Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
123


__ADS_3

Setelah membuka pintu, Sheril terpaku melihat Zian basah kuyup. Dia menyapanya dari atas sampai ke bawah.


"Ada apa? kenapa basah seperti ini dan ...."


"Di luar hujan deras, tak ada payung. jadi tadi aku berlari menempuh hujan."


Sheril merasa bersalah dan kasihan. Dia mengambil plastik yang di bawa Zian.


"Masuklah, aku akan menyiapkan air hangat untuk mu." Dia berlalu meletakkan plastik makanan itu, lalu berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya.


Setelah itu mereka makan bersama. Sheril tampak malu-malu mengingat bagaimana dirinya saat Zian memperlakukannya saat bercinta tadi. Zian tampak menggigil, dan Sheri meliriknya.


Setelah selesai makan, mereka duduk di sofa sambil menonton berita dunia. Zian menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi. Sheril mendadak jantungan. Dadanya kembali bergetar. Mau apa dia? Apa masih menginginkannya?


"Kamu kenapa?"


Zian menatapnya dengan cermat.


"Tidak. Aku tidak kenapa-napa."


Sheril meremas ujung bajunya, dia tidak berani membalas tatapan Zian, pipinya merah karena malu.


Zian tiba-tiba tersenyum dan membawa kepala Sheril dalam pelukannya.


"Kamu lucu sekali, kenapa harus seperti itu padaku? Aku ini suami kamu?"


"Em ...." Sheril menatap Zian dengan kaku, lalu menundukkan wajahnya kembali.


"Besok aku ada rapat penting. Mungkin tidak ada waktu menemani mu jalan-jalan, karena sore besok aku akan mengantarmu kembali. Tidak apa-apa, kan?"


Sheril meliriknya sebentar, lalu mengangguk dengan cepat.


Zian memegang tangga Sheril dengan erat, lalu mencium keningnya.


"Aku akan ke luar negeri setelah mengantar mu pulang, ada proyek di sana. Kamu baik-baik di rumah, dan jaga anak kita." Zian mengelus perutnya dan memberikan ciuman hangat pada bayi di dalam perutnya.


Keluar negeri?


"Berapa lama?" Sheril menundukkan wajahnya.


Zian mengelus rambut Sheril dengan lembut.


"Lama sayang. Itu proyek besar."

__ADS_1


Sheril menatap Zian dengan tampilan wajah sedih, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Namun Zian melihatnya.


"Kamu jangan khwatir, aku akan sering menghubungi mu."


"Tapi bagaimana aku tinggal di sana tanpa kamu, aku takut ...."


Zian menempelkan bibirnya di bibir Sheril, hingga dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


"Tidak akan terjadi apa-apa padamu di sana. Setelah pulang nanti, kamu pindah ke kamar atas, aku sudah mempersiapkan satu kamar untuk kita."


Kamar?


Pindah ke atas?


Zian melihat ada keraguan di mata Sheril, lalu dia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Kamar itu bukan kamar yang aku tempati bersama mamanya Aura, aku tau perasaanmu, dan aku mengerti, kamu tidak akan mau pindah ke kamar ku."


"Tapi bagaimana jika istri mu pulang, dan melihatku tinggal di sana?" Sheril tampak tidak enak hati, dan tentu saja dia memiliki perasaan yang dalam tentang itu.


"Tidak. Walupun dia pulang, dia tidak berhak mengatur hidup ku lagi, dia sudah sering kali mencampakkan ku! Dan meninggalkan Aura!" Zian tampak emosi mengatakan ini. dan Sheril melihatnya dengan jelas.


Dia terkejut mendengar kata-kata Zian barusan.


"Yang aku katakan memang kenyataan. Sebelum aku melakukan kesalahan pada mu ...." Zian terdiam sesaat.


Dia tidak ingin melanjutkan kata-katanya lagi, dia tidak ingin memburukkan nama Ririn di depan Sheril. Bagaimana pun, mereka sesama wanita. Walupun Ririn memang bersalah, tetapi itu bukan kesalahannya sepenuhnya.


Suasana menjadi tegang. Dia mematikan televisi dan memandang Sheril di sebelahnya.


Zian menghela napas beratnya.


"Kau tidak tau apa-apa tentang rumah tanggaku. Jadi harapan ku hanya kamu." Zian menatap Sheril dalam-dalam.


"Aku berharap kamu akan selalu ada di samping ku, apa pun yang terjadi. Pertahankan aku sebagai mana sikap seorang istri pada suaminya." Zian berkata dengan sangat tegas.


Mendengar kata-kata itu, Sheril mengangkat wajahnya. Menatap wajah Zian dengan sangat serius.


"Aku takut dengan gunjingan orang-orang, bukannya aku tidak mau, jelas saja mereka akan menuduhku merusak rumah tangga kalian. Padahal aku ...."


"Tidak. Tutup telinga dan mata, mereka hanya bisa bicara, mereka tidak tau yang sebenarnya. Kau jangan takut, kita akan menghadapinya secara bersama-sama."


"Tapi aku punya satu permintaan." Sheril berkata lirih dengan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa itu. Katakan."


"Kenapa aku harus tinggal di sana? Bagaimana kalau aku tinggal di apartemen yang kemarin itu saja?" Sheril berkata dengan sangat hati-hati.


"Sheril, jika tidak mau tinggal di rumah, kenapa harus tinggal di apartemen itu, aku sudah membuat rumah atas nama mu. Tapi ..., aku belum mengizinkan kamu tinggal sendirian, apa lagi dalam keadaan mu seperti ini. Aku mohon, jangan membuat aku menghawatirkan mu. Bersabarlah sampai aku menyelesaikan proyek itu."


Sheril terdiam dengan menundukkan wajahnya.


Zian menyandarkan kepalanya di atas bahunya, tangannya mengelus-elus rambut Sheril.


"Aku sangat sibuk, aku tidak sepenuhnya bisa memperhatikan mu. Kalu di rumah, ada Mama dan bibi yang akan menjaga mu."


Mama?


Bukankah Mama Zian sangat cuek?


"Mas, aku tidak perlu di jaga, aku bisa menjaga diri ku sendiri, aku tidak mau merepotkan orang lain hanya karena au hamil, dan aku ...."


"Menurut lah dan jangan keras kepala. Jangan sampai kau pergi tanpa seizin ku lagi."


Ucapnya menekankan, hingga hatinya menciut tidak berani lagi membantah, dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagus, jadilah istri yang penurut."


Author sudah update ya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tugas pembaca hanya memberi dukungan, like dan komen, memberi vote dan hadiah, juga bintang lima di penilaian. Karena tugas author sangat berat, dari pada kalian yang hanya membaca. jadi tolong saling mengerti untuk saling menyemangati. yuk mulai dari sekarang


kalian wahai para pembaca:


Wajib likeβ˜‘οΈ


klik bintang lima di penilaian β˜‘οΈ


tap love β˜‘οΈ


vote setiap akhir pekan β˜‘οΈ


komen jika ada kritik dan saranβ˜‘οΈ


dan jangan lupa follow akun author

__ADS_1


__ADS_2