
Muh merasa heran, suasana dingin tanpa ada tawa dan canda sedikitpun dari orangtuanya membuat Muh merasa sangat takut dan tegang. Tidak seperti biasanya mereka seperti itu.
" Setelah makan kita kumpul di ruang keluarga, ada hal penting yang ingin kami bicarakan padamu selaku anak sulung di keluarga ini."
Darah Muh mengalir dingin, wajahnya mulai tegang, hatinya dag dig dug tak karuan. Baru kali ini ia merasakan hal seperti ini.
__ADS_1
Muh melangkahkan kakinya ke ruang keluarga. Ia melihat orangtuanya sedang berbicara serius.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam, duduklah Muh." jawab Ayah dan Bunda bersamaan.
" Tolong kamu jelaskan dengan jujur siapa Ambar?" Ayah menanyakan langsung ke inti masalah yang selama ini membuat Muh tega membohongi mereka.
" Ambar itu..... " Muh berpikir cukup lama.
" Lebih baik kamu jujur nak, dari pada berbohong. Berbohong terus menerus hanya akan membuat dirimu tidak tenang dan tertekan. " Ayah mencoba membujuk Muh agar jujur.
" Kami tidak pernah mengajarkanmu berbohong. Ingat Muh, jujur itu terkadang menyakitkan, namun berbohong itu akan membuat penyakit bagi dirimu sendiri. Sekali kamu berbohong, akan melahirkan bohong-bohong lainnya. Akhirnya kamu akan terus berbohong hanya untuk menutupi kesalahan mu."
Perkataan bunda membuat Muh makin di kejar rasa bersalah dan berdosa.
Muh tertunduk, ia terisak. Bunda mendekati Muh.
" Ambar adalah kekasih abang😞 kami sudah menjadi kekasih kurang lebih 5 bulan. Maafkan abang ayah, bunda. " Muh menundukkan kepalanya.
" Bagaimana hubunganmu dengan Cinta? Apakah kamu sudah mengatakan pada Cinta, mengenai hubungan mu dengan Ambar? Selain itu, apakah kamu juga sudah jujur kepada Ambar bahwa kamu akan bertunangan disaat Cinta pulang nanti?" Bunda terus memberondong Muh dengan pertanyaan yang membuat Muh terdiam.
" Abang belum mengatakannya kepada Ambar maupun Cinta. Muh belum bisa menjelaskannya, karena Muh menyayangi mereka berdua."
" Kamu harus memilih nak, kamu tidak bisa menjalani dua hubungan dengan dua perempuan sekaligus. Bagaimana kalau keluarga Cinta mengetahuinya? Hubungan keluarga kita sudah sangat baik, janganlah merusaknya. Sekarang kamu pilih Cinta atau Ambar. " Ayah berkata dengan tegas kepada Muh.
" Ingat nak, apa pun keputusan mu kami akan menerimanya dengan ikhlas. Kami akan membantumu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Cinta. Percayalah, awalnya mungkin mereka akan kecewa pada mu. Namun, Insya Allah dengan seiring waktu mereka akan bisa menerimanya. Sekarang, silahkan kamu tentukan pilihanmu. Malam ini, sehabis shalat maghrib kami menunggu keputusanmu. Kami tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi." Ayah dan bunda pun meninggalkan Muh sendiri di ruang keluarga. Muh terdiam, hatinya merasa bimbang untuk menentukan pilihan.
Akhirnya, Muh pun kembali ke kamarnya. Ia masih menginginkan Cinta dan Ambar.
__ADS_1
Muh berbaring di tempat tidur, ia menatap langit-langit kamar. Wajah Ambar dan Cinta silih berganti tergambar di pelupuk matanya. Muh pun tertidur.
***
Cinta dan Eca mengikuti kegiatan pramuka. Saat ini mereka mengadakan kegiatan perkemahan. Waktu istirahat, cuaca cukup panas mereka banyak bersantai di bawah pohon rindang.
" Cin, seandainya abang Muh mempunyai kekasih baru di Palembang. Bagaimana kamu menyikapinya?" tanya Eca.
" Pertanyaan yang sulit dijawab. Aku tak mau munafik, perasaan sedih itu pastilah. Namun, Insya Allah aku akan menyikapinya dengan sabar dan berusaha untuk mengikhlaskan. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu Ca?"
" Entahlah, aku mencoba menelaah cerita-ceritamu tentang perempuan bernama Ambar. Tapi mendengar jawabanmu dalam menyikapinya, aku menjadi lebih tenang. Aku percaya kamu pasti bisa mengatasinya dengan bijaksana." Eca pun tersenyum, kekhawatirannya akan Cinta pun lenyap sudah.
****
Setelah shalat maghrib, Muh menemui kedua orangtuanya. Ia duduk disebelah bunda.
" Bagaimana bang, apa keputusanmu.
" Bismillahirrohmanirrohim. Maafkan abang bunda ayah." Muh hanya menunduk, ia tak berani menatap mata keduaoramgtuanya.
" Abang tak bisa memilih Cinta, abang memilih Ambar.abang membutuhkan Ambar sebagai penyemangat, dan selalu bisa mendampingi abang.
Andai abang bisa selalu dekat dengan Cinta mungkin abang tidak akan berpaling. Salah Cinta juga kenapa harus mondok diluar kota. " Akhirnya Muh memberikan argumen dan mengambil keputusan."
" Jangan menyalahkan orang lain, Cinta mondok jauh sebelum bertemu kamu. Jangan egois nak. " jawab bunda
" Terimakasih atas kejujuranmu. Besok sore ajak Ambar kemari. Ayah dan bunda ingin berkenalan dengannya. Insya Allah, hari Rabu Kami akan membicarakannya ke kedua orang Cinta, dan meminta maaf kepada mereka."
Ayah dan bunda meninggalkan ruangan keluarga. Bunda berbalik melihat Muh.
__ADS_1
" Ingat Muh, Jangan pernah menyesali keputusan mu hari ini."
" Setelah malam ini. Jangan menghubungi Cinta lagi, dan jangan membohongi Cinta lagi."!