
Pagi hari
Sheril tidak melupakan kejadian semalam. Ia malu, lebih malu lagi jika dia bertemu dengan Zian.
Tapi, sepagi ini Zian belum akan keluar dari kamarnya, karena memang biasanya seperti itu.
Sheril keluar menuju dapur. Dia terpaku saat melihat seorang wanita paru baya sibuk di dapur.
"Em ..., lagi apa di dapur? Dan siapa yang memintanya?"
Wanita paru baya itu menoleh, dan terkejut melihat Nona muda yang cantik, lagi berbadan dua masuk ke dapur dan bertanya dengannya!
Baru kali ini aku melihatnya! siapa dia?
Wanita paru baya itu menatap Sheril begitu cermat. Lalu tersenyum kecil.
"Nona, kau baru datang, ya? Sehingga kau tidak mengenalku. Bibi sudah lama bekerja di sini, kemarin bibi sakit, makanya bibi izin pulang, setelah sehat, bibi kembali. Nama bibi adalah Lila, dan kamu siapa?"
Em .... Sheril terlihat ragu dan mengelus-elus rambutnya.
"Nama ku Sheril, Bi."
"Nama yang sangat bagus, cantik seperti orangnya," bibi Lila tersenyum.
"Sebelumnya Nona Sheril dari mana?"
"Em .... Aku, aku dari ...."
"Selamat pagi cantik," Sapa seorang Pria yang mengagetkan Sheril, dan membuatnya berhenti berkata.
Sheril menoleh ke sumber suara, menatap laki-laki tampan yang berdiri tegak di seberangnya. Sheril menatap pria tampan itu, ia tidak jauh beda dari Zian, cuma Pria ini lebih putih dari suaminya. Bersama dengan itu juga, bibi Lila juga menoleh.
"Den, kau kapan datang?" Bibi Lila tampak senang dan beranjak dari tempatnya menghampiri Pria yang Sheril tidak tau namanya.
"Kemarin, Bi."
Mereka bersalaman.
"Wah ..., den, kau semakin cakep, sudah lama tidak bertemu dengan mu!" Bibi Lila tampak girang memujinya, hingga pria itu malu-malu dengan senyuman simpulnya.
"Ah bibi bisa aja."
"Bibi bicara serius, ayo kau mau sarapan apa? Biar bibi buatkan."
"Tidak perlu repot-repot bibi, apa pun yang bibi masak nanti, akan saya makan."
"Kamu memang baik den, sekarang kamu mau apa? Biar bibi ...."
__ADS_1
"Aku hanya mengambil air minum, Bi."
"Oh ya sudah, bibi lanjut masak lagi ya."
"Ok, Bi."
Mereka terlihat sangat akrab, Pria ini ramah dan menyenangkan. Sheril terdiam mendengar obrolan mereka.
"Oh ya cantik, kamu dari mana?" Pria itu kembali bertanya.
Sepertinya dia tidak tau apapun tentang dirinya.
"Oh, saya dari sana."
Sheril menunjuk asal.
Sementara Reza melihat telunjuk yang di arahkan Sheril, lalu mengernyit bingung. Saat dia berbalik dan ingin bertanya, wanita itu sudah di dapur bersama bibi Lila. Dia menghela napasnya lalu pergi.
"Bibi, aku bantuin ya?"
"Tapi, non. apakah tuan dan nyonya tidak akan marah?"
Tuan dan nyonya? Mungkin yang di maksud bibi Lila adalah nyonya, mamanya Zian.
"Oh, tidak bibi, sebelum bibi datang, aku yang menggantikan bibi."
Bibi Lila menatap Sheril. Apa mungkin dia melakukannya? dalam keadaan begini?
"Tidak apa-apa bi, aku sudah terbiasa, dan tidak akan membuat aku menjadi lelah."
"Emang kandungannya sudah berapa bulan, non?"
"Enam menginjak tujuh bulan bi."
"Bibi, aku bantu memotong sayuran ya."
"Baiklah. hati-hati, pisaunya tajam, Non."
Sheril tersenyum, pokus memotong sayuran, kemudian langsung mencucinya.
"Sejak kapan bibi bekerja di sini, Bi?"
"Wah sudah lama sekali non, sejak Tuan Alzian masih kecil, bibi sudah mengabdi disini."
"Oh."
Berarti bibi Lila banyak tau tentang keluarga ini.
__ADS_1
Setelah selesai memasak, Sheril pamit ke kamar. dan bibi Lila mengangguk.
Tidak terdengar gadis kecil menangis, Sheril sedikit merindukannya. Tadinya ia merasa sepi, tetapi ada bibi Lila, bisa menemaninya ngobrol walau sebentar.
Terdengar suara mereka berbicara di ruang makan, sepertinya mereka sedang sarapan.
Zian melirik pintu kamar Sheril yang tertutup, ia sedikit khwatir. Dia belum melihatnya pagi ini.
Terdengar suara bocah memanggil papa.
"Papa ...."
"Kenapa sayang?"
"Mama ...,"
Bocah itu malah menyebut Mama, yang mereka kira Aura menanyakan mamanya.
"Aura sarapan dulu ya, nanti ketemu Mama, oke."
Bocah itu mengangguk. Zian mengangkat tubuh kecil putrinya dan meletakkannya di kursi makan khusus balita. Sementara baby sister mengambil makanan Aura, dan segera menyuapkan makanan itu. Baru beberapa sendok, Aura menggelengkan kepalanya, menolak tidak mau makan lagi.
"Ngk mau ..., ngk mau." Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang kecil.
"Aura, sarapan dulu ya."
"Ngk."
Dia terus saja menggeleng.
"Mama ...,"
Dia kembali menyebut mama. Serena dan Zian merasa aneh, tidak biasanya Aura seperti itu, begitu kerap menanyakan mamanya.
Selesai sarapan, Zian tidak langsung beranjak, dia berharap Sheril keluar hari ini. Tetapi yang ia tunggu tidak kunjung muncul. Zian beranjak meninggalkan meja makan dengan hati yang sedikit gundah.
Sampai di sini dulu update untuk hari ini ya🙏
Selamat membaca. jangan lupa dukung terus karya author.
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
__ADS_1
komen jika ada kritik dan saran☑️
dan jangan lupa follow akun author ☑️