Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
ranjang yang sempit


__ADS_3

Pernikahan Sheril dan Denis batal, Denis dan Sheril menjadi bahan pembicaraan orang-orang kampung.


Bagi yang tau, mereka tidak mengatakan apapun tentang Sheril dan Denis, bagi yang awam, mereka menerka-nerka kenapa keluarga Sheril membatalkan rencana pernikahannya dengan Denis.


Malam pun tiba, orang-orang sudah berdatangan menuju kediaman kakek Samit. Kakek Samit sengaja mengundang tetangga desanya, agar ia bisa mengumumkan pernikahan cucunya yang sudah terlaksana beberapa bulan lalu, agar mereka tidak lagi mencemooh cucunya.


Tetangga desa sudah berkumpul, kediaman kakek Samit tampak ramai dengan tamu undangannya.


Sheril dan Zian juga sudah duduk di antara tamu undangan. Zian tampak canggung dengan adat desa seperti ini. Semua mata tertuju ke arahnya. Zian menundukkan wajahnya, ia merasa risih dengan tatapan orang-orang itu.


Sementara tokoh masyarakat mulai menyampaikan maksud kakek Samit mengundang mereka. Tampak orang-orang berbisik-bisik, ada pula yang terang terangan memuji Zian dan Sheril.


"Mereka berdua memang serasi, Sheril sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti dia," ujar salah satu dari mereka.


Zian tampak senang mendengar pujian dari mereka, ia tidak merasa canggung lagi, bahkan ia sangat bangga mendapatkan Sheril.


Setelah selesai acara doa dan makan makan, tamu undangan mulai sepi, satu persatu pamit dan meninggalkan kediaman kakek Samit. Teman sekaligus bodyguard Zian juga sudah kembali ke kamar tamu, sementara Zian dan Sheril masih tampak ngobrol dengan tetangganya yang masih belum pulang.


Setelah semuanya pulang, Zian dan Sheril tampak sudah masuk kedalam kamar. Sheril tampak lelah, namun tidak dengan Zian. Dada Sheril langsung berdetak kencang saat Zian memeluknya dari belakang. Sheril tau maksud Zian.


"Sayang, aku sangat merindukan kamu," bisik Zian di telinga Sheril. Sheril merinding mendengar bisikan Zian yang menggelitik pendengarannya.


Zian mencium pucuk kepala Sheril. Kemudian merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang kecil milik sheril. Sheril malu di tatap Zian seperti itu. Wajahnya sudah bersemu bak kepiting rebus.


Zian mulai menyalurkan keinginannya dengan sangat hati-hati, Sheril pun tidak menolaknya sama sekali.


Zian meraba perut Sheril yang mulai menonjol, lalu ia menciumnya penuh kasih sayang. Zian dan Sheril belum melakukan malam pertamanya walaupun pernikahan mereka sudah di laksanakan beberapa minggu lalu. Tapi malam ini, Zian tidak akan menunda-nunda keinginannya lagi.


Setelah selesai melakukan ritualnya, Zian memeluk Sheril dengan erat di ranjang yang kecil dan sempit itu.


Zian merasa hidupnya sangat bahagia sekarang, perasaan seperti ini tidak pernah di rasakan sebelumnya, walau pun dia sangat mencintai istri pertamanya, tapi hidupnya terasa hambar.


"Sayang, aku tidak pernah merasa sebahagia ini, aku sangat menyayangimu,"


Cup ....


Zian mengecup kening istrinya, lalu kembali memeluknya dengan erat.


"Uh, tangan mu sangat berat sekali, aku tidak bisa bergerak, bisakah kamu geser sedikit saja," ujar Sheril.


"Mau gimana lagi sayang, salahkan tempat tidur mu yang terlalu sempit," ucap Zian.


Brakk ....


Tiba-tiba Zian jatuh kelantai bersama selimut tebalnya yang menggulung tubuhnya, untung tempat tidurnya tidak terlalu tinggi.


Sheril langsung melebarkan matanya ia langsung terkekeh melihat suaminya jatuh kelantai.


"Aduh ... " Zian meringis pura-pura kesakitan.


"Kamu bukannya bantuin malah menertawakan," ucap Zian mendengus kesal.


Sheril langsung bangkit dari tidurnya.


"Maaf, dimana yang sakit," ujar Sheril sambil memijat punggung Zian.


"Bukan di situ yang sakit," ujar Zian.

__ADS_1


Sheril mengalihkan pijatannya ke tempat lain.


"Sakitnya tu di sini," ujar Zian memegangi pinggangnya. Sheril langsung memijat pinggang Zian dengan lembut.


"Bukan di situ," ujar Zian.


"Lalu dimana yang sakit?" Tanya Sheril bingung. Zian sengaja mengerjai Sheril seperti itu.


"Disini," ujar Zian menunjuk pundaknya.


"Tadi sudah ku pijat katanya bukan di sini," Sheril mulai kesal, ia memijat pundak suaminya kembali.


"Memijatnya tu dari depan bukan dari belakang," ujar Zian mulai melancarkan aksinya.


Sheril pun menuruti keinginan suaminya, ia tidak tau Kalu itu, hanyalah siasat Zian yang licik.


Zia menatap penuh wajah cantik istrinya. Sheril merasa canggung saat Zian tidak berkedip memandang wajahnya.


"Jangan mandangin aku seperti itu," ujar Sheril melirik Zian.


Zian langsung memeluk istrinya dan m******t bibir seksi istrinya dengan lembut. Sheril memukul dada Zian, "dasar laki-laki mesum, ini hanya akal akalan kamu saja, kan?" Ujar Sheril melototkan matanya.


Zian tersenyum tipis mendengar celotehan istrinya.


"Mulai sekarang jangan panggil aku kamu lagi, ngk enak di dengar sayang," ujar Zian. Posisi Zian memangku Sheril.


"Trus apa," tanya Sheril.


"Terserah kamu saja, yang penting enak di dengar dan kamu juga nyaman memanggil sebutan suami kamu," ujar Zian mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Em ... " Sheril memikirkan panggilan apa yang pantas untuk suaminya.


"Aku belum tua kok, umurku juga masih sangat muda, di bandingkan dengan kakek kamu itu, hanya kamu yang bilang aku tua," ujar Zian mendengus kesal di katakan tua oleh Sheril, ini yang kedua kalinya sheril mengatainya tua.


Sheril terkekeh dalam pangkuan Zian.


"Sekali-kali panggil sayang gitu," ujar Zian.


Sheril mendongakkan kepalanya menatap Zian, lalu ia tersenyum tipis.


"Iya sayang," ucap Sheril sambil tersipu. Zian sangat gemas melihat tingkah istrinya seperti itu.


"Kita tidur di lantai saja, agar kamu merasa luas," ujar Zian.


Sheril menurut saja, mereka menggelar tikar dan kasur di lantai. Zian pun leluasa memeluk istrinya.


"Mas, aku ngantuk sekali, kamu apa ngk capek?" Ujar Sheril dengan suara seraknya.


"Aku tidak capek sayang, kamu tidur saja, biar mas yang kerja," ujar Zian meluncurkan aksinya kembali. Zian sangat konyol, mana bisa tidur dalam keadaan seperti itu.


Entah berapa kali saja Zian melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Sheril sangat kelelahan, ia langsung memejamkan matanya sampai pagi pun tiba.


Zian dan Sheril baru saja terbangun setelah mendengar pintunya di ketuk dari luar. Zian jadi malas bangun, cuacanya sangat dingin sekali. Ia masih ingin memeluk istrinya. Namun Sheril harus bangun dan membuka pintu kamarnya. Itu pasti neneknya, Sheril tau betul.


"Nenek, ada apa?" Ujar Sheril dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kalian belum bangun? Nenek sudah menyiapkan sarapan, kita akan sarapan bersama," ujar nenek Mala.

__ADS_1


"Iya Nek, Sheril mandi dahulu," ujar Sheril bergegas masuk mengambil handuk, kemudian ia langsung keluar, karena kamar mandinya ada di dekat dapur.


Setelah itu Sheril membangunkan suaminya. Ia menatap wajah suaminya dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Kamu sangat tampan dalam keadaan seperti ini," gumam Sheri sambil mengelus pipi suaminya.


Zian mendesis merasakan tangan Sheril yang sangat dingin. Ia merapatkan selimutnya.


"Sayang, bangun lah, Nenek sudah menunggu kita untuk sarapan," ujar Sheril.


Em ....


Zian hanya bergumam dalam tidurnya, ia sama sekali tidak bergerak untuk bangun.


"Hei, ayo bangun," ujar Sheril.


"Em sayang, aku ingin memelukmu," ujar Zian meraih tubuh istrinya. Ia mencium wangi tubuh istrinya yang sudah segar.


"Kamu sudah mandi sayang," ujar Zian membuka kedua matanya.


"Iya, sekarang bangunlah, nenek menunggu kita," ujar Sheril.


Zian bangun dengan malas. Ia menatap istrinya yang sudah cantik dengan rambut yang masih basah.


"Sayang," lagi-lagi Zian memeluknya.


"Mas, ayo cepat mandi," ujar Sheril.


"Iya, antarkan aku ke kamar mandi," rengek Zian.


"Baiklah, ayo?" Ajak Sheril melangkah kakinya keluar kamar.


Zian kembali duduk di tepi ranjang. Sementara Sheril menoleh suaminya, ia langsung beranjak menghampiri Zian.


"Ayo cepetan," Sheril menarik tangan suaminya seperti anak TK yang susah di ajak mandi.


Zian pun menuruti langkah Sheril. Nenek Mala menggelengkan kepalanya sambil tersenyum-senyum melihat interaksi cucunya itu.


Selesai Zian mandi, mereka langsung sarapan bersama, tidak terkecuali Simba juga tidak ketinggalan.


"Nenek, Kakek, kami langsung pulang setelah sarapan, kami akan kesini lagi lain waktu," ujar Zian setelah menyelesaikan makannya.


"Iya, ngk apa-apa, Nak, jaga cucu kami dengan baik, dia satu-satunya harta yang kami miliki, sayangi dia, kami sudah tua, tinggal menunggu sisa umur lagi," ujar kakek Samit. Nenek Mala menyeka air matanya.


"Nenek, Kakek, jaga kesehatan kalian, aku akan selalu merindukan kalian," ujar Sheril memeluk kakek dan neneknya. Sheril juga tidak mampu menahan air matanya lagi, Ia merasa sedih akan meninggalkan kedua orang tua itu.


Nenek Mala dan Kakek Samit mengantarkan Zian dan Sheril kedepan, dimana mobil Zian terparkir di sana. Mereka tampak berpamitan. Kakek dan Nenek Sheril merasa sedih, mereka akan kesepian lagi.


Setelah di dalam mobil, Sheril menurunkan kaca jendela mobil. "Nenek! Kakek!, jaga kesehatan kalian," teriak Sheril dari dalam mobilnya sambil melambaikan tangannya. Simba meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tampak orang-orang kampung menyaksikan kepergian Sheril dengan mobil mewah suaminya.


Nenek Mala menangis setelah di tinggal Sheril.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ayo like dan vote lagi ya.


jangan bosan untuk membaca dan menunggu update terbarunya.

__ADS_1


follow author ya agar kalian mendapatkan notifikasi setiap author update episode terbaru.


__ADS_2