Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
105


__ADS_3

"Dalam hal ini anak kamu memang tidak bersalah! Tapi .., dalam mengurus rumah tangga, anak mu perlu di ajari bagaimana cara mengurus anak dan suaminya, jangan cuma bisa menyalahkan, koreksi diri sendiri, kenapa? dan ada apa? aku rasa kamu juga paham."


"Aku bukan membahas tentang bagaimana cara Ririn mengurus rumah tangganya! yang aku katakan adalah penghianatan!" Rosna menekankan ucapannya.


"Iya aku tau. Tapi ..., apakah Ririn tidak ingin tau, kenapa suaminya seperti itu? Apakah Ririn sudah melakukan tugasnya sebagai istri? Jika Ririn sudah melakukan, semua kewajibannya dengan baik dan benar, maka ..."


"Maka apa?" Rosna tidak sabar, ingin mendengar ucapan Serena selanjutnya.


"Maka, kau boleh menyudutkan Zian."


"Kau masih saja mau mencari kebenaran putra mu itu."


"Aku tidak membenarkan perbuatan Zian Rosna, kau ingat itu. Kesalahan Zian sudah terjadi. Jadi menurutku, jangan memperkeruh suasana!" Sambung Serena menekankan.


"Ririn tidak akan pernah memaafkan kesalahan Zian."


Serena mengusap wajahnya dengan kasar. "Rosna. Sekali lagi aku katakan, jangan kau memperkeruh suasana."


Rosna kehabisan kata-kata. Ia terdiam sejenak.


"Oke, Ririn salah dalam mengurus rumah tangga, tapi coba kau pikir, bagaimana bisa Ririn mengurus suaminya, sementara Zian sendiri jarang ada di rumah! kerja, kerja dan kerja, alasan saja, taunya dia selingkuh. Berkhianat, bukan kerja!" Rosna berkata dengan sengit.


"Baiklah, sepertinya tidak berguna bicara sama kamu, kedatangan mu kesini hanya mau membuat kekacauan. Tolong keluarlah dari sini."


Serena berdiri dan membentangkan telapak tangan kirinya, mempersilahkan Rosna keluar.


"Tidak kau suruh pun aku akan pergi dari sini, ingat aku akan kembali lagi nanti!"

__ADS_1


"Silahkan keluar. Dan satu hal lagi, tanyakan pada Ririn, apakah dia sudah mengurus suaminya dengan benar selama ini?"


Rosna melirik Serena sekilas. Kemudian melangkah pergi tanpa berkata apapun lagi.


Awas saja, akan ku perhitungkan semuanya! Rosna melangkah dengan kesal, meninggalkan rumah kediaman keluarga Guinandra.


Ya tuhan ....


Nenek macam apa itu?


Sedikitpun tidak menanyakan keadaan cucunya sendiri, bagaimana keadaannya atau berkata mau membawanya meski Serena tidak mengizinkannya.


Serena menghela napas. Mengusap mukanya yang sudah mulai menua.


Rosna seperti anak kecil, kata-katanya sama sekali tidak ada penyelesaian. Tidak jauh beda dengan anaknya. Pepatah mengatakan, rebung tidak jauh dari rumpun nya.


.


.


.


.


Di ****kantor****


Zian menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, matanya menatap langit-langit ruangan kerjanya. Tidak ada semangat apapun, beberapa pertemuan dengan klien pun ia batalkan. Bahkan suara ketukan pintu pun ia tidak mendengarnya.

__ADS_1


"Maaf pak, saya hanya mau memberikan ini," sekretaris itu menyodorkan sebuah map di hadapan Zian.


Zian menatapnya dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya.


"Apa kau tidak tau sopan santun lagi! hingga dengan mudahnya masuk ke ruangan ku!" Zian berkata dengan dingin.


Sekretaris itu menundukkan kepalanya, ia sedikit gugup.


"Maaf pak, tadi saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi bapak tidak mendengarnya, maka dari itu saya langsung masuk, dan memberikan dokumen penting ini," sekretaris itu tampak meremas ujung bajunya dengan erat.


Zian tampak memejamkan wajahnya sesaat, ia pun sadar, sudah cukup lama ia melamun.


"Pak, sebentar lagi kita ada rapat penting, tolong tanda tangan di sana, agar saya bisa mengurusnya," ucap sekretaris itu dengan kepala yang masih tertunduk.


"Cancel semuanya, saya lagi tidak ingin melakukan apapun hari ini,"


"Tapi pak ini penting, jika tidak ...."


"Apa! Kalau saya mengatakan tidak, ya tidak! Sekarang keluar kamu!"


"B..., baik pak,"


Sekretaris itu langsung berlari keluar, dan menutup pintu ruang kerja Zian, yang sekarang ini panas seperti api neraka. Tampak sekretaris itu memegangi dadanya. Emosi pimpinannya sedang tidak baik.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sampai di sini dulu ya manteman, 🙏🙏🙏

__ADS_1


Besok kita update lagi.


__ADS_2