
Muh terbangun pukul 3.00, ia duduk di sisi tempat tidur sebelum melaksanakan shalat tahajjud.
" Yaa Allah mengapa aku terus menerus bermimpi tentang Cinta. Bantu hamba Yaa Rabb."
Setelah melaksanakan shalat tahajjud, Muh membaca Al Qur'an sampai adzan subuh berkumandang. Ia pun melanjutkan ibadah shalat subuh.
" Aabaaaang, aadeeeek ayo turun kita sarapan dulu.
Muh segera bergegas menuju meja makan, ia sangat lapar. Kemudian Rangga pun mengiring di belakang Muh.
" Abang, semalam nelpon Cinta ya ??" Rangga bertanya ke Muh.
" Nggak kok. Emang kenapa? Tumben nih kepoin abangnya"
" Semalam suara abang terdengar sampai ke kamar ku."
" Gag mungkinlah. Bohong yaaa... Kamu nyadap hp abang ya????
ππππππ
Rangga berlalu meninggalkan Muh yang masih terdiam bingung dari mana Rangga tahu kalau Muh menelpon Cinta.
" Apa mungkin Cinta yang cerita ke Rangga ya???"
" Abang setelah sarapan nanti segera bersiap. Kita perginya dipercepat, karena keluarga calon istrimu sudah tidak sabar bertemu dengan anak bunda yang ganteng ini. π"
" Tolonglah bun, jangan buat abang makin gugup. "
" Tenang bang, ayah akan memegang tanganmu. Ayah jamin kamu bakalan termehek-mehek bertemu calonmu nanti. Ya gag dek."
" Asli banget yah. Adek sudah gag sabar menanti detik-detik abang pingsan melihat calonnyaπππ"
Drtttt drtttt drttttt
Ayah segera mengangkat telponnya dan menjauh dari meja makan. Bunda pun mengikuti ayah.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam, bagaimana persiapan disana, apakah sudah siap semua.?"
" Alhamdulillah, tinggal menunggu calon besan saja. Apakah Muh baik-baik saja? "
" Alhamdulillah baik. jam 8 Insya Allah kami berangkat dari sini."
" Oke, kami mau melanjutkan persiapannya. Terimakasih. Wassalamu' alaikum."
" Wa'alaikumussalam."
Keluarga Muh pun melanjutkan sarapan paginya.
" Sekarang kalian segeralah bersiap, jam 8 kita berangkat. Rangga disana nanti jangan aneh-aneh ya. Jangan buat malu ayah sama bunda."
" Iya ayah, siap!"ππ
Tepat pukul 8 pagi mereka pun berangkat. Banyak sekali buah tangan yang dibawa bunda..
" Masya Allah, kenapa kita membawa bawaan sebanyak ini bun??? Abang belum nikahan kan??
***
Tepat pukul 8.00 WIB, perjalanan pun dimulai.
Hanya Allah dan Muh yang tahu betapa gugupnya Muh. Muh hanya diam tak bicara, berjuta tanya berkecamuk dalam hati dan fikirannya.
" Kenapa jalannya ke arah rumah Cinta??? Apakah rumahnya berdekatan dengan rumah Cinta?" Wajah Muh terlihat bingung.
" Ayah, mengapa kita ke arah rumah Cinta? " tanya Muh. Muh terlihat sangat tegang sekali.
" Berdasarkan MAP jalannya memang ke arah ini. " jawab ayah dengan santainya.
" Ooooh" Jawab Muh menanggapi perkataan ayah.
__ADS_1
Muh mulai berfikir keras, karena ia merasa banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi.
" Apakah aku mau dijodohkan dengan adiknya Cinta. Oh My God..... Bagaimana ini? Aul orangnya .....Semoga bukan Aul. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin." Batin Muh.
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah yang cukup besar berseberangan dengan rumah Cinta.
Muh merasa lega, tetapi ia heran menatap ke arah rumah Cinta yang terkunci dan terlihat seperti tak berpenghuni.
" Apakah Cinta ke luar kota?? Atau jangan-jangan mereka pindah rumah?"
"Bun, kenapa rumah Cinta begitu sepi?" tanya Muh.
" Mana bunda tahu bang. Ayo kita sudah sampai, kamu mau turun gag? "
" Sudahlah gag usah mikirin Cinta lagi, sekarang kita masuk ke dalam. Cinta dan keluarganya pasti diundang juga, kan tetanggaan." Ayah memegang tangan Muh dan mengajaknya ke rumah calonnya Muh.
" Iya, ayah." Muh berjalan mengikuti ayahnya. Matanya melihat berkeliling mencari Cinta dan keluarganya. Tapi sia-sia.
" Bang, cincin dan kotak perhiasan yang mau diberikan ke calon istri mu mana?" tanya bunda.
" Ada bun, tadi dibawa Rangga. "
" Alhamdulillah, tapi Rangganya mana ya???" tanya bunda. Bunda pun mencari Rangga ke arah rumah.
Bunda melihat Rangga membawa 2 buah kotak perhiasan berwarna pink dan biru.
" Kamu dari mana sih dek,? Bunda cariin kamu. Ayolah kita pergi berkumpul disana, ayah dan abang mu sudah menunggu disana."
" Iya bunda ku sayang, sabaar. Tadi adek ke toilet dulu. Kebelet bun."
" Kamu dan abang mu sama saja. Sama- sama gugup dan tegang semua. ππo""
Bunda dan Rangga berjalan santai menuju Arah ayah dan Muh berada.
" Bun, apa abang tidak curiga ya?"
__ADS_1
" πππ Alhamdulillah masih aman deek. Sebenarnya kasihan juga sih sama abang mu itu, tapi kalau gag diginiin dia gag bakalan kapok,-kapok.
" Bunda dari mana sih, kok lama sekali, ayolah kita masuk."