
Sudah beberapa hari Zian tidak mendapat kabar dari Sheril, anak buahnya juga tidak mendapatkan informasi apapun. Sementara Ririn, sejak kemarin ia juga belum kembali. Sama sekali ia tidak memikirkan putrinya.
Entahlah, Zian seakan membenci perempuan saat ini.
Tidak Ririn dan Sheril, semua sama saja di mata Zian. Sheril memisahkan dirinya dari bayi yang masih bersemayam di dalam rahimnya.
Sementara Ririn meninggalkan putrinya sesuka hati, ini bukanlah hal yang pertama Ririn lakukan, namun sering kali. Kali ini Zian tidak akan menyusul ataupun mencarinya seperti dulu lagi.
"Cukup. Aku tidak akan mengemis pada perempuan lagi, tidak."
"Anakku ..., aku akan merebutnya suatu saat nanti, lihat saja!" Bibirnya melengkung ke samping, terlihat senyum sinis di bibir Zian.
Zian memandang lurus, tatapan matanya tidak dapat di artikan. Zian mengeratkan giginya.
Di kantor, Zian juga bersikap dingin dan mudah marah, semua karyawan juga merasa aneh. Diam-diam mereka memperhatikan Zian.
Sekarang dia agak kurus, sangat berbeda dari sebelumnya. Iya, sekarang pimpinan kita mudah sekali marah, dengan kesalahan terkecil saja, dia sudah emosi. Ada apa dengan Tuan?
Mereka berbisik saat pak Daniel menjauhi mereka.
Dua minggu berlalu.
"Tuan ..! Tuan ..!"
Langkah Zian terhenti saat mendengar orang yang memanggil Tuan, ia sangat mengenal suara itu.
"Ada apa Heru? kenapa kamu tergesa-gesa seperti itu!" Zian bertanya tanpa menoleh ataupun melihat siapa orang yang memanggilnya barusan. Meski Zian tidak melihat wajahnya, namun dia memahami suara itu, iya tidak perlu melihatnya, dia sudah tau.
"Itu Tuan ..., "
Heru tampak terengah-engah, ia tampak menghela napasnya terlebih dahulu. Sementara Zian mengerutkan keningnya dan menoleh.
"Kenapa kau seperti di kejar hantu saja?" Zian mengernyit keheranan.
__ADS_1
"Tuan ...,"
Zian merapatkan bibirnya, kemudian menghela napas malas melihat Heru seperti itu. Kemudian ingin melangkah pergi
"Tuan, Tuan..,"
Heru menahan tanan Zian.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu mengenai Nona Sheril."
Zian terdiam, mendengar nama itu.
"Tuan, Nona Sheril bekerja di sebuah rumah makan, aku melihatnya." Heru memberikan barang bukti, dan memperlihatkan ponselnya dengan Zian. Ya, di sana ada poto Sheril yang sedang mencuci piring. Miris sekali.
Zian menatapnya tanpa ekspresi. Apa maunya perempuan ini? Kenapa ia memilih bekerja di rumah makan yang kumuh itu?
"Satu hal lagi Tuan, nona menyewa kos-kosan tidak jauh dari tempatnya bekerja." Informasi itu Zian dengarkan dengan cermat.
"Baiklah, urus dia, dan bawa padaku!" Heru langsung mengangguk dan pamit untuk melakukan tugasnya.
Dadanya sesak dan sakit, semua perempuan tidak mengindahkan kata-katanya, semua membangkang. Zian tidak menyadari kalau dirinya menjadi seseorang yang sangat egois saat ini.
Sebelumnya ia tidak ingin meninggalkan Sheril dengan alasan dia sedang mengandung anaknya. Bukankah karena mencintainya?
Ya, bisa dibilang begitu. Zian jatuh cinta padanya. Namun setelah semua rahasia terbongkar, Ririn, istri pertamanya menginginkan ia meninggalkan Sheril, namun ia menolak. Tidak ingin meninggalkan Sheril, namun juga tidak ingin menceraikan Ririn, karena memikirkan putrinya yang masih kecil.
Di rumah makan.
Perut Sheril semakin membesar, terkadang ia menyeka keringat yang membasahi pelipisnya, sambil mencuci piring, kadang-kadang ia memegangi pinggangnya yang berasa pegal.
"Hey .., jika kamu tidak kuat lagi bekerja, kamu bisa berhenti, mana bisa orang hamil bisa leluasa bekerja!" Kata-kata itu membuat Sheril menoleh, dia adalah pengurus rumah makan ini.
"Saya masih kuat kok tante." Sheril berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Emang siapa yang menerimanya bekerja disini?" Tanya salah seorang karyawan bagian mengantar pesanan pelanggan.
"Nyonya, katanya hanya kasihan, siapa tau bisa di andalkan. Tapi kalau saya lihat pekerjaannya lambat sekali."
Kedua perempuan itu terus saja mengobrol di samping Sheril yang sedang mencuci piring.
"Emang suaminya kemana? kok di biarkan bekerja dalam keadaan hamil begini?"
Perempuan yang tadinya menegur Sheril tampak mencebikkan bibirnya.
"Mana saya tau, Barang kali anak yang ia kandung adalah anak haram." Mereka kemudian tertawa, lalu menatap sinis ke arah Sheril.
Mendengar kedua perempuan itu mengatakan anaknya adalah anak haram. Sheril berhenti sejenak mencuci piring.
"Maaf tante, mbk. Seorang anak itu tidak ada yang haram, mereka tidak salah," Sheril tersenyum, berusaha membenarkan ucapan mereka.
"Berani juga kamu! Asal kamu tau, anak haram itu adalah anak yang tidak memiliki ayah!" seseorang yang lebih muda dari tate satunya itu tampak kesal. Seakan ia ingin memberi pelajaran kepada Sheril. Tetapi, tante itu mencegahnya.
"Jangan. Jangan membuat keributan di sini."
"Oke, awas saja kamu nanti."
Sheril terdiam, ia tidak berkata-kata lagi. Ada apa? Kenapa mereka marah?
Ngk masalah, anak ku mempunyai ayah yang jelas kok. Tiba-tiba Sheril teringat Zian suaminya. Bayangan wajah yang tampan itu terlintas di pelupuk matanya. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa merindukannya.
Mata Sheril mulai berkabut, namun dengan cepat ia menyekanya, setelah mendengar langkah kaki mendekatinya.
Penasaran?
Tunggu kisah selanjutnya ya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa untuk terus mendukung karya author ini, agar cepat berkembang.