Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Gelisah


__ADS_3

"Denis, aku ingin bicara padamu," ujar Sheril setelah Denis datang kerumahnya.


"Iya bicaralah, apa yang kamu inginkan," ucap Denis.


"Denis, aku ingin membicarakan masalah kemarin. Tolong pikirkan lagi keputusan mu, aku sudah menikah itu benar, bagaimana aku bisa menikah dengan mu, aku mohon urungkan niat mu, lagi pula, setelah lahiran, aku akan melanjutkan pendidikan," ujar Sheril.


"Sheril, Kakek dan Nenek kamu sendiri yang datang, menemui ku, tidak mungkin aku menolaknya, lagi pula ucapan mu tidak akan di percayai olek kakek kamu, apa lagi kamu tidak menunjukan buku nikah, mana mungkin mereka percaya," ujar Denis.


"Ah tunggu sebentar," ujar Sheril seraya pergi dari hadapan Denis. Ia seperti mendapatkan angin segar, bagaimana ia bisa melupakan cincin kawinnya yang waktu itu Zian sematkan di jari manisnya. Sheril langsung mengambil cincin yang ia simpan di dalam tasnya.


"Denis, ini salah satu bukti kalau aku sudah menikah, ini cincin kawin ku," ujar Sheril seraya menunjuk cincin di jari manisnya.


Denis melebarkan matanya.


"Ini berlian, dari mana kamu mendapatkannya?" Ujar Denis tidak percaya. Ini cincin sangat indah dan tentu juga harganya sangat mahal, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membelinya. Tapi Sheril bisa memilikinya, bagaimana bisa?.


"Denis, sudah aku katakan, ini cincin kawinku yang di berikan oleh suamiku waktu kami menikah," ujar Sheril.


"Tidak mungkin, bisa jadi ini limitasi," gumam Denis.


"Sheril ini tidak bisa membuktikan yang sebenarnya, kamu atau aku juga bisa membelinya di toko perhiasan yang ada di pasar kampung kita ini," ujar Denis tetap kekeuh dengan pendiriannya.


Sheril kehabisan cara untuk membujuk Denis, ia sama sekali kehabisan akal.


"Kenapa Sheril, aku tulus sama kamu, dari dulu aku mencintai kamu," ujar Denis menatap Sheril dengan seksama.


"Denis, maafkan aku, aku sama sekali tidak mencintai kamu, bagaimana kita bisa menjalani rumah tangga seperti itu," ujar Sheril. Berharap Denis akan berubah pikiran.


"Sheril, aku tidak mempermasalahkan soal kamu tidak mencintaiku, yang terpenting aku mencintai kamu, sudahlah, apakah kamu tidak ingin menuruti keinginan nenek kamu?" ujar Denis.


"Denis, maka dari itu aku bicara sama kamu, agar kamu membatalkan rencana konyol ini," ujar Sheril.


"Tidak Sheril, aku tidak akan membatalkannya," ujar Denis. Ia berlalu pergi meninggalkan Sheril.


Sheril meremas jemarinya. Pikirannya tertuju pada Zian. Sebenarnya apa tujuan Zian menikahinya, dan apa arti pernikahan itu. Pikiran Sheril berbaur jadi satu.


...****************...


Zian habis mandi, ia segera mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Setelah menyisir rambutnya, ia segera keluar dari kamarnya menuju kamar si kecil Aura.


Zian tersenyum saat melihat putri kecilnya yang masih terlelap.

__ADS_1


"Sayang, maafkan papa ya, papa jarang di rumah," tiba-tiba Aura menggeliat, ia membuka matanya dengan sempurna. Aura menatap Zian, ia langsung menampilkan senyumannya. Zian pun langsung menggendong putrinya.


"Uh, anak papa sudah bangun, kangen papa ya," ujar Zian, sementara Aura kegirangan di gendong Zian, ia terkekeh menatap papanya, Zian pun gemes, ia menciumi pipi tembem putrinya.


"Zian," panggil Serena tiba-tiba dari belakang. Zian langsung menoleh.


"Iya, Ma,"


Serena menutup pintu kamar Aura.


"Kamu kemana saja? Kemarin Ririn menyusul kamu, dia tidak menemukan kamu di sana. Sebenarnya kamu kemana?" Tanya Serena menatap putranya.


Zian terdiam. Ia tidak menjawab ucapan Mama Serena.


"Zian, mama nanya sama kamu," ujar Serena membuyarkan lamunan Zian. Serena mengambil Aura dari gendongan Zian.


"Sayang, cerita sama Mama, ada apa? Kamu kemana? Biasanya kamu tidak menutupi apa pun dari mama," ujar Serena berharap putranya mau cerita.


"Ma, Zian malas aja di rumah, Zian pusing," ujar Zian.


"Pusing kenapa? Cerita dong," ujar Serena.


"Tadi Ririn marah-marah, karena ia tidak menemukan Zian di proyek baru itu," ujar Zian memulai pembicaraan.


"Zian pusing melihat sikap Ririn seperti ini, Ma, aku tidak di anggap sama sekali," ungkap Zian.


Serena menatap Zian, ia mengelus pundak Zian.


"Itu kan istri kesayangan kamu, apa dia menghargai kamu? Tidak, kan. Bahkan ia sama sekali tidak berperan sebagai ibu rumah tangga, kamu tidak boleh diam saja, lama-lama kamu di perbudak istri kamu sendiri," ujar Serena.


"Terserah dia, Ma," ucap Zian malas.


"Istri kamu itu terlalu manja, apa-apa ngk ada yang bisa. Dia itu bukan ngk bisa, tapi malas, dikit-dikit ngandelin pembantu, kerjaan main ponsel baca majalah, habis itu shopping ngabisin uang kamu, itu yang dia bisa, kamu ajarin dong istri kamu, jangan biarkan sikapnya seperti itu," ujar Serena.


"Sudahlah, Ma, nanti Zian coba mengatakannya," ucap Zian.


"Mama itu kasihan sama kamu lo, Nak, bukan Mama ikut campur dengan urusan kamu," ucap Serena.


"Iya, Ma, Zian pergi dulu," pamit Zian.


"Mau kemana lagi," ucap Serena.

__ADS_1


"Keluar sebentar, Ma," ucap Zian tanpa menoleh mamanya.


Serena menggelengkan kepalanya menatap punggung Zian yang sudah menjauh.


Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tanpa ia sadari kalau mobilnya mengarah ke VillaZa.


Sesampainya di VillaZa, Zian langsung menuju kamar miliknya.


Zian langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, matanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Zian tidak dapat memejamkan matanya, ia kembali berdiri. Zian menghadap ke jendela kamarnya yang menuju taman belakang, pandangannya tertuju pada seseorang perempuan berbaju putih, ia sedang membersihkan bunga-bunga itu.


"Sheril," gumam Zian. Tanpa pikir panjang lagi Zian langsung turun dan pergi ke taman belakang. Ia tidak menyadari kalu Sheril sudah pulang beberapa hari yang lalu.


Zian merasa lesu saat mengetahui kalau itu bukanlah Sheril, melainkan istri dari pak Warin. Wajah Zian langsung berubah datar.


"Eh, Tuan, kapan datang," sapa istrinya pak Warin tukang kebun itu.


"Tadi, kemana pak Warin, Bu?" Tanya Zian.


"Bapak kurang enak badan Tuan, maka dari itu, ibu yang yang menggantikan pekerjaannya," ujar ibu itu sambil memotong dahan bunga mawar yang sudah tua.


"Baiklah, lanjutkan saja pekerjaan mu," ujar Zian berlalu pergi.


Zian pergi ke ruang keluarga. Ia langsung merebahkan dirinya di sofa bed dan menyalakan televisi. Zian juga tidak berasa nyaman, akhirnya ia kembali ke kamar lagi.


Zian merasa gelisah, ia mondar-mandir di dalam kamar. Bayangan wajah Sheril kembali hadir di pelupuk matanya.


"Tidak, aku tidak bisa seperti ini," Zian pergi lagi meninggalkan VillaZa.


Sampai di persimpangan jalan, Zian menelpon seseorang.


"Baiklah, aku tunggu besok," begitulah pembicaraan Zian di dalam ponsel Androidnya. Kemudian Zian menutup pembicaraannya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


**Like ✅


vote ✅


GIF ✅**

__ADS_1


__ADS_2