Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
127


__ADS_3

Esok harinya. Setelah dari rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, Zian mengajak Sheril untuk pindah ke kamar atas. Tetapi dia tidak mau, dan menolaknya dengan halus.


"Tidak, mas, aku tidak akan nyaman di sana, mohon jangan memaksa ku untuk pindah kamar," Sheril meminta dengan memohon sambil menundukkan wajahnya.


Zian menghela napasnya.


"Baiklah, jika kamu tidak keberatan, sore nanti ajaklah Aura untuk jalan-jalan ke pantai, aku akan menemani."


Sheril bangun dan menatap Zian.


Seakan dia ragu dengan ucapannya.


"Tapi ...."


"Aku harap tidak ada penolakan lagi."


Zian langsung memotong kalimat Sheril.


Sheril terpaku. Dia hanya ragu-ragu dengan kata-kata Zian, apakah nanti tidak akan membuat bencana dalam rumah tangganya. Sampai detik ini, Sheril tidak tau apa yang terjadi dengan rumah tangga suaminya pada istri pertamanya.


Zian pun tidak pernah membukanya sedikitpun. Meski Sheril penasaran, tetapi dia tidak ingin mencongkel urusan orang, kalu bukan dia sendiri yang menceritakannya.


"Baiklah."


Akhirnya Sheril menyetujuinya.


Zian tidak menyahut ucapan Sheril lagi. Dia terdiam sambil memandang ke arah lain.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka, begitu sampa di rumahnya.


Kebetulan hari ini libur, jadi kesempatan Zian berada di rumah.


Serena melihat Sheril bermain dengan Aura. Bocah itu tampak senang, dan menarik tangan Sheril menuju ruang keluarga. Sheril sedikit ragu-ragu, namun begitu Aura terus menarik tangannya, akhirnya dia mengikuti kemauan bocah itu. Mereka begitu akrab, terlihat di mata bocah itu, kalau dia menyukainya.


Tiba-tiba Zian datang, dan ikut duduk di karpet lantai bersama Aura dan Sheril.


Sheril terlihat tertawa melihat tingkah bocah itu, berbicara dengan bahasanya sendiri, membuat Sheril merasa lucu dan gemas.


Aura berlari kesana-kemari, duduk di pangkuan Sheril kemudian berlari lagi berikutnya juga begitu, namun Zian merasa khwatir jika Aura menyakiti perut Sheril tanpa sengaja.


Saat Aura mau duduk di pangkuan Sheril lagi, Zian segera menangkap tubuh kecilnya.


"Sayang, jangan seperti itu, kasihan tantenya, nanti kalau dedek baby-nya sakit bagaimana?"


"Dedek ..., mana dedek?" Gadis kecil itu tampak berdiri memperhatikan Sheril.


"Dedeknya masih di dalam perut, belum keluar." ujar Zian. Sheril tampak canggung.


Bocah itu tersenyum, menampilkan giginya yang belum rata.


"Aku mau cium dedek," rengekannya pada Zian.


Zian kemudian menatap Sheril, dia mengerti arti dari tatapan Zian itu.


"Sini, duduk yang bagus ya, setelah itu baru Aura bisa cium dedeknya."


Bocah itu langsung mengangguk senang, lalu duduk menuruti sesuai instruksi Sheril tadi. Begitu duduk, dia langsung mencium perut Sheril dan mengelusnya lembut tampak dia mendekatkan telinganya di perut Sheril.


Aura tiba-tiba duduk di pangkuan Sheril, lalu menarik tangan Zian dan menciumnya. Wajahnya begitu dekat dengan Sheril. Dadanya langsung bergetar, begitu pula dengan Sheril.


"Mama ..., Papa ...."


Bocah cilik itu mendongak ke atas menatap Sheril dan Zian secara bergantian.

__ADS_1


"Mama?"


Sheril berucap tanpa sadar.


"Mama ...,"


Gadis kecil itu mengelus pipi Sheril dengan tangan kecilnya.


Sheril mengernyit heran, siapa yang di katakan bocah ini Mama?


"Mana Mama?"


Sheril melihat ke sekeliling. Sementara Zian berpikir, kalau Sheril lah yang di panggil putrinya itu Mama.


"Ini Mama,"


bocah itu tiba-tiba mencium pipi Sheril.


Sheril menganga serta membulatkan matanya.


Ha ..., memangil dirinya Mama?


Sheril melirik Zian yang sejak tadi menatapnya. Wajahnya memerah.


Siapa yang mengajarinya? Apakah ...."


"Apakah kau keberatan jika Aura memanggil mu dengan sebutan Mama?"


Em .... "Aku ..., aku hanya ...."


Sheril terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa, lupakan saja." Sekarang istirahatlah di kamar mu, aku akan mengajak Aura untuk tidur siang terlebih dahulu, setelah itu, kita akan pergi ke pantai.


Akan tetapi Aura tidak mau di ajak oleh Zian. Dia menarik tangan Sheril mengambil bantal dan meletakkannya di atas karpet.


Serena dengan sengaja tidak ingin banyak bicara, diam-diam dia mengamati dan memperhatikan seisi rumahnya tanpa ada yang tau.


Sore harinya


Zian mengajak Aura dan Sheril ke pantai, menikmati senja yang turun dengan panorama alam yang indah.


Sheril terlihat menikmati pemandangan yang luar biasa indah, bibirnya tersenyum sambil menggandeng tangan Aura. Aura meminta ice cream dan Sheril segera membelikan untuknya.


"Oke, tapi makan ice cream duduk saja ya,"


Bocah itu mengangguk.


Aura terlihat senang memakan ice cream, lidahnya menjulur menjilat ice cream yang di ada di tangannya. Mereka tampak asik duduk di karpet yang mereka sewa, sambil menunggu matahari yang akan tenggelam.


Tiba-tiba Zian juga duduk di sampingnya, memandang ke arah sunset.


"Bagaimana, apakah kamu senang?"


Pertanyaan Zian yang tiba-tiba membuat Sheril menoleh, jantungnya berdetak, dia ragu-ragu untuk menjawab, kemudian memutuskan untuk mengangguk saja.


Mereka terdiam sejenak.


"Sheril, kelihatannya kau benar-benar membenciku. Jika itu yang kau inginkan, aku akan pergi ke luar negri, mengurus perusahaan di sana."


Ke luar negeri? Dan membenci? Aku tidak membencinya!


"Aku harap kamu tetap tinggal di rumah sampai lahiran."


Sheril menoleh menatap Zian.

__ADS_1


"Apa mungkin aku tetap tinggal di rumahmu? Aku ini punya perasaan, Mas. Bagaimana dengan istrimu jika dia melihat aku tinggal di sana? Apa kau benar-benar tidak memikirkan perasaan ku?"


Zian menatap Sheril.


"Kau tidak perlu memikirkan dia, apa kau melihatnya ada di rumah? Tidak, kan. Kau tidak tau seperti apa rumah tangga ku sebelumnya, sebetulnya aku tidak ingin menceritakan masalah ku ini. Dia sering kali meninggalkan aku dan Aura." Zian berkata dengan lirih, kemudian diam menundukkan kepalanya.


Sheril terdiam mendengar cerita Zian. Dia melirik bocah yang duduk di sampingnya, sambil makan ice cream.


"Memangnya kemana Mamanya?"


Zian menghela nafas.


"Aku tidak tau dia keman."


Sheril mengernyit. "Apa sudah mencarinya?"


"Untuk apa aku mencarinya? Meski aku tau dimana dia. Ini bukan yang pertama kalinya dia meninggalkan kami, sudah kebiasaan dia seperti itu. Waktu itu Aura baru berusia satu minggu, dia juga meninggalkan Aura tanpa khwatir."


Zian terdiam sejenak.


"Memang iya, dia pergi bukan tanpa alasan, tapi bukan begini caranya untuk menyelesaikan permasalahannya."


Sheril diam tanpa berkata apa-apa. Dia mencermati setiap kalimat Zian.


"Sudahlah, itu tidak perlu di pikirkan. Mari kita pulang."


Sheril bangkit dan berdiri dengan perasaan yang tidak tentu.


Jadi istrinya sering meninggalkan mereka? kasihan sekali Aura. Sheril berjalan di belakang Zian menggendong Aura. Dia berjalan lambat sambil memikirkan kata-kata Zian barusan, hingga dia tertinggal jauh olehnya.


Menyadari kalau Sheril jauh tertinggal, Zian menunggunya.


Setelah Sheril mendekat, Zian memulai langkahnya kembali.


Tiba-tiba Zian merangkul pundak Sheril.


"Ini jalan-jalan terakhir kita, mungkin juga pertemuan terakhir kita hari ini, karena besok subuh aku sudah berangkat ke luar negeri."


Sheril tertegun, matanya berkabut, sedih mendengar ucapan Zian.


Sheril melepaskan rangkulan tangan Zian.


"Tidak apa-apa, pergilah besok dan hati-hati."


Zian menelan ludah. "Maafkan aku yang sudah banyak bersalah padamu."


Sheril terdiam tanpa berkata. Mereka segera menuju mobil dan pulang.


.


.


.


Author sudah update ya, lakukan kewajiban kalian wahai para pembaca:


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️


komen jika ada kritik dan saran☑️

__ADS_1


dan jangan lupa follow akun author ☑️


__ADS_2