
Setelah pertarungan panas antara suami dan istri itu, mereka akhirnya melepas lelah dengan sedikit memejamkan mata. Serasa cukup, Sheril bangkit dan langsung menuju bathroom, membersihkan dirinya di sana, sementara sang suami masih terlelap.
Sheril menatap suaminya yang masih terpejam. Ia tersenyum kecil dari jarak 4 meter dari suami, tapi wajah suaminya terlihat jelas oleh Sheril.
"Dia setampan ini kalu tidur, ya ampun, aku tidak menyangka akan di pertemukan dengannya," batin Sheril sambil mendekati suaminya.
"Mas, kamu sudah makan?" Tanya Sheril ketika ia sudah membersihkannya tubuhnya dan berganti pakaian. Sementara suaminya masi di balut selimut tebal.
"Em .... " Zian menggeliatkan tubuhnya sambil perlahan membuka kedua matanya. Zian melihat istrinya sudah mandi dan berganti pakaian, wangi tubuhnya menambah keinginan Zian untuk segera memeluknya.
"Kamu sudah mandi sayang?" Tanya Zian memegang tangan kiri istrinya, dengan suara yang masih serak.
Sheril tersenyum mengangguk. Dadanya berdegup kencang, matanya menatap segala bentuk wajah suaminya.
Zian menarik alisnya ke atas, menatap mata istrinya yang mengamati wajahnya.
"Kenapa sayang? Baru tau kalau suamimu ini tampan?" Tanya Zian asal, tapi mampu membuat waja Sheril bersemu dan menunduk karena malu dengan kelakuannya sendiri.
"Aku ingin memelukmu," ucap Zian seraya langsung menarik tangan Sheril hingga menimpa tubuh Zian.
"Mas, aduh!" Keluh Sheril gugup dan malu, ia menyembunyikan wajah semu nya di dada Zian. Ia tidak ingin Zian mengetahui kegugupan hatinya.
"Sayang, kamu sudah cantik dan wangi, aku menyukai mu," timpal Zian seraya melontarkan senyuman manisnya pada Sheril yang kini malu-malu di puji Zian seperti itu.
"Ayo bangunlah, aku akan menyiapkan makanan," ujar Sheril berusaha bangkit dari tidurnya.
Zian tidak bisa mencegah Sheril, karena perutnya juga sudah sangat lapar, sarapan di rumah tadi tidak membuatnya kenyang.
Zian segera turun dari atas ranjang, sementara Sheril sudah keluar meninggalkan kamar mereka.
"Nona cantik, biar bibi saja yang siapkan," ujar bibi Arum tidak enak hati.
"Biarkan Sheril saja yang melakukan bi, kerjakan pekerjaan bibi yang belum selesai," ujar Sheril sambil sibuk menata makanan di atas meja.
"Tapi non,"
"Tidak apa-apa bi, Sheril ingin melakukan ini untuk suamiku," Sheril tersenyum manis.
Bibi Arum senang melihat Sheril bisa ceria seperti ini.
"Baiklah non, jika ada bantuan, langsung panggil bibi ya," ujar bibi Arum.
"Iya bi," jawab Sheril.
Tidak begitu lama, Zian turun dan segera menarik kursi duduk di sana, Zian juga menarik kursi di sampingnya.
Zian menatap isi meja yang sudah tertata rapi, ia pun tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ini semua kamu yang siapkan sayang?" Tanya Zian.
Sheril tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Sini duduklah," ucap Zian seraya menepuk kursi di sampingnya memberi isyarat agar Sheril segera duduk.
"Iya mas," Sheril pun segera duduk.
Zian memegang tangan istrinya. Ia menatap dan tersenyum.
"Terimakasih sayang atas semuanya," ucap Zian menciumi tangan Sheril.
Sheril menautkan alisnya.
"Terimakasih untuk apa?" Sheril menatap suaminya.
"Untuk hidangan makanannya," jawab Zian enteng.
Sheril menghembuskan napasnya dengan cepat, ia pun tersenyum kecil.
"Mas, tidak usah berterima kasih seperti itu, ini tugas ku, aku senang melakukannya, dari dulu aku punya impian bisa melayani suamiku dengan baik," Sheril menundukkan wajahnya, suaranya bergetar, seakan ucapannya tercekat.
Ia tau kalau ia tidak akan bisa sepenuhnya melayani kebutuhan suaminya.
Zian menatap Sheril. Sheril tidak tau kalau Zian tidak pernah di perlakukan istrinya seperti itu, Zian pun tidak ingin menceritakan tentang rumah tangganya yang sebenarnya seperti apa.
"Iya sayang lakukan lah, tapi ingat jangan terlalu capek ya, kasih anak kita," Zian mengelus perut Sheril yang sudah tampak membesar.
Sheril langsung menyendok nasi dan lauk pauk secukupnya, lalu meletakkannya tepat di hadapan Zian, Sheril juga menuang air putih dan meletakkannya pula di samping kanan Zian. Kemudian ia pun mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Baru 2 kali suap, Sheril merasakan perutnya sangat mual. Ia segera bangkit menuju wastafel dan memuntahkan semua makanan yang sudah ia telan.
"Sayang, kamu kenapa?" Zian mengekor mengikuti langkah Sheril. Melihat Sheril muntah seperti itu, Zian memanggil bibi Arum dengan kencang.
"Bibi!" Teriak Zian menggelegar di penjuru ruangan. Sementara Sheril masih muntah.
"Iya Tuan, ada apa?" Bibi Arum datang dengan tergesa, lututnya bergetar hebat, karena takut dengan suara Zian seperti itu.
"Apa yang kamu masak, hingga istriku sampai muntah seperti ini?" Ucap Zian dingin membuat bibi Arum ketakutan.
"Saya masak seperti biasa Tuan," ucap bibi Arum menundukkan kepalanya.
Sementara Sheril terperangah mendengar bentakan Zian pada bibi Arum, ia cepat-cepat mencuci pinggir mulutnya.
"Mas, apa yang kamu lakukan pada bibi Arum? Kenapa kamu membentaknya seperti ini?" Tanya Sheril membelakangi bibi Arum seakan melindunginya.
"Lihat, dia sengaja meracuni makanan itu, hingga kamu jadi muntah seperti ini," ucap Zian dengan nada yang masih tinggi.
__ADS_1
"Mas, bibi Arum tidak meracuni makanan itu, dia tidak salah, hanya perutku saja tidak menerima, ini mungkin bawaan bayi mas, bukan apa-apa," jelas Sheril menatap suaminya ingin meyakinkan.
"Bukankah Zian sudah memiliki anak? Tentunya Zian tau bagaimana yang sering terjadi saat seorang ibu yang dalam keadaan hamil muda," pikir Sheril.
"Tapi kenapa kamu muntah setelah memakan makanan itu?" Ujar Zian yang sedikit sudah merendahkan nada suaranya.
"Bibi, lanjutkan saja pekerjaan bibi," ujar Sheril sedikit menoleh bibi Arum.
"Baik nona cantik, saya permisi Tuan," bibi Arum membungkukkan badannya sedikit, lalu meninggalkan Sheril dan Zian yang masih berdiri di sana.
"Mas, jangan marahin bibi seperti itu, kasihan dia, makanan itu enak, cuma perut ku menolak, aku juga membantu bibi memasak makanan itu kok, jadi tidak akan ada yang salah dalam memasaknya tadi" ujar Sheril.
"Jadi kamu makan apa kalu makanan itu tidak masuk kedalam perut kamu?" Ujar Zian menatap istrinya.
"Aku mau makan pisang panggang di taburi coklat dan keju di atasnya mas," ujar Sheril menampilkan senyumannya khasnya.
Sementara Zian mengangkat kedua alis tebalnya.
"Dimana bisa mendapatkannya?" Ujar Zian.
"Kita bisa membuatnya sendiri," ucap Sheril.
"Apa di luaran ngk ada yang jual makanan itu?" Tanya Zian lagi.
"Tentu ada," ucap Sheril.
"Lalu kenapa harus repot memasak? Kita beli di luar saja, ayo bersiaplah," ajak Zian sambil menggandeng tangan Sheril.
"Aku ganti baju dulu ya mas," ucap Sheril.
"Aku tunggu di mobil," jawab Zian seraya melepaskan gandengan tangannya.
Sementara Sheril pergi ke kamar mengganti pakaiannya. Ia mengenakan dress warna hitam batas lutut, tidak lupa ia pun memperhatikan wajahnya dan memoles bedak tipis saja, dan sedikit lipstik warna pink agar tidak terlalu mencolok. Sheril mengedipkan bulu mata lentiknya yang seperti boneka Barbie. Entah mengapa ia ingin tampil cantik di depan suaminya hari ini.
Merasa cukup, Sheril segera mengambil tas selempang kecil yang selalu ia kenakan saat ingin berpergian. Ia pun segera keluar menuju mobil dimana sang suami sudah menunggu.
Dari dalam mobil, Zian menatap Sheril tak berkedip, matanya terus mengikuti langkah Sheril sampai ke pintu mobil, sampai-sampai Zian lupa membuka pintu mobilnya.
"Mas! Kamu ngapain, pintunya ke kunci ini," ujar Sheril sambil mengotak-atik handel pintu mobil.
Zian sadar akan tingkahnya yang tidak di ketahui Sheril, ia segera keluar membuka pintu mobil buat Sheril.
"Kamu ngapain di dalam mas?" Tanya Sheril seraya masuk dan duduk di samping pengemudi.
"Oh enggak, tadi aku lagi," mikir sejenak.
"Iya lagi nyetel musik," ucap Zian mencari alasan yang jelas tidak masuk akal, karena Zian tidak menyalakan musiknya. Ia merasa malu jika Sheril tau.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
ayok tinggalkan jejak kalian.