Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Memeluk Zian


__ADS_3

"Tapi dengan syarat, menikahlah denganku besok," ujar Zian langsung membalikkan tubuhnya menghadap Sheril.


Sheril langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


"Apa-apaan! Kamu jangan bercanda, aku tidak ingin menikah dengan mu," tukas Sheril menatap mata Zian dengan keberaniannya.


"Itu syarat yang harus kamu pikirkan, jika tidak mau, juga tidak apa-apa, aku tidak bisa memaksamu," ucap Zian ingin berlalu pergi.


"Kau sangat licik! Laki-laki gila ... "


"Aku juga tidak ingin menikahimu kalau bukan kamu mengandung anakku!" Ucap Zian langsung memotong pembicaraan Sheril.


"Anak tetap anak, tapi aku tidak ingin menikah dengan orang gila seperti mu! Aku tidak menyukai kamu!" Tukas Sheril dengan mata yang tajam, membuat Zian tersinggung berat dengan ucapannya.


Zian sangat geram mendengar ucapan Sheril, ia menahan kemarahannya, baru kali ini ada perempuan yang berani menolaknya, di luaran sana banyak perempuan cantik yang menginginkannya, bahkan mereka rela hanya untuk di tiduri kalaupun Zian mau, mereka tidak akan menolaknya. Tapi Sheril! Sheril benar-benar memancing perasaan Zian, Zian benar-benar tersinggung dengan ucapan Sheril. Ia menatap manik mata Sheril dengan tajam, ketampanannya sudah berubah menjadi suram. Ingin rasanya Zian menghabisi perempuan ini sekarang juga.


"Baik, aku akan membuatmu bertekuk lutut dengan ku," gumam Zian dalam hatinya. Zian tidak akan main-main dengan ucapannya.


Zian tidak dapat membendung emosinya lagi.


Buk ....


Buk ....


Buk ....


Zian melampiaskan emosinya dengan memukul tembok di sampingnya, hinga tangannya pecah dan mengeluarkan banyak darah. Sheril sagat ketakutan, tubuhnya langsung bergetar dan berkeringat dingin.


"Baik. Aku tidak akan menikahimu, dan ingat apa yang aku katakan barusan!" Tukas Zian mengangkat jari telunjuknya. Kemudian ia langsung melangkah keluar.


Pelupuk mata Sheril kembali basah.


Brakk ....


Zian menutup pintu kamarnya dengan kasar, lalu menguncinya dari luar.


Sheril tampak memutar-mutar kenop pintu dari dalam.


"Buka pintunya! Keluarkan aku dari sini!" Pekik Sheril dengan suara lantangnya. Tapi Zian sama sekali tidak mengindahkan teriakan Sheril.


Sheril menangis di belakang pintu. Ucapan Zian masih terngiang di telinganya.


Bagaimana bisa, pernikahan bukanlah sebuah permainan bagi Sheril, ia tidak ingin menikah dengan laki-laki yang sama sekali ia tidak tau tentang perasaannya, Sheril takut ucapan Zian ada maksud tertentu, ia berpikir kalu Zian akan mencampakkannya setelah ia melahirkan, dan merebut anaknya.


Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Sheril masih menangis sambil memegangi perutnya. "Sayang, maafkan mama, bantu Mama keluar dari sini," lirih Sheril.


Sementara Zian pergi meninggalkan villa. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mencengkram setir mobilnya dengan erat.

__ADS_1


"Kau sudah berani menolak ku perempuan sial, lihat saja apa yang aku lakukan padamu, aku akan mengambil anakku dari mu, kau tidak akan pernah memilikinya," tukas Zian dengan mengeraskan rahangnya.


Sampai di persimpangan jalan, Zian menepikan mobilnya, ia menelpon seseorang.


"Cepat kau datang kesini, saya menunggumu," ujar Zian setelah telponnya tersambung.


Tidak begitu lama Simba dan dua orang temannya pun datang. Zian langsung memutar setir mobilnya kembali ke villa. Sementara mobil yang di kendarai Simba mengiringi mobil Zian.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Sheril baru saja memejamkan mata sembabnya.


Ceklek ....


Zian membuka pintu kamarnya. Ia melihat Sheril masih meringkus di atas ranjang.


"Bangunlah, kau akan pergi sekarang juga," suara Zian terdengar dinginnya sampai ke tulang.


Sheril mendengar samar suara Zian, tapi matanya tidak kuasa menahan kantuknya.


"Hei bangun! Bukankah kamu ingin pergi dari sini? Temanku sudah menunggu mu!" Zian sedikit meninggikan suaranya hingga membuat Sheril terpaksa membuka matanya dengan berat.


Sheril langsung bangun dari tidurnya, ia menatap Zian dengan mata sembabnya, sementara Zian memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap Sheril.


"Kamu? Aku tidak ingin berada di kamar mu, aku ingin keluar dari sini," ucap Sheril dengan suara seraknya.


Deg ....


Dada Sheril langsung bergetar.


"Kau akan membawaku kemana lagi? Aku ingin kembali dengan keluargaku," ujar Sheril sambil berdiri menatap Zian dengan beraninya.


"Perempuan ini benar-benar menantang ku," gumam Zian dalam hatinya.


"Tidak akan! bahkan kau tidak akan pernah bertemu dengan keluargamu lagi," Tukas Zian. Sheril langsung melebarkan matanya, jantungnya seakan berhenti berdetak.


Zian langsung pergi meninggalkan Sheril yang masih membeku.


"Tunggu!" Teriak Sheril, tapi Zian tidak menoleh sedikitpun, ia mempercepat langkahnya, Sheril langsung berlari mengejar Zian.


"Tolong dengarkan aku," ujar Sheril memegang tangan Zian. Zian menghentikan langkahnya, namun tubuhnya tetap lurus kedepan, Zian sama sekali tidak menoleh Sheril.


"Apa salahku padamu? Kenapa kau ingin menjauhkan aku dengan keluargaku, ada dendam apa kamu dengan keluargaku," lirih Sheril dengan mata sembabnya.


"Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu itu. Minggir, jangan membuang-buang waktu ku," ujar Zian melepaskan tangan Sheril. Zian kembali melanjutkan langkah kakinya.


Namun Sheril kembali menghalangi langkah Zian, ia bersimpuh di hadapan Zian dengan memegangi kedua kakinya.

__ADS_1


Hiks-hiks-hiks...


"Aku mohon, jangan bawa aku dari sini, sekarang katakan apa mau mu?" Ujar Sheril dengan genangan air matanya, ia menengadahkan kepalanya menatap Zian yang menjulang tinggi.


"Cukup. Hentikan drama mu ini, aku tidak akan mengubah keputusanku, aku tetap akan mengirim mi luar negeri. Simba bawa dia," Ujar Zian dengan suara beratnya.


Zian kembali menepiskan tangan Sheril yang gemetar, Zian sama sekali tidak ingin menatapnya. Sebenarnya Zian tidak tega melakukan ini, tapi dengan terpaksa ia lakukan agar membuat Sheril bertekuk lutut dengannya.


Namun Sheril kembali mengejar Zian. Ia langsung memeluk Zian dari belakang.


"Aku mau menikah dengan mu, asal jangan bawa aku dari sini," ujar Sheril sambil ketakutan. Ia memeluk Zian dengan erat. Zian merasakan ketakutan Sheril. Ia terdiam tanpa ekspresi.


Sheril melepaskan pelukannya, dan menghadapi Zian. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Sheril menatap mata Zian dengan sendu, ia menggenggam tangan Zian dengan erat.


Lalu kembali memeluk Zian.


Jantung Zian hampir saja melompat keluar saat Sheril mendadak memeluknya, kedua benda kenyal itu menempel sangat terasa di dada Zian. Tapi dengan cepat Zian menyembunyikan perasaannya.


"Aku mau menikah dengan mu, asal jangan bawa aku ke luar negeri, aku berjanji akan menuruti segala keinginanmu," ujar Sheril serak.


"Aku sudah berubah pikiran, aku tidak berniat lagi menikahimu," ujar Zian datar, pandangannya lurus kedepan, membuat Sheril mengendurkan pelukannya.


"Maafkan aku, apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin ke luar negeri, aku ingin di sini saja, menikah dengan mu," lirih Sheril dengan berurai air mata menatap Zian.


"Baik. Jika ucapan mu itu bisa aku pegang, kita akan menikah di sini, dan kau akan melayani apa yang aku inginkan," ujar Zian yang langsung di anggukkin Sheril dengan berbinar walupun pelupuk matanya penuh dengan air mata.


Sheril kembali memeluk Zian dengan erat.


"Terimakasih, aku akan menuruti keinginan kamu," ujar Sheril merenggangkan pelukannya menatap Zian dengan senyuman senangnya. Lalu kembali memeluk Zian. Zian membeku saat di peluk Sheril, ia sama sekali tidak ingin membalas pelukannya. Walaupun sebetulnya ia sangatlah suka di peluk Sheril seperti ini, tapi ia tidak ingin menampakkan perasaannya.


Entah apa yang membuat Sheril sanga senang seperti ini, yang jelas ia sangat senang karena ia tidak akan di kirim ke luar negeri, ia berharap suatu saat ia akan bertemu dengan Kakek dan Neneknya.


"Simba, batalkan penerbangannya, dan urus surat pernikahan hari ini juga," ujar Zian dengan suara yang masih beku.


Sementara Sheril tidak melepaskan genggaman tangannya pada Zian.


"Kenapa kamu suka sekali memegang tanganku, segeralah bersihkan diri mu," ujar Zian pada Sheril. wajah Sheril langsung bersemu. ia menarik tangannya dengan segera.


Sebelum beranjak kedalam kamarnya, Sheril kembali memeluk Zian. Ia tidak menghiraukan Zian menyukainya atau tidak yang jelas ia senang saja. Mungkin ini jalan terbaik satu-satunya buat Sheril.


"Sekali lagi terimakasih," ujar Sheril. Kemudian beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Keseruannya sudah di mulai! ayo ikut terus ceritanya, tap ❤️ agar kalian mendapatkan notifikasi setiap author update terbaru.


Tekan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 jika kalian terkesan dengan karya author ya.


dan jangan lupa dukung karya author mulai dari sekarang ya, karena akan ada pembagian pulsa gratis seperti yang sudah author jelaskan di episode sebelumnya. terimakasih.

__ADS_1


selamat membaca.


__ADS_2