Cinta

Cinta
tidak akan ada yang menganggu!


__ADS_3

Novak Shinoda mengendarai kendaraan nya sendiri, dia melintasi jalan raya yang cukup padat melewati beberapa kendaraan di samping laju kendaraannya.


dalam hatinya tidak sabar ingin menghabiskan waktu liburnya kali ini, bersama Niken.


"semoga saja kali ini tidak ada yang menganggu kami! " gumam nya dalam hati.


tidak berapa lama rumah kediaman Simon Cross sudah terlihat dari jalan raya.


di rumah tersebut Niken sudah hampir selesai bersiap, dia memakai bawahan jeans warna biru muda, dan atasan kemeja tangan pendek warna senada. badannya yang ramping dan tinggi semampai, tidak butuh banyak riasan di wajahnya rambutnya pun hanya di ikat tinggi tetapi terlihat di wajahnya memancarkan kecantikan yang alami dan sederhana.


dengan waktu yang bersamaan Niken sudah berdiri di tangga untuk menuruni tangga tersebut, mobil yang di kendarai Novak pun sampai di halaman rumah Simon.


terlihat Rissa yang sudah sigap di ruang tunggu di gedung yang berbeda di samping rumah tersebut berdiri menatap kendaraan yang di mana terdapat Novak Shinoda di dalamnya.


Rissa pun menghampiri Novak merundukan badannya memberi hormat, mantan boss nya itu sudah sangat mengenal Rissa, Novak membuka kaca mobilnya berbicara kepada Rissa yang berdiri di sampingnya.


"hari ini kamu berliburlah, karena nonamu tidak membutuhkan mu hari ini! " ujar nya sambil melihat seseorang yang keluar dari pintu utama rumah Simon.


"baik tuan! " jawab Rissa.


terlihat Niken yang keluar dari sana, kedua orang tua Niken mengikuti Niken dari belakang.


"untuk apa kedua orang tua itu mengawasi kami, apa dia juga ingin ikut! " gerutunya kesal, karena Simon dan istrinya berbisik di belakang Niken sambil menatap dirinya.


"tuan! selamat pagi! " ujar Simon.


"pagi Prof, apa kalian juga ingin ikut bersama kami? " jawab Novak sedikit meledek kedua orang tua angkat Niken.


Simon tertawa senang, karena Novak berpikir dirinya akan ikut menguntit putrinya.


"hahah! " benarkah kami boleh ikut? " ujarnya

__ADS_1


mata Novak langsung memdelik raut wajahnya tidak senang, Merryysa yang melihat kejengkelan dari sikap Novak dia mencubit pinggang suaminya lembut.


" suamiku! " sudahlah, ayo kita ke dalam."


ujarnya sambil menarik tangan Simon pelan setelah menyapa Novak. Simon pun mengikuti istrinya sambil mengeleng kepala bibirnya tersenyum senang.


Rissa membukakan pintu kendaraan untuk Niken, Niken pun duduk di samping Novak Shinoda yang memegang stir kendaraan nya.


"apa kamu akan menyetir sendiri tuan? " tanya Niken yang masih lupa masih memanggilnya dengan sebutan tuan.


Novak yang tidak menyadari ucapan Niken memganggukan kepalanya sambil menyalakan mesin mobilnya.


Simon dan istrinya menatap kendaraan Novak yang sudah memutar balik kendaraannya, Niken melambai kan tangannya kepada mereka.


"manisnya! gumam Novak yang terdengar samar oleh telinga Niken.


" tuan, apa anda berbicara kepadaku barusan? " tanya Niken lagi.


"iyah aku berbicara dengan calon istriku, yang masih tetap saja memanggil calon suaminya dengan sebutan tuan! " dasar gadis aneh! " gerutu Novak yang menjawab Niken dengan sedikit mengomel.


"maaf! " ucapnya.


karena masih ada rasa kesal dalam hati Novak, dia menginjak pedal gas dengan cukup keras sehingga kecepatan kendaraan tersebut melju dengan sangat cepat, untung saja di depan kendaraan tersebut tidak ada kendaraan lain.


"Hati-hati! " teriak Niken sambil memegang pegangan di samping pintu mobil.


"maaf," jawab Novak dia pun hampir tidak menyadarinya menginjak pedal gas begitu keras.


Niken memegang pundak Novak, sambil berkata, " aku menyesal! " ujarnya merasa bersalah karena dirinya terus memanggil Novak Shinoda dengan sebutan Tuan.


"heem, jika kamu terus berkata seperti itu, nanti orang-orang berpikir kamu berjalan dengan majikan mu! " jawab Novak menjelaskan supaya Niken mengerti, bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


"Iyah sayang! " ujar Niken membuat mata Novak terbelalak dan tiba-tiba juga dia menepikan kendaraannya di sisi jalan karena terkejut dengan panggilan Niken, pikirnya sangat menggemaskan.


"apa, sekali lagi kamu tadi bilang apa? " ujarnya yang menginginkan Niken memanggil namanya dengan sebutan sayang.


"apa aku salah lagi! " pikir Niken sambil menatap mata Novak penasaran.


"aku ingin dengar sekali lagi tadi bilang apa? " ujar Novak ingin memastikan sekali lagi dengan apa yang di dengarnya.


"tidak! bukan apa-apa," jawab Niken kesal.


Novak pun tersenyum senang, memang kata itu yang dia harapkan dari calon istrinya.


dia pun meneruskan perjalanan nya menuju sebuah tempat yang tidak asing untuk Niken.


"jalan ini menuju? " ujar Niken sambil sedikit mengingat-ingat jalanan yang di lalui mereka.


"Iyah, ke villa tempo hari sewaktu kamu pingsan di dalam hutan Pinus sana! " jawab Novak sambil meledek Niken.


Niken pun mengerucut kan bibirnya kesal karena Novak mengingatkan kebodohannya waktu itu, yang tidak membaca plang peringatan di hutan tersebut sehingga dia harus tersesat dan pingsan karena terjatuh ke tebing.


"jika saja waktu itu aku tidak melihat mu berjalan ke sana, mungkin yang menemukan mu bukan aku tetapi binatang buas! " ujar Novak kembali, dia sengaja membuat Niken takut agar supaya dia tidak mengulangi kesalahan tersebut.


bulu kuduk Niken pun bergidik membayangkan binatang buas, untung saja yang waktu itu dia lihat hanya seekor ular kalo tidak mungkin dia sudah lenyap pikirnya.


"apa kita di sana cuman berdua? " tanya Niken mengalihkan pembicaraan.


"heemm, memang kenapa? " tanya Novak balik.


"heeemmm! kalo begitu kita harus membeli bahan makanan. " jawab Niken.


"tidak perlu, apa ada yang mau kamu beli? " biar nanti suruh seseorang membeli sesuatu yang kamu butuhkan. " ujar Novak.

__ADS_1


"siapa yang mau kamu suruh, dia bilang tadi kita cuman berdua! " gumam Niken dalam hatinya yang merasa heran karena perkataan calon suaminya itu.


bersambung..


__ADS_2