
Ririn tidak tenang, ia terus saja berpikir bagaimana membongkar kebohongan suaminya. Ia merasa sudah tidak di cintai suaminya lagi. Zian sudah menghianati rumah tangganya. Perasaan nyeri bergelayut di dadanya.
Pagi ini, Ririn sengaja bangun pagi, sarapan bersama keluarga. Ia bersikap manis di depan ibu mertua, melayani kebutuhan suaminya yang tidak seperti biasa.
Di sisi lain, Sheril juga sudah bangun, setelah menunaikan ibadah, ia langsung membereskan tempat tidur, lalu pergi keluar ingin menghirup udara pagi. Sheril menyiram bunga mawar yang ada di taman belakang, meski ada pengurus kebun untuk menyiram tanaman setiap pagi, namun Sheril meminta agar dia saja yang melakukannya.
"Rasa mimpi aku memiliki rumah sebagus itu, rumah yang tidak pernah terpikir oleh ku, apakah aku pantas mendapatkannya? Bagaimana dengan istri mas Zian?" Tiba-tiba Sheril langsung mengingat istri pertama suaminya.
Rasa sesak di dada, nasib yang dialami Sheril harus seperti ini. Hampir setiap waktu Sheril memikirkan masa depan keluarnya bersama Zian. Banyak hal yang Sheril pikiran, apa lagi saat-saat tertentu, hari besar lebaran. Penting bagi Sheril berkumpul keluarga pada saat-saat seperti itu.
Namun Sheril menyadari, ia tidak akan mendapatkan tempat seperti itu, harapan berkumpul suami saat sahur, buka bersama, silaturahmi saat hari lebaran bergandengan dengan suami. Ah rasanya itu tidak mungkin. Mas Zian pasti tidak bisa melakukannya, hal seperti itu sulit bagi Zian untuk di lakukan pada Sheril. Sudah pasti Zian tidak bisa. Walaupun keinginan Zian besar pada Sheril, namun Zian sudah pasti tidak bisa melakukannya. Mata Sheril berkaca-kaca saat pikirannya terus saja melintas seperti itu.
Ingatannya kembali di masa lalu, merutuki kebodohannya waktu Zian memaksa merampas kesuciannya. Sheril menyudahi menyiram tanaman, ia duduk di bangku yang menghadap kolam renang di bawah sana, matanya sudah berembun, memikirkan keinginan yang di inginkan semua orang tidak akan terlaksana padanya. Sheril menarik napas beratnya. Sinar matahari mengenai wajahnya pagi ini, pemandangannya sangat indah di mata, menikmati matahari pagi dengan ribuan pikiran yang ada di benaknya.
Sudah dari kemarin Zian tidak menghubunginya, Sheril mencoba mengirimkan pesan, namun tidak di baca oleh Zian. Kadang Sheril ragu akan ucapan Zian, bisa-bisanya ia melupakan istrinya yang lagi hamil.
__ADS_1
Sheril mengelus perutnya yang membuncit. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Secepat ini kah? Pikir Sheril yang terus saja mengingat masa lalunya.
.
.
.
.
"Kurang ajar kamu Zian, beraninya kamu bermain di belakang ku! Ahh ...," Rahang Ririn mengeras, ia memporak-porandakan kamarnya yang kini seperti kapal pecah.
Ririn turun tergesa-gesa melalui mertuanya yang hendak naik ke atas.
"Ririn, kamu kenapa?" Tanya Serena yang tidak dihiraukannya sama sekali, ia tetap melangkah dengan tujuannya.
__ADS_1
Serena merasa ada yang janggal, ia cepat-cepat naik ke atas dan melihat kamar putra dan menantunya yang berantakan seperti kapal pecah.
Serena menggelengkan kepalanya.
"Ada apa ini? Kenapa Ririn mengacak kamarnya?" Pikiran Serena was-was, ia segera mengambil ponselnya, berniat menelpon Zian. Namun anak itu tidak mengangkat ponselnya sama sekali.
"Zian gimana sih, kok ponselnya tidak di angkat," Serena berlalu pergi menutup pintu kamar yang tidak enak di pandang mata, semua barang berhamburan di mana-mana, seprai kasur tidak lagi terpasang, semua sudah berada di lantai.
"Menantu macam apa itu, sudah seperti orang gila saja," gumam Serena menuju ke kamarnya. Berkali-kali ia menelpon Zian, juga tidak di angkat.
Ririn lngsung menuju alamat yang di kirim mata-matanya. Tadinya ia ingin ke kantor Zian, namun pikirannya berubah setelah berada di dalam mobil. Ia sudah tidak sabar ingin cepat sampai dan menjambak perempuan itu, memberi pelajaran yang setimpal pada pelakor itu. berkali-kali Ririn mencengkram setir mobilnya dengan erat. matanya menatap nyalang.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
komen ya, jangan lupa like setelah membaca. terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1