
Sheril berkecamuk dalam pikirannya. saat Zian bersamanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa, namun hatinya sangat sakit saat menyadari kalau dirinya istri simpanan Zian. "Tuhan, apakah aku salah mencintai suamiku yang juga suami dan ayah dari seseorang yang aku tidak tau," batin Sheril, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Ketika itu pula suara mesin mobil berhenti tepat di halaman villa, membuyarkan lamunan Sheril, ia langsung menyibak tirai jendela kamarnya, memastikan siapa yang datang.
"Zian,"
Seketika bibir Sheril langsung mengembang membentuk sebuah senyuman. Entah dia merasa senang atau apa, Zian memanglah suami sahnya di agama, akan tetapi bukan isterinya yang tercatat di mata hukum, mengingat siapa Zian, hati Sheril mulai perih.
"Mas,"
Sheril langsung mencium telapak tangan Zian, namun Zian langsung memeluknya dengan erat.
"Aku kangen sama kamu," bisik Zian.
Sheril hanya tersenyum pahit.
"Mas, sudah makan?" Ujar Sheril mengalihkan pembicaraan Zian.
"Jangan pikirkan masalah makan ku, yang aku pikirkan itu kamu dan anak kita sayang," ucap Zian lalu mencium kening Sheril dengan lembut.
Sheril menarik napasnya, ucapan Zian membuat hati Sheril luluh antara senang dan sakit yang ia rasakan.
"Apakah yang ia katakan itu benar, jika aku percaya, bagaimana dengan anak dan istrinya, pastinya ia sangat mencintai mereka, jadi aku yang seperti apa? Apakah aku harus egois," Perasaan Sheril semakin sakit, hatinya seakan tercubit.
"Sayang kenapa kamu diam saja," Zian menatap Sheril dengan penuh tanda tanya.
"Kamu sakit," Zian mengangkat tangannya dan meletakkannya di kening Sheril, ingin memastikan kalau Sheril tidak baik-baik saja.
Sheril langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia menangkap ada kekhwatiran di wajah Zian.
__ADS_1
Sheril tersenyum.
"Tidak, aku hanya membutuhkan kamu saat ini mas," ujar Sheril yang langsung memeluk Zian dengan erat.
Entah apa yang ia pikirkan hingga berani berucap seperti itu. Zian tampak tertegun sesaat, mencerna ucapan Sheril.
Zian tau, kalu Sheril sangat membutuhkan perhatian lebih saat seperti ini, sama halnya dengan istrinya Ririn saat ia hamil putrinya Aura.
Zian mengusap pucuk kepala Sheril.
"Sayang, maafkan aku yang tidak bisa selalu menemani kamu, jangan berpikir macam-macam tentangku, aku di sana kerja, tapi aku janji, akan selalu ada di samping mu, menemani kamu, kamu bisa menghubungi ku saat ada sesuatu yang kamu inginkan, semua akses sudah bisa di pakai, kamu bebas menggunakannya," ucap Zian.
Sheril hanya mengangguk, dengan bibir yang tersenyum paksa, hatinya bagai luka yang tersiram air garam.
"Mas, boleh kah aku mengatakan sesuatu?" Ujar Sheril ragu.
Zian menatap Sheril dengan mengangkat kedua alisnya.
Sheril menarik napasnya kemudian membuangnya perlahan. Bibirnya terasa keluh dan berat, apakah ia sanggup mengatakan ini atau tidak. Sheril mencoba meyakinkan dirinya untuk tetap mengatakan keinginannya.
"Hey, kok melamun, ada apa sayang," ucap Zian dengan suara hampir tak terdengar, suaranya yang sangat lembut membuat Sheril menutup bibirnya rapat.
Ia tak mampu mengatakannya, dengan kata-kata manis seperti itu, sudah membuat hati Sheril melambung ke atas, ingin sekali ia bermanja-manja, tapi dengan pikiran yang memenuhi otaknya, ia urungkan seketika.
Padahal Sheril sangat senang dan bahagia hanya mendengar kata-kata manis dari Zian. "Aku tak mampu bicara, sungguh dia membuatku nyaman."
Air mata Sheril menitik, Zian melihat itu tertegun, sementara Sheril langsung memeluk Zian dengan erat.
"Kenapa sayang, kok menangis," bisik Zian yang masih dengan suara yang sama.
__ADS_1
Tidak, Sheril tidak akan mengatakannya, setidaknya dia menikmati kenyamanan ini sebelum ia lahiran.
"Sheril hanya ingin bersama mu saat seperti ini mas," lirih Sheril didalam pelukan Zian.
"Iya sayang, iya. Aku sudah bersama kamu, sudah ya," Zian membelai rambut Sheril.
"Ayo duduk saja, nanti kamu kecapekan kalau berdiri terus," Zian membimbing Sheril untuk merebahkan tubuhnya di kasur, sementara Zian duduk di tepi ranjang, mencium kening istrinya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku buat atau belikan," ucap Zian yang masih membelai rambut istrinya.
"Tidak, tidak ada, aku hanya," Sheril menundukkan wajahnya tidak melanjutkan kalimatnya, sementara Zian yang menunggu ucapannya semakin penasaran.
"Hanya apa?" Ucap Zian menatap istrinya dengan penasaran.
Wajah Sheril memerah menahan rasa malu. "Aku hanya mau di temani tidur," akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir manis Sheril. Zian langsung tersenyum memandang wajah istrinya yang lucu menurutnya.
Wajah Sheril semakin memerah, tapi Zian sangat menyukai itu.
"Benarkah, hanya itu saja?" Ucap Zian tersenyum menggoda istrinya yang kini tersipu malu sambil mengangguk.
Dengan wajah terus tersenyum, Zian ikut merebahkan tubuhnya memeluk Sheril.
"Tidak mau yang lain," bisik Zian kembali menggoda istrinya. Tubuhnya sudah bergetar menahan keinginannya. Zian sebetulnya takut jika Sheril menginginkan lebih dari itu, ia mengingat banyak bekas kiss mart di dadanya, ia tidak mau perempuan ini merasa sedih. Tapi Zian tau, Sheril tidak mungkin mengatakan hal itu, meski dia tidak akan menolak jika Zian menginginkannya.
"Terserah mas saja," kata itu yang keluar dari mulut Sheril.
"Ya sudah tidur lah sayang, aku menemani mu di sini," Zian merapatkan tubuhnya memeluk istri yang memejamkan matanya. Tangannya tak henti membelai rambut Sheril.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
yuk berikan vote dan komen ya, ikuti terus kisahnya, jangan lupa komen, itu adalah bentuk dukungan dari kalian.
terimakasih.