Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
air mata Sheril


__ADS_3

"Sheril Mehrunnisa! Kamu sudah mencoreng nama baik kampus ini! kamu sebagai mahasiswa berprestasi, tapi tidak memiliki moral sama sekali! Kelakuan mu sangat memalukan siswa berpestasi," Kemarahan Dekan membuat Sheril berlinang air mata. Hatinya bagai di iris belati.


"Pak, tolong dengarkan penjelasan saya ... " mohon Sheril bertekuk lutut dalam tangisnya.


"Apa pun penjelasan kamu, tidak akan mengubah keadaan mu Sheril! Sekarang kamu keluar dari kampus ini, dan saya sudah memutuskan, mencabut seluruh fasilitas yang kami berikan, kamu sudah di keluarkan di kampus ini secara tidak hormat,"


ujar Dekan sambil melempar sebuah map biru di depan Sheril.


"Pak, tolonglah ... dengarkan saya,"


"Saya tidak ingin mendengar penjelasan dari mu, sekarang keluarlah dari ruangan saya," ucap Dekan langsung memotong ucapan Sheril.


Dengan pilu Sheril keluar dari ruangan Dekan. Perasaannya hancur berkeping keping. Ia tidak tau harus melangkahkan kakinya kemana.


Saat keluar, Mira dan kawan-kawan sudah menunggu di luar, termasuk Elian juga ada di sana. Ia menghawatirkan sahabatnya.


"Sheril, kenapa kamu menangis? Apa yang di katakan Dekan?" Tanya Elian penasaran.


"Sudah di pastikan kalau perempuan murahan ini sudah di keluarkan dari kampus ini, iyakan Sheril?" Ucap Mira. Mira dan teman-temannya menatap sinis kearah Sheril.


"Saya juga tidak menyangka, ternyata pacar seorang Raffi menjual diri di luaran sana, dan hasilnya hamil," ujar sahabatnya Mira yang bernama yesi menimpali.


"Tutup mulut mu Yesi! Sahabatku tidak seperti yang kalian kira! Aku tau betul dia!" Ujar Elian membela Sheril. Sementara Sheril hanya diam saja. Ia menikmati setiap cacian dan hinaan mereka.


"Tau betul apa? Buktinya dia hamil," ha-ha-ha ....


Mereka tertawa terbahak-bahak menertawakan penderitaan Sheril.


"Mungkin saja dia hamil anaknya Raffi. Hey perempuan m*****n, sudah berapa kali Raffi menyentuh tubuhmu?" Ujar Yesi seraya membusungkan dadanya.


"Apa yang kalian bicarakan!" Ujar Raffi yang tiba-tiba saja muncul dari belakang. Matanya menyala menatap Sheril yang menundukkan wajahnya. Posisi Sheril menghadap kearah Raffi, hingga Raffi bisa langsung menatap Sheril. Sementara yang lainya membelakangi Raffi.


Mereka langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Raffi tentu saja sudah mendengar apa yang di ucapkan Yesi barusan. Pandangan Raffi tertuju pada Yesi. Kemudian ia melangkahkan kakinya dan mendekati Yesi. Yesi melangkah mundur, jantungnya seakan mau loncat keluar.


"Apa yang kamu katakan barusan," ujar Raffi sinis.


"Maaf Raffi s-saya tidak mengatakan apa pun," ucap Yesi gugup.


Raffi langsung mencengkram dagu Yesi dengan kuat.


"A-ah Raffi sakit, l-lepaskan ... " ujar Yesi merasa sakit.


"Katakan sekali lagi apa yang kamu katakan barusan!" Ucap Raffi dingin.


"Raffi. K-kamu sudah mendengarnya, kan?" Ujar Yesi ketakutan.


"Saya ingin mendengarnya sekali lagi dari mulut busuk mu ini," ujar Raffi menggertakkan giginya.


"T-tapi Raffi ... "


"Cepat katakan!" Ujar Raffi yang sudah meluapkan emosinya.


"I-iya. T-tadi saya bilang, mungkin Sheril hamil anak kamu, karena pacarnya adalah kamu," ujar Yesi gemetar. Tubuhnya menggigil menahan ketakutannya pada Raffi.


Raffi kembali mencengkram rambut Yesi dengan kuat.


"Jaga ucapan mu itu, atau saya akan merobek mulutmu sekarang juga," ujar Raffi merah padam menatap Yesi.


"Sudah-sudah, Raffi tidak mungkin menghamili Sheril, aku yakin itu," ucap Mira membela Raffi. Ia sengaja mencari perhatian dari Raffi.

__ADS_1


"Jadi, kira-kira Sheril itu hamil anaknya siapa ya?" Ujar Mira memancing tindakan Raffi.


"Yang jelas, saya tidak pernah menghamili perempuan munafik ini, saya tidak menyangka kalau kamu yang kelihatan polos ini ternyata menjual diri di luaran sana," ucap Raffi sinis.


Sheril tidak terima mendengar ucapan Raffi seperti itu.


Plak ....


Sebuah tamparan hangat melayang di pipi Raffi. Raffi langsung marah, matanya menatap tajam kearah Sheril, dadanya kelihatan naik turun menahan emosi.


"Saya tekankan pada kalian semua, saya tidak pernah menjual diri saya, cukup kalian menghina ku!" Ucap Sheril dengan isak tangisnya.


"Beraninya kamu menyentuh ku dengan tangan kotor mu itu!" Bentak Raffi pada Sheril. Tangannya mengepal erat di bawah sana.


Elian melihat Raffi yang sangat marah. Ia langsung menarik tangan Sheril, ia takut Raffi akan berbuat kasar dengan sahabatnya.


"Cukup Raffi! Sheril terlalu menderita mendapatkan masalah ini, dan jangan kamu tambahkan lagi penderitaannya!" Pungkas Elian pada Raffi.


"Jangan ikut campur dengan urusan saya!" Ucap Raffi menatap tajam kearah Elian.


"Tentu saja saya akan ikut campur, dia sahabat ku, tentu saja urusannya menjadi urusanku juga," ujar Elian tidak ingin kalah.


Raffi mendorong tubuh Elian hingga tubuhnya bergeser kesamping. Raffi menatap tajam kearah Sheril.


"Mulai dari sekarang, kamu jangan menampakkan wajahmu di depanku lagi. Jangan pernah mengenalku sebagai pacarmu,"


Raffi menatap mata Sheril yang sudah sembap karena menangis. Tubuh Raffi seakan mendapatkan pukulan yang begitu keras, hatinya sakit, dadanya bergetar hebat saat mengatakan ucapan perpisahan itu.


Sheril tidak menjawab ucapan Raffi, ia hanya menatap Raffi dengan perasaan bersalah. Air matanya kembali membasahi wajah cantiknya.


Sheril berlari meninggalkan meninggalkan teman-temannya.


"Sheril ...! Tunggu ... " ujar Elian mengejar Sheril. Sheril berlari dengan tangisannya, perasaanya hancur, Raffi yang selama ini selalu mendukungnya, kini sudah membencinya.


Elian langsung memeluk sahabatnya dengan erat.


"Elian ... hiks-hiks-hiks, aku harus bagaimana, aku sudah di keluarkan dari kampus ini," isak Sheril.


"Apa! Jadi benar kamu di keluarkan dari kampus ini?" Ucap Elian tidak percaya.


"Tidak itu saja Elian, fasilitas ku semua sudah di cabut, aku harus kemana, hiks-hiks-hiks ..., " tangis Sheril begitu memilukan Elian.


Elian ikut menangis, ia merasakan apa yang sahabatnya rasakan saat ini.


"Tenangkan dirimu Sheril, pasti ada sesuatu kebahagiaan di balik ini semua," Elian berusaha menenangkan sahabatnya.


"Ayo kita pergi dari sini," ujar Elian. Ia menarik tangan sahabatnya masuk kedalam mobilnya. Elian langsung meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Didalam mobil, Sheril hanya bisa menangis. Ia memikirkan masa depannya. Bagaimana ia bisa melahirkan anak tanpa suami, bagaimana reaksi nenek dan kakeknya jika ia tau tentang masalah ini.


Sheril tampak mengelus perutnya yang masih datar. Ia tidak tau siapa ayah dari bayi yang ia kandung.


"Sheril ..., " ucap Elian seraya menepikan mobilnya.


"Apa tidak sebaiknya kita mencari orang yang sudah menodai mu malam itu?" Ucap Elian membuat Sheril menoleh kearahnya.


Sheril langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Untuk apa Elian," ujar Sheril serak.

__ADS_1


"Ya setidaknya orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada mu Sheril," ujar Elian.


Sheril menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Itu tidak mungkin Elian, kemana kita harus mencarinya, sementara kita tidak mengenalnya dan tidak tau keberadaannya di mana."


Elian tampak memikirkan sesuatu, yang dikatakan Sheril benar. Mereka tidak mungkin bisa menemukan laki-laki itu tanpa identitasnya.


"Rencana mu bagaimana setelah ini," ucap Elian menatap Sheril.


Sheril kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mungkin menggugurkan bayi ini Elian, dia tidak berdosa, dan dia juga berhak melihat dunia," ujar Sheril sambil mengelus perut datarnya.


"Jadi kamu akan melahirkan janin itu," ujar Elian yang langsung di anggukkin oleh Sheril.


"Kamu benar, bayimu tidak bersalah," ujar Elian.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan," ujar Elian tampak memikirkan sesuatu.


"Aku ngk tau Elian, mau pulang kampung aku malu, apa kata orang nanti. Nenek dan Kakek ku pasti akan shock mendengar kabar buruk ini," ujar Sheril.


Ia kembali menangis mengingat kedua orang tua yang begitu menyayanginya. Nenek dan kakeknya pasti akan sangat kecewa dengan Sheril.


Elian mengelus pundak Sheril, ia berusaha menenangkan sahabatnya.


"Secepatnya aku akan mencari kost-kosan, antarkan aku ke apartemen sekarang ya," ujar Sheril menghapus air matanya.


"Sheril, bagaimana kalu kamu tinggal di rumahku saja, kamu tidak perlu mencari kost-kosan," ujar Elian lagi.


"Sampai kapan aku akan tinggal bersama mu Elian, cepat atau lambat aku akan mencari kosan juga," ucap Sheril datar.


"Ya sampai kamu bosan," ujar Elian.


Sheril tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya itu. Elian tapak senang melihat sahabatnya mulai tersenyum lagi.


Elian memutar setir mobilnya kearah apartemen Sheril. Setelah sampai di halaman apartemen, tampak orang-orang menatap sinis kearah Sheril. Sheril tidak mengerti dengan sikap mereka. Elian dan Sheril langsung menuju ke apartemennya.


Sesampainya di depan apartemen. Sheril langsung tertegun setelah melihat barang-barang miliknya sudah berada di luar.


"Sheril, ini barang-barang kamu, kan?" Ujar Elian melebarkan matanya, ia menatap tumpukan barang-barang yang sedikit berantakan tertumpuk di sudut ruangan dekat pintu apartemen itu.


"Iya, ini milik ku," ujar Sheril. Ia langsung memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas, Elian langsung membantunya.


Ceklek ....


Seseorang membuka pintu apartemen yang berada di sebelah apartemen Sheril.


Elian dan Sheril langsung menoleh.


"Orang rendahan seperti kamu itu memang tidak pantas tinggal di apartemen ini," ucap tetangga Sheril. Ucapan itu sangat menyakitkan bagi Sheril. Tapi Sheril berusaha tenang.


"Ayo cepat Sheril, kita pergi dari sini, sepertinya memang tidak akan ada orang yang akan mengerti apa yang kamu rasakan saat ini," ujar Elian.


Elian dan Sheril langsung meninggalkan apartemen itu. Tatapan mata menghujam langkah mereka. Ada pula yang menyindir dan menghujatnya dengan kasar. Elian ingin membalas cacian pedas dari mereka, tapi Sheril menghalanginya.


"Tidak perlu melayani mereka, ayo cepat kita tinggalkan tempat ini," ujar Sheril menarik tangan Elian.


"Tapi Sheril, mereka menghinamu!" Ujar Elian geram.


"Dia sudah mengotori apartemen ini, sudah sepantasnya dia pergi," ujar salah seorang tersenyum kecut pada Sheril.


Sheril hanya berusaha sabar mendapatkan hinaan itu. Ia cepat-cepat masuk kedalam mobil milik Elian.

__ADS_1


ikuti terus ceritanya ya.


jangan lupa vote, like dan komen agar Author semangat untuk berkarya.


__ADS_2