Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
129


__ADS_3

"Kita akan keluar kota bersama, sebentar lagi kita akan terbang."


"Apa?"


Zian tersenyum, menggeser posisi duduknya, hingga mepet di samping Sheril tanpa jarak.


Zian merangkulnya.


"Kita belum pernah keluar kota bersama, jadi kita akan pergi sekarang!"


"Tapi ..., bagaimana dengan ...."


"Tidak usah di pikirkan itu, nanti aku akan memberitahunya."


Zian mengeluarkan ponselnya, dan menelpon seseorang.


Sheril tidak menyangka dia akan keluar kota bersama Zian.


Tetapi di merasa tidak tenang, karena tidak ada persiapan sama sekali, hanya membawa baju yang membalut tubuhnya sekarang.


Kemana mereka akan pergi? Sheril tidak ingin banyak bicara.


Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman agar penumpang segera naik ke dalam pesawat.


Zian menggandeng tangan Sheril, melangkah menuju pesawat. Merasa ada keraguan dengan langkah kakinya, Zian segera meliriknya dan berkata: "Kenapa seperti gelisah? Apakah kamu menyesalinya?"


"T .., tidak, aku. Aku hanya, tidak membawa apa-apa."


"Tidak perlu khwatir, kita bisa membeli keperluan mu setelah sampai, termasuk pakaian mu. Apa kamu memikirkan itu?"


Dengan malu-malu Sheril mengangguk.


"Kita akan membelinya nanti."


Setelah mendengar kata itu, Sheril merasa lega, langkahnya semakin pasti, Zian tersenyum dalam hati, sembari membawa Sheril masuk ke kelas bisnis. Tentu saja sangat berbeda dengan kelas ekonomi yang penuh dan sesak.


Sebenarnya Sheril takjub, dia belum pernah naik pesawat semewah ini. naik pesawat saja mungkin baru 3 kali, itu pun kelas terendah.


Dia mengingat waktu pertama kali naik pesawat, dia takut dan cemas, hingga tubuhnya sedikit menggigil. Tapi sekarang tidak lagi, dia sudah bisa tenang.


Setelah di dalam pesawat, Zian segera mengatur tempat duduk Sheril, merebahkan sedikit kursinya, agar dia merasa nyaman.


Kursi di Kelas Bisnis berdesain ergonomis dan bisa ditekuk sampai mendatar seperti tempat tidur. Jadi kita bisa berbaring dengan nyaman. Tersedia pula layar LCD untuk setiap penumpang yang berisi berbagai hiburan. Bahkan ada power suplai laptop di setiap kursi.


Zian menawarkan berbagai menu makanan, jika Sheril ingin ngemil dan makan. Sheril menggeleng pelan. Namun Zian tau, tentu saja dia belum memasukkan sesuatu makanan atau minuman kedalam perutnya.


Zian memesan susu hangat dan secangkir teh, juga beberapa potong roti untuk mengganjal perut mereka dalam pesawat.

__ADS_1


Sebetulnya dia sangat perhatian dan penyayang, hanya belum bisa saling memahami.


Sheril merasa tempat duduknya terlalu merebah, tidak nyaman untuknya bersandar.


Tidak lama kemudian pesanan makanannya sudah sampai, Zian teh hangat dan Sheril segelas susu.


"Minumlah selagi hangat. Kau pasti belum memakan sesuatu,"


Sheril diam sambil meliriknya bicara. Perasaannya terharu, lalu mengangguk dengan cepat.


Zian mengigit roti, melirik Sheril yang duduk di sebelahnya, terlihat dia gelisah dengan posisi duduknya. Dia meletakkan rotinya, bangkit menghampiri Sheril.


"Kenapa? tidak nyaman dengan kursinya?"


Zian bertanya.


"Iya, sepertinya kursinya terlalu rebah."


Zian membungkuk ingin mengatur tempat duduk Sheril, namun dia tiba-tiba hendak berdiri, dan tentu saja wajah mereka saling dekat, bahkan mungkin tinggal tiga senti atau dua senti saja, sedikit lagi Sheril bergerak, bibir mereka akan menyatu, dan itu membuat Sheril sangat malu. Wajahnya sudah berubah menjadi pink, jantungnya berdebar keras. Saat Sheril mau berpaling, dengan cepat Zian mencium bibirnya. Dia tersenyum simpul, membuat Sheril semakin kaku.


Perasaan Zian sudah tidak karuan lagi, jantungnya berpacu dengan cepat, serasa dadanya ingin meledak sekarang juga.


"Tidak perlu berdiri, duduk saja, aku akan mengatur posisi nyaman mu."


Zian berkata sambil memandang Sheril tidak berkedip. Sheril merasakan hembusan nafasnya.


Sheril sangat gugup dan malu, akhirnya dia duduk kembali dengan memalingkan wajahnya. karena wajah Zian dekat dengannya sekarang.


"Bagai mana? Seperti ini sudah nyaman?"


Sheril mengangguk: "Ya."


Zian tersenyum dan ingin menggodanya lagi, dia segera mendekatkan wajahnya, meniup pipi Sheril yang menghadap ke samping.


hu .... Zian meniupnya dengan lembut. Merasa ada angin yang menghembus wajahnya, Sheril meluruskan wajahnya. Dan lagi-lagi dia bertatapan dengan Zian dekat sekali. Sheril sangat terkejut dan tercengang.


Zian kembali mengulangi adegan tadi, mencium dan langsung ******* bibir Sheril dengan cepat, kemudian melepaskannya. Jempolnya menempel di bibir Sheril, menghapus air liurnya yang membasahi bibir Sheril.


"Maaf, aku menyukai bibir mu."


Setelah itu Zian kembali ke tempat duduknya, menyesap teh sambil mengigit roti. Merasakan roti yang dia gigit sangat empuk, dia terbayang, kalau roti ini adalah tubuh Sheril yang sedang dia gigit. Membayangkan hal itu membuat sesuatu langsung terbangun dari tidurnya.


Aduh gawat, bagai mana ini? Sabar-sabar, tidak lama lagi pesawat akan lepas landas, dan empat puluh lima menit akan sampai. Zian sudah memesan Deluxe room, dia sengaja mengganti kamarnya. Karena menurutnya, dia akan berdua, dan akan membuat Sheril senyaman mungkin.


Zian meminta pelayan hotel untuk menghias kamarnya sebaik mungkin. Menurutnya, ini adalah bulan madu Sheril dan dirinya yang pertama kali.


Zian melirik Sheril yang memejamkan matanya, sambil memeluk dirinya sendiri. Mungkin dia kedinginan karena tidak membawa jaket. Susu dan rotinya juga sudah habis dia makan.

__ADS_1


Melihat itu, Zian segera melepaskan blazer miliknya, dan menyelimuti tubuh Sheril. Dengan cermat dia memandangi wajah Sheril yang sudah terlelap. Meski dia dalam keadaan hamil, Wajahnya tidak berubah, dia benar-benar cantik seperti yang Reza katakan.


Setelah Zian amati, dia baru sadar kalau Sheril lebih cantik dari pada Ririn. Hanya saja, Ririn punya penampilan serba glamor, sementara Sheril hanya mengenakan bedak tipis, tidak banyak itu dan ini, dan pakaiannya juga biasa-biasa saja, tidak banyak aksesoris yang di pakainya, meski Zian membelikannya waktu itu.


Sheril menggeliat. Tatapannya tertuju pada blazer yang menutupi setengah tubuhnya. Lalu berpaling melirik Zian yang mengenakan earphone bluetooth yang terpasang di telinganya. Sheril menatapnya tanpa berkedip. Setampan itukah suaminya?


Dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya, sangat kontras di tubuhnya yang kekar. Zian melirik Sheril, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya. Wajahnya berubah semu, Sheril berharap, semoga dia tidak tau kalau dia memandanginya begitu lama tadi.


Tetapi Pria itu senyum-senyum. Jelas saja Zian melihat pergerakannya.


"Kamu sudah bangun?"


Sheril melebarkan matanya, lalu menjawab dengan cepat dan singkat: "Iya."


Dia gugup, hatinya berdebar-debar.


Zian kembali pokus dengan musiknya yang dia dengar.


Tidak lama kemudian, pesawat yang mereka tumpangi melandas. Pengumuman bahwa pesawat mereka akan mendarat, semua penumpang tampak bersiap-siap.


Zian menggandeng tangan Sheril. Sementara mobil sudah siap untuk mengantarnya ke tempat tujuan, yaitu hotel yang sudah di siapkan sebelumnya. Zian sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di hotel.


Di kamar hotelnya, sudah siap makanan romantis yang akan menyambut kedatangan mereka.


.


.


.


Author sudah update lagi ya. jangan lupa dukungannya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author ☑️


 

__ADS_1


__ADS_2