Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
111


__ADS_3

Zian berharap Sheril ada di balkon.


Dengan hati-hati dia memutar kenop pintu dan ..., Zian berhenti dan terdiam cukup lama. Ia menatap punggung Sheril yang membelakanginya. Kembali Zian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara kasar.


"Ayo ikut dengan ku!


Sheril cukup terkejut mendengar suara yang berat dan dia mengenalinya.


Ikut dengannya?


Apakah Zian akan membawa dirinya kerumah yang dikatakannya kemarin itu? Memikirkan itu dada bergetar. Dia tidak bergeming, menoleh pun ia tidak.


Apa dia tidak mendengar kata-kata ku barusan?


"Apakah kau tidak mendengar apa yang aku katakan?" Zian berkata sambil mendekat.


Suara Zian dekat sekali, perasaannya tidak tentu, dia menggeser tubuhnya ke samping dan melangkah mundur, lalu menatap wajah lelaki yang menegurnya barusan.


"Apa yang kamu katakan?"


"Kenapa kau menjadi tuli sekarang? Apakah perlu aku mengulangi ucapan ku?"


Zian menatap Sheril tidak berkedip. Wajahnya bisa berbohong, tapi hatinya tidak.


"Ikut dengan ku sekarang!"


"Ikut dengan mu?" Sheril menatap Zian sembari menyipitkan kedua matanya.


"Tidak. Aku tidak akan ikut denganmu pulang ke rumah mu itu! Aku tidak mau!" Sheril memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Zian.


"Kau, sudah membangkang sekarang! walaupun bagaimana, aku ini suami mu! Kau sangat tidak patuh pada suami, bahkan kau meninggalkan villa tanpa izin dari ku! Istri macam apa kamu! Apa semua wanita itu sama seperti mu?" Zian marah, wajahnya berubah dingin seperti es.


Sheril menatap wajah Zian dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau tidak punya perasaan, Mas. Aku pergi karena ada alasannya. Bagaimana kau bisa mengajakku tinggal di rumahmu bersama anak dan istri mu? Jangan gila kamu, Mas!"


Tanpa di minta, air matanya menetes dan dia langsung menyekanya dengan kasar.


"Kenapa? Kau takut? Sejak kapan kau jadi pengecut?" Zian menatap Sheril dengan mengejek.


Mendengar ucapan Zian seperti itu, Sheril langsung mengangkat kepalanya, dan menatap Zian dengan pikiran yang ada di kepalanya. Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing.


Kenapa? Apakah ini kesepakatan antara dia dan istrinya?


"Apa yang kamu inginkan dariku? Kenapa kamu tiba-tiba berubah, dan ingin menjadikan aku pembantu di rumah mu?" Suara lirih Sheril terdengar pilu.


"Karena menurut ku itu pantas untukmu! bukankah kau ahli mencuci piring bekas orang-orang di rumah makan yang kumuh itu? Menurutku, dari pada kamu bekerja di sana, dengan gaji yang tidak seberapa, lebih baik kamu bekerja di rumah ku dengan gaji yang berlipat-lipat?"


Sheril kembali menatap Zian dengan tatapan berkaca-kaca. Kata-katanya sangat melukai hatinya, dadanya berasa sesak.


Sepertinya Sheril akan menerima tantangan Zian. Mau berlari kemanapun, Zian akan tetap mencarinya dan dia pun akan di temukan. Sheril tidak ada pilihan lain.


"Oke, baiklah. Aku akan menjadi pembantu yang akan melayani keluarga mu sesuai yang kamu inginkan!"

__ADS_1


Zian terdiam mendengar kata-kata Sheril.


Selesai bicara seperti itu, Sheril melangkah masuk. Ia berusaha kuat, agar tidak menangis.


"Ayo pergi!" Setelah dia mengambil tas punggungnya. Sheril berkata seperti itu, dengan memandang ke arah lain, tanpa memandang Zian. Zian menatapnya.., memperhatikan penampilannya.


"Lebih baik kau mandi dan berganti pakaian! aku akan menunggumu di luar!" Setelah bicara, Zian langsung melangkah keluar dan menutup pintu.


Sheril menatap kepergian Zian dengan kesal.


Untuk apa dia menyuruhku mandi?


Hu ....


Sheril benar-benar kesal, Tadi mengajaknya segera pergi, tapi ini malah menyuruhnya mandi. Sambil melepas pakaiannya Sheril ngoceh di dalam kamar mandi.


Benar-benar sejuk, sejak kemarin ia tidak mandi, dan baru ini ketemu air. Mungkin Zian tidak tahan dengan bauk tubuhnya, maka dari itu dia menyuruhku mandi.


Sementara Sheril mandi, Zian melangkah ke dapur, ingin mengambil air minum.


Apakah dia tidak memasak sesuatu?


Zian membuka kulkas, tidak ada apa-apa di dalamnya, makanan ringan pun tidak ada.


Bagaimana bisa masak? yang ada di kulkas hanya minuman dingin saja.


Zian ingat, dia sudah lama tidak tinggal di apartemen, jadi sangat wajar jika stok makanannya sudah habis.


Makan pakai apa dia?


Zian tiba-tiba merasa bersalah. Apa lagi mengingat bayi yang ada di dalam perutnya Sheril, ah .....!


Zian mengetuk pintu kamar setelah lama menunggu, Sheril belum juga keluar.


"Cepatlah keluar!"


"Iya sebentar!"


Sheril buru-buru keluar dan menghampiri Zian yang menunggunya.


"Lama sekali!"


Ucap Zian melirik Sheril sekilas. Namun Sheril tidak menanggapi ucapan Zian.


"Ayo keluarlah! aku mau mengunci pintunya!"


Sheril keluar dengan kesal. Lalu mereka turun melalui pintu lift.


Di dalam lift yang terasa sangat mencekam, mereka tidak saling bicara, bahkan menjaga jarak di antaranya, persis seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Sheril masih dengan kekesalannya, Sementara Zian egois dan keras kepala.


Pintu lift berhenti saat sampai di lantai bawah, dan mereka segera keluar.


Dengan cepat Zian melangkahkan kakinya yang panjang, Sheril yang mengikutinya dari belakang agak kesulitan mengejar Zian, hingga ia tertinggal. Sementara Zian tidak butuh waktu yang lama, dia sudah sampai di parkiran.

__ADS_1


Melihat Sheril tidak ada di belakangnya, wajah Zian langsung berubah padam.


"Kemana dia? Apa dia melarikan diri lagi? Awas saja kamu?


Dengan cepat Zian menyusulnya. Terlihat Sheril yang berjalan lambat, Zian mengusap wajahnya.


"Apa kau sengaja memperlambat langkah kakimu? Agar kau bisa kabur dan melarikan diri?"


Sheril mendengar apa yang di katakan Zian, namun ia mengabaikannya, seolah-olah tidak mendengar. Dia langsung berjalan melewati Zian. Melihat Sheril mengabaikannya, Zian langsung mengejar dan memegang pergelangan tangannya dengan erat.


"Mas, apa-apaan kamu! Lepaskan tanganmu! sakit!"


Zian tidak menghiraukan ucapan Sheril, ia langsung mendorongnya masuk kedalam mobil, yang kebetulan pintunya sudah di buka oleh Heru sejak tadi.


Tangan Sheril terlepas, ia memegangi tangannya yang memerah akibat cengkraman tangan Zian yang terlalu keras.


"Keterlaluan sekali!" Matanya mulai berkabut, perih menahan tangis.


"Jalan!"


Zian memberi perintah agar Heru segera melakukan mobilnya.


Zian benar-benar keterlaluan, sedikitpun ia tidak melirik Sheril yang duduk di sampingnya.


Tidak ada kata kasih sayang lagi, ia benar-benar kasar seperti pertama kali menemukan Sheril.


Sheril menangis dalam diam, menatap keluar kaca jendela mobil. Hatinya seperti teriris sembilu. Dalam keadaan begini, ia membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang penuh, tetapi Zian kembali memperlakukannya dengan kasar.


Zian sebetulnya merasa salah dan menyesal, namun hatinya yang penuh gengsi, mengingat Sheril yang tidak mematuhi kata-katanya, Zian kembali emosi dan marah.


"Cari restoran dekat sini!"


"Baik tuan."


Dia mengingat bahwa Sheril mungkin belum makan sejak kemarin malam, maka dari itu, ia mengingatkan Heru untuk mampir di restoran terdekat sini.


Tidak begitu lama, mobil pun terparkir tepat di depan restoran.


Heru langsung turun, begitupun dengan Zian.


Melihat Sheril tidak bergeming, Zian menundukkan kepalanya menatap Sheril yang pandangannya ke arah lain.


"Kenapa kau tidak turun! bukankah kau juga sangat lapar?"


Rasa enggan menatap wajah Zian, akhirnya Sheril menjawab dengan tidak meu meliriknya: "Kalian saja yang makan, aku tidak lapar."


Mendengar jawaban Sheril seperti itu, Zian langsung mendengus kesal, sambil membanting pintu mobil, Ia berjalan dengan cepat masuk restoran.


...***************...


Dukung terus karya author 🙏🙏


Aku rasa untuk memberikan sebuah vote dan like tidak akan memberatkan kalian, dan sama sekali tidak akan merugikan, bonus akan mendapatkan sesuatu dari author di akhir cerita nanti, jika memenuhi syarat...

__ADS_1


Semoga para pembaca paham ya🥰🥰🥰


__ADS_2