
Zian pamit pergi. Memeluk istrinya begitu lama, serasa enggan untuk melepaskannya.
"Ingat pesan ku, Jaga semuanya. Aku titip Aura dan juga Mama, kau juga hati-hati di rumah."
Zian mencium dahi Sheril beberapa kali, mengelus perutnya dan menciumnya.
Dia juga pamit dengan Aura, mencium pipinya dengan gemas.
"Aura jangan nakal ya, jangan nyusahin Nenek dan Mama. Jaga Nenek, Nenek lagi kurang enak badan." Bocah itu mengangguk, dia tidak menangis ataupun terlihat sedih, bahkan dia tersenyum manis seperti mematuhi ucapan papanya.
"Ma, Zian pergi dulu. Jaga kesehatan Mama."
Zian mencium punggung tangan Serena.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa kasih kabar jika sudah sampai."
"Baik, Ma."
Heru sudah menunggu untuk menjemputnya.
Zian ingin melangkah, tapi sesaat dia menoleh dan menghampiri Sheril.
"Jaga semuanya. Aku pergi dulu."
"Iya hati-hati mas."
Zian melangkahkan tanpa menoleh lagi. Masuk kedalam mobil yang di kendarai Heru.
__ADS_1
Sheril menatap kepergian suaminya sampai mobilnya menghilang dari pandangannya.
Aura tampak melambaikan tangannya.
"Aura ayo masuk?"
Serena memegang tangan bocah itu dan membawanya masuk. Sementara Sheril menyusulnya dari belakang.
Entah mengapa Sheril merasa hampa, kepergian suaminya membuatnya menjadi sepi. Aura bersama Serena, sementara dia merasa canggung jika mengajak Aura jika dia sedang bersamanya.
Tetapi dia tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Dia benar-benar sepi. Memang iya, meninggalkan itu lebih baik dari pada di tinggalkan. Sheril tiba-tiba mengingat kata-kata suaminya.
Sheril beranjak dari tempat duduknya, naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Serena.
"Masuk!"
"Maaf Nyonya, aku mau ...."
"Sampai kapan kau akan memanggil ku dengan Nyonya? Apa kau ini bukan istrinya putraku?"
Sheril tersedak mendengar kata-kata Serena. Dia meremas ujung jemarinya dengan kaku.
"Apakah kau istri dari putraku, Zian?" Serena kembali bertanya dengan kata yang berbeda namun masih sama dengan pertanyaan sebelumnya.
Sheril ragu-ragu untuk menjawab, lalu akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Iya, iyaa ..., aku istri dari putramu."
__ADS_1
Serena menghela napasnya.
"Panggil seperti Zian memanggil ku." Ucapnya ketus.
"Iya, baik ..., Ma."
"Ada apa kau kemari."
"Aku, aku. Em, tidak, tidak apa-apa, aku cuma mau melihat Aura. Kalau begitu aku keluar dulu, permisi ..., Ma."
Serena tampak aneh melihat tingkah Sheril yang canggung itu.
"Tunggu!" Serena sengaja menghentikan langkahnya, dia tau maksud Sheril datang ke kamarnya. Sepertinya dia mau menemani Aura.
"Bawa Aura keluar." Titahnya dengan ekspresi biasa-biasa saja. Dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya, Sheril kembali masuk menghampiri Aura.
"Jaga dia baik-baik. Ucap serena lagi.
"Iya, Ma." Sheril mengulurkan tangannya mau menggendong Aura.
"Tidak perlu di gendong, kau perlu memegangi tangannya saja. Hati-hati." Sheril hanya tersenyum membalas ucapan mertuanya itu. Sheril tidak bisa menebak, sebenarnya seperti apa hati wanita ini terhadap dirinya? Apakah dia menganggap dirinya menantu di keluarga ini?
Sejauh ini juga, Serena tidak memiliki niat jahat, tidak juga memperlihatkan suka atau tidak terhadap menantu keduanya itu, hanya wajahnya selalu terlihat datar.
Dia pun begitu menyayangi cucunya itu. Rela mengabaikan pekerjaannya demi seorang cucu. Dalam hatinya juga sangat membenci Ririn, wanita itu tidak tau diri sama sekali, bagaimana mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya demi keegoisan dirinya sendiri? Ririn bukanlah wanita yang baik untuk menjaga seorang anak. Dia benar-benar tidak dapat di percayai.
Tapi Serena juga tidak tau, apakah keputusannya untuk menerima Sheril di rumah ini apakah benar?
__ADS_1
Memikirkan ini kepala serena menjadi sakit dan pusing.