Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
kesal


__ADS_3

Di rumah mamanya Ririn, Ririn langsung menerobos pintu utama, ia mencari mama Rosna.


"Mama,"


Ririn langsung memeluk Rosna sambil menangis.


Rosna menautkan kedua alisnya, Ia bingung kenapa putrinya tiba-tiba menangis seperti ini.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Rosna merenggangkan pelukan Ririn dan memegang kedua pundak Ririn.


Ririn menyeka air matanya.


"Kamu bertengkar lagi dengan Zian?" Tanya Rosna.


Ririn menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa!"


Suara Rosna sedikit meninggi.


"Bukan hanya Zian ma, nenek lampir itu juga memperlakukan Ririn dengan buruk, hampir setiap hari dia menyalahkan Ririn," isak Ririn.


Rosna menatap Ririn penuh pertanyaan. Ia tau bagaimana putrinya itu yang sebenarnya. Tetapi ia juga tidak ingin melihat putrinya seperti itu.


"Kamu tidak membuat kesalahan, Kan?" Selidik Rosna. Rosna mengingat ucapan Zian waktu itu, ia takut kalau Zian benar-benar meninggalkan putrinya.


"Ma, apa yang aku perbuat, aku hanya telat bangun, dan mak lampir itu langsung ngomel-ngomel tidak jelas, aku sudah tidak tahan lagi berada di rumah itu," ujar Ririn.


"Ririn, kamu yang sabar ya," Rosna mengelus-elus pundak anaknya dengan menahan napasnya.


"Mama,"


Ririn menatap Rosna yang hanya mengatakan kata-kata sabar.


"Kok Mama hanya bilang begitu?" Ujar Ririn.


"Ririn, kenapa sih, kamu dan Zian ribut terus, padahal kalian saling mencintai? Bukankah Zian cinta mati sama kamu?" Tanya Rosna menatap Ririn dalam.


"Ma, Ririn ngk tau, Zian memang mencintai ku, tapi akhir-akhir ini Zian sering tidak pulang kerumah, bahkan pulang pun dalam keadaan mabuk, Zian sudah mulai kasar dengan Ririn," Ririn menceritakan sebagai masalahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ia sama sekali tidak menyadari bagaimana sikap seorang istri melayani suaminya. Apa lagi kalau ia tidak setuju dengan sikap Zian, Ririn tidak akan peduli sama sekali pada suaminya.


kali ini Rosna mendengarkan cerita putrinya dengan akal sehat. Ia menghembuskan napasnya secara perlahan.

__ADS_1


"Ririn, jika kamu tidak pandai bersikap terhadap Zian, Mama hanya takut, Zian benar-benar meninggalkan kamu? Dan kamu tidak akan mendapatkan apapun dari Zian, kamu akan kehilangan segalanya," ujar Rosna menatap lurus ke depan.


Ririn menatap Rosna. Tubuhnya bergetar, ia tidak percaya ibunya akan bicara seperti itu.


"Mama," ucap Ririn dengan bibir yang bergetar, sepertinya Rosna tidak mendukung anaknya saat ini.


"Jadi bagaimana mau kamu sekarang?" Rosna menatap putrinya.


"Aku tidak mau lagi sama Zian, Ma, aku sudah muak dengannya, aku masih bisa mendapatkan yang lebih dari Zian," ucap Ririn.


"Dasar bodoh," Rosna menatap tajam kearah Ririn.


"Apa yang sudah kamu dapatkan dari Zian? Anak? Kamu hanya menginginkan anak selama ini?" Sambung Rosna. Ia kesal dengan ucapan Ririn.


"Mama, kok nyalahin Ririn," Ririn menatap mamanya yang menatapnya tajam.


"Mama bukan menyalahkan kamu, tapi cobalah kamu pikir, jika suatu saat Zian tidak menginginkan kamu lagi, kamu akan kehilangan tambang emas terbesar, belum tentu kamu akan mendapatkan orang yang seperti Zian lagi, lagi pula, pintar sedikit lah, minta usaha atau apa, jangan diam aja yang hanya bisa shopping membeli apa yang kamu mau, sekarang kamu mau meninggalkan Zian dengan tidak mendapatkan apa-apa?" Ujar Rosna lagi


Ririn menundukkan wajahnya.


"Setidaknya kamu sudah mendapatkan setengah harta Zian setelah dia tidak menginginkan kamu lagi, jadi perempuan jangan bodoh Ririn," ujar Rosna menegaskan.


"Jadi aku harus bagaimana, Ma?" Ujar Ririn masih dengan kepala yang tertunduk.


Ririn menarik napas dalamnya.


"Baiklah, Ma. Ririn akan pikirkan itu," ucapnya singkat.


"Mana Aura? Kenapa kamu meninggalkannya?" Ujar Rosna lagi.


"Ma jika Ririn membawa Aura dalam keadaan begini, Ririn tidak bisa mikir, makanya Ririn tidak mengajaknya kemari," ujar Ririn.


Rosna kembali menatap putrinya.


"Lain kali jangan meninggalkannya lagi, sekarang pulanglah, turuti apa mau mereka," ujar Rosna melipat kedua tangannya di dada.


"Baiklah ma, aku pergi," ujar Ririn meninggalkan Mamanya. Sebenarnya ia kecewa dengan Rosna, namun Ririn berusaha menyembunyikan rasa itu di depan Mama Rosna.


.


.


.

__ADS_1


.


Sampai di pekarangan rumah besar, Ririn keluar dari dalam mobilnya, ia pun langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu utama.


Langkah Ririn sedikit tercekat saat berpapasan dengan mertuanya di ruang tamu, ia langsung menundukkan kepalanya melalui Rosna, sementara Rosna melirik dengan pandangan sangat tajam, namun ia tidak mengeluarkan satu kata pun pada menantunya itu.


Serena memegangi dadanya menahan emosi.


"Perempuan tidak punya adab sama sekali, sesuka hatinya keluar masuk di rumah ini, anak dan suami tidak di urus," gumam Serena dalam benaknya.


Ririn tersenyum kecut saat memasuki kamarnya, seakan ia menemukan ide baru dalam benaknya. Ia langsung menghubungi nomor ponsel Zian, namun yang di telpon tidak mengangkat ponselnya sama sekali. Ririn kesal, ia melemparkan ponselnya di atas tempat tidur.


Ia mondar-mandir seakan memikirkan sesuatu. Lalu ia mengambil ponselnya kembali, dan menghubungi seseorang.


"Setidaknya Heru tau dimana Zian, aku ingin bicara dan meminta maaf," batin Ririn, meski ia masih merasakan panasnya saat mengingat bagaimana Zian memukulnya dengan keras. Ririn akan berusaha mengambil simpati Zian kembali meski ia merasa muak.


"Hello Heru,"


Ucap Ririn setelah ponselnya terhubung.


"Iya nyonya, ada apa?" Tanya Heru dari seberang sana.


"Dimana suamiku, aku ingin bicara dengannya," ucap Ririn dengan nada ketus pada Heru.


"Maaf nyonya, Tuan tidak mengatakan pada saya dimana dia sekarang,"


"Jangan bohong kamu! Kamu sengaja tidak ingin aku menghubungi suami ku, Kan?" Ririn langsung memotong kalimat Heru yang belum selesai, nada bicaranya juga sama sekali tidak enak di dengar.


"Maaf Nyonya, tidak seperti itu, aku benar-benar tidak tau dimana Tuan sekarang, bahkan telepon saya pun tidak ia angkat," ujar Heru masih dengan kesabarannya.


"Jika kamu tidak tahu, untuk apa suamiku memperkerjakan kamu sebagai asistennya? seharusnya kamu tau dimana dia, kemungkinan kamu sengaja tidak ingin memberitahuku!" Ujar Ririn mencerca Heru. Heru yang di perlukan seperti itu menghela nafas panjang.


"Istrinya sendiri tidak tau, bagaimana dengan saya yang hanya asisten saja," ucap Heru menyindir Ririn.


"Heru! Apa kamu lupa siapa saya!" Bentak Ririn dari seberang sana.


"Saya sangat tau siapa anda Nyonya Ririn yang terhormat, tapi yang perlu kamu tau, saya sebagai asisten Zian, tidak semua masalah Zian aku harus tau kan?"


"Heru!" Ririn langsung membanting ponselnya ke lantai, ia sangat kesal dengan Heru, kedua tangannya terkepal erat.


"Dia juga sudah berani berkata seperti itu padaku," gumam Ririn dalam kekesalannya sambil merapatkan giginya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2