
hari yang sudah mulai larut, mata Niken yang sudah tidak bisa berkompromi lagi terasa berat dia rasakan. tanda mengajaknya untuk terpejam, Novak yang melihat gelagat Niken yang sudah mengantuk dia pun mengajaknya untuk pulang.
"Nike, matamu sudah memerah, ayo kita kembali. " ujarnya sambil memeluk Niken dari belakang.
Niken tertegun, walaupun dia sudah mendapatkan pelukan yang kesekian kalinya dari kekasihnya itu, tetap saja dia merasa terkejut.
badannya menjadi kaku sesaat setelah badannya berada di pelukan Novak. dia masih belum bisa mengontrol emosi nya yang tidak karuan setiap Novak memeluknya dengan lembut.
"k~atanya mau pulang? besok banyak sekali pekerjaan ku! " gumam Niken sambil mencoba melepaskan badannya dari pelukan Novak.
Novak tersenyum puas, karena merasakan kegugupan dari tingkah Niken.
"sikap nya ini terlalu polos, benar-benar sangat menggemaskan! gumam Novak dalam hati nya sambil tetap mempererat pelukannya di badan Niken, Niken yang berusaha melepaskan diri dari pelukan sang kekasih hanya terpaksa pasrah dan memegang tangan Novak yang menempel di perutnya dengan kuat.
"biarkan seperti ini sejenak! " bisik Novak.
Niken yang mendengar bisikan dari Novak terdengar juga hembusan napas Novak yang membuat badannya semakin kaku dan menegang, membuat dadanya berdekup tidak karuan.
lagi sedang asik dengan keindahan keduanya, suara handphone milik Niken bergetar.
"aku harus mengangkat ponsel ku! " ujar Niken sambil melirik tasnya yang berada di kursi tempat Novak tadi duduk..
"heemmm. biarkan saja mereka bukan siapa-siapa! ujar Novak yang pasti beranggapan bukan dari orang tua Niken, karena sebelumnya Ken pasti sudah memberi tahu Simon dan Merryssa bahwa putrinya sedang bersama diri-Nya.
" bagai mana kalo itu dari orang tua ku? " jawab Niken.
"lihat saja pasti bukan! " ujarnya penuh keyakinan.
Niken membuka tas nya dan mencari keberadaan ponselnya di dalam tas tersebut. betul saja no yang tidak di kenal tertulis di layar ponselnya.
"siapa? " tanya Novak penasaran.
Niken hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap Novak.
"tidak usah di jawab! " ujar Novak sambil menghampiri Niken dan meraih ponsel tersebut.
"Mike! " seru Novak yang mengenal jelas no handphone tersebut.
__ADS_1
"Mike? " tanya Niken yang heran.
"Iyah, Mike, angkatlah. apa mau nya bocah tengik itu! " ujar Novak yang sedikit kesal, dari mana Mike mengetahui no ponsel Niken. karena Novak tau, sebelum mengganti no ponsel milik Mike dia tidak pernah memasuki no siapapun kecuali no nya sendiri, semua itu dia lakukan untuk kebaikan adiknya supaya dia serius belajar di sana.
"tidak! biarkan saja aku tidak mau mengangkat nya! " jawab Niken kesal, dia teringat terakhir kali dia bertemu dengan Mike yang menuduhnya berlaku tidak baik kepada nya.
"dia tidak tau apa-apa tentang diriku! " dia sudah menuduh ku terbalik! " seharusnya kamu membenci perlakuan sarah bukan diriku? " gumam Niken dalam hatinya. di sisi lain dia merasa sakit karena Mike tidak mempercayai dirinya, tapi di sisi lain dia harus melakukan semua itu seolah-olah benar terjadi agar supaya Mike tidak lagi mempunyai perasaan terhadap dirinya.
"akan lebih baik seperti itu! " ucapnya pelan, membuat Novak mengerinyitkan kedua alisnya karena mendengar ucapan pelan dari mulut Niken.
"syukurlah dia memang seharusnya seperti ini! " gumam Novak. yang dia mengira Niken tidak mau mengangkat panggilan dari Mike karena menghargai dirinya yang berada di situ.
"ini berlaku juga untuk pria lain!, kamu jangan berani mengangkat panggilan dari orang asing di hadapanku, terkhusus untuk para pria! " ujar Novak.
"apa! " bagai mana bisa? " jawab Niken yang bingung bagai mana mungkin dia tidak boleh mengangkat panggilan dari seorang pria, bagai mana dengan rekan rekan lain, hampir semua pria. pikirnya.
"untuk apa ada Rissa? " jawab Novak lagi membuat Niken teringat dengan Rissa saat ini.
"ooh Iyah, Ngomong-ngomong soal Rissa, bagai mana apa dia sudah menyelesaikan tugas nya? " kenapa dia belum menghubungi ku? " ujar nya sambil ingin menekan tombol ponsel nya bermaksud ingin menghubungi Rissa.
"sudah biarkan saja. " dia bersama Ken. " ucap Novak sambil merebut ponsel milik Niken.
***
di sisi lain persekongkolan di antara sarah Anderson dan seorang pria yang berbicara di dalam apartemen miliknya tidak bisa di tolak oleh Sarah.
pria itu sekarang sedang melancarkan aksinya di rumah sakit di mana Romi di rawat.
pria tersebut mencoba menyelinap ke kamar rawat Romi dan melepaskan selang dari hidung Romi!
dia pun memotong selang infus nya, yang membuat napas dari Romi tersendat-sendat naik turun.
"matilah kamu! " karena dengan ini kamu tidak akan bersuara lagi! gumam pria di dalam kamar rawat Romi.
entah bagai mana dia bisa berhasil masuk ruangan tersebut tanpa di curigai oleh Felicya yang berjaga di depan kamar rawat Romi.
detik kemudian, Rissa sampai di depan kamar rawat Romi, dia melihat Felicya dengan setia menunggu kekasihnya duduk di luar ruangan tersebut.
__ADS_1
"Nona! " kenapa anda duduk di sini? " tanya Rissa heran.
"saya habis mencari udara segar di luar nona. " lagian tadi ada dokter yang mengecek keadaannya! " jawab Felicya yang langsung berdiri setelah melihat Rissa di hadapannya.
"bagai mana keadaan nya? " tanya Rissa yang menatap ke ruangan lewat jendela pintu yang terdapat di ruang rawat Romi.
betapa terkejutnya Rissa melihat napas Romi yang terpenggal penggal di atas ranjang tanpa mengenakan selang pembantu pernapasan di hidungnya.
Felicya yang baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan dokter yang memasuki ruangan Romi tadi.
"kemana dokter tadi! " seru Felicya sambil mengikuti langkah Rissa yang menghampiri Romi di atas ranjang.
Rissa beberapa kali dia menekan tombol di atas ranjang Romi untuk memanggil dokter yang jaga pada malam itu.
"dokter, dokter, suster! " Felicya yang panik melihat keadaan Romi dia berlari keluar kamar rawat Romi di lorong tersebut dia berusaha sekuat tenaga berteriak memanggil dokter atau suster.
Rissa mengembalikan selang pernapasan di hidung Romi. "!
tidak berapa lama kemudian dokter dan suster sudah berlarian ke kamar tersebut, napas dari Romi masih tersendat naik turun tidak beraturan.
" keluarlah kami perlu memeriksanya! " ujar dokter tersebut, kepada Rissa dan Felicya.
"suster nyalakan pengejut! " ujar dokter tersebut.
"biak dok! " jawab suster tersebut sambil menyalakan mesin pengejut.
"naikan! '
" tidak berhasil! "
"naikan! "
sayang di sayangkan monitor di komputer menandakan tanda vital di tubuh Romi yang melemah, dan akhirnya napas terakhir dari Romi pun berakhir.
dokter terkulai lemas, "kita sudah berusaha! " ujar nya sambil menutup kain putih menyelimuti wajah dari Romi setelah beberapa perjuangan di kerahkan dokter tersebut. tetapi nyawa dari Romi tidak tergolong lagi.
"Felicya histeris sambil berlari menghampiri badan Romi yang terbujur kaku di sana.
__ADS_1
sungguh teragis nyawa dari seorang Romi tidak bisa di selamatkan, ini akan menjadi pukulan berat untuk keluarga Simon, mereka kehilangan orang terbaik di dalam perusahaan tersebut dengan cara seperti itu.
bersambung...