
Setelah rapat yang memakan waktu berjam-jam, Alzian nampak lelah, ia menyandarkan badanya di kursi kebesaran. Tampak ia memijat keningnya, kemudian merogoh saku celana mengambil benda pipih itu lalu menyalakannya. Alzian sengaja mematikan ponselnya saat sedang mengadakan rapat apa pun. Ia tidak ingin merasa terganggu dengan benda elektronik saat mengadakan acara terpentingnya.
Saat Alzian menyalakan ponselnya. Ratusan pesan dan panggilan yang entah apa saja isinya. Alzian pokus menatap isi pesan dari istrinya.
"Kamu itu sudah keterlaluan Zian, berpuluh-puluh kali aku telpon tidak aktif! Aku chat juga tidak kamu balas, bukannya berniat mau menyusul kami, kamu malah sibuk dengan dirimu sendiri, tidak ada kabar sama sekali dari mu kalu bukan aku yang yang menghubungimu,"
Zian mengusap mukanya dengan kesal setelah membaca pesan dari Istrinya. Zian tidak berusaha membalasnya. Ia memasukkan ponselnya kembali. Lalu mengambil jas yang di taruhannya di sandaran kursi.
Alzian mulai merasa tertekan dengan istrinya.
"Heru, saya akan pulang sekarang juga," ucap Zian setelah berada di ruang kerja asistennya itu. Heru menatap Zian penuh tanda tanya, tidak biasanya Zian menampilkan wajahnya seperti itu.
"Maaf Tuan, apakah ada masalah dengan mu?" Tanya Heru.
"Tidak, saya hanya kurang enak badan," ujar Zian berbohong.
Heru tau kalu Alzian sedang berbohong. Tapi Heru pikir, ia tidak perlu terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya.
"Baiklah, saya akan mengantar mu tuan," ujar Heru.
"Tidak perlu, kamu selesaikan pekerjaan mu saja, biar saya pulang sendiri," ujar Zian datar.
"Baiklah, ini kontak mobilnya Tuan," ujar Heru menyodorkan kontak mobil pada Zian.
Zian kemudian pergi meninggalkan kantornya dengan perasaan tidak enak. Ia masih memikirkan pesan dari istrinya. "Apa maunya kamu Ririn, kenapa kamu tidak ingin mengerti," sesal Zian. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mertuanya, dimana Ririn di besarkan di sana.
Dengan langkah malas, Zian memasuki rumah tersebut.
"Ririn, Aura!" Teriak Zian saat berada di dalam rumah mertuanya.
"Zian, kamu sudah pulang dari kantor," ujar mama mertuanya yang bernama Rosna.
"Iya, Ma, Aura sama Ririn mana?" Tanya Zian sambil celingukan mencari keberadaan anak dan istrinya.
"Ada di atas, sini mama mau bicara sama kamu," ujar mama mertuaya membuat hati Zian bertanya-tanya, karena tidak biasanya mama mertuanya bicara begitu.
Zian mengikuti langkah mama mertuanya ke teras samping.
"Bibi! Buatkan minum untuk menantuku!" Teriak Rosna.
"Baik Nyonya," ujar seseorang dari dapur.
Setelah mereka duduk di kursi teras belakang, Rosna mulai bicara.
"Zian, sebetulnya ada masalh apa dengan kalian, kenapa Ririn pulang kesini dengan air mata, apakah kamu menyakiti putri ku?" Tanya Rosna menatap Zian.
Zian tidak suka dengan pertanyaan mertuanya itu. Ia menarik napas lelahnya.
"Menyakitinya bagai mana, Ma? Apa Ririn menceritakan sesuatu pada Mama?" Zian balik bertanya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama, tapi kamu sudah ikut bertanya juga," ujar Rosna mengalihkan pandangannya.
"Bukan begitu, Ma, masalahnya aku tidak mengerti, kenapa Ririn pulang kesini menangis aku ngk tau," ujar Zian menatap wajah mertuanya.
__ADS_1
"Justru itu, kenapa kamu ngk tau Zian, karena kamu tidak peduli dengan keluarga mu," ujar Rosna.
"Ma, maaf sebelumnya. Tolong jangan katakan kalu aku tidak peduli dengan keluarga ku, apa lagi sama anak dan istriku, dan juga, Ma ... biakan aku menyelesaikan masalahku dengan Ririn," ujar Zian meninggalkan mama mertuanya begitu saja.
Rosna tampak kesal dengan Zian. "Anak tidak sopan, orang tua belum selesai bicara, di tinggal pergi begitu saja," Rosna menuding Zian dari belakang.
"Ririn!" Panggil Zian setelah ia masuk kedalam kamar istrinya. Zian menghampiri putrinya dahulu, ia mencium kening putrinya yang sedang terlelap.
Ririn seolah tidak tau dengan kedatangan suaminya.
"Ririn, aku ingin bicara sama kamu," ujar Zian datar.
Ririn tidak memperdulikan suaminya. Ia sibuk dengan ponselnya.
"Ririn, tolonglah jangan bersikap seperti ini, ini hanya masalah sepele, kita bisa menyelesaikannya dengan baik," ujar Zian menatap Ririn dengan tatapan dalamnya.
Zian jengkel melihat Ririn mengabaikannya. Lalu Zian mengambil ponsel istrinya yang langsung mendapatkan kemarahan dari Ririn.
"Zian! Kamu apa-apaan sih, kembalikan ponselku!" Teriak Ririn seraya ingin merebut ponsel dari tangan suaminya.
"Ririn ...! " Bentak Zian yang sudah tersulut emosi. Matanya memerah menatap Ririn dengan marahnya.
"Tolong hargai sedikit saja suami mu ini! Aku lagi bicara sama kamu, kamu malah sibuk main ponsel! Apa itu cara seorang istri memperlakukan suaminya! Jangan mentang-mentang aku sangat mencintai kamu! Kamu jadi besar kepala, aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap kamu ini,"
"Zian ... kamu sudah sangat berubah sekarang, aku tidak mengenali Zian yang dulu, yang selalu menuruti keinginan anak dan istrimu," ungkap Ririn menahan emosinya.
"Yang membuat aku berubah sekarang itu adalah kamu sendiri Ririn! kamu itu tidak pernah berubah sedikit saja, kamu tidak pernah ingin mengerti keadaanku, maunya kamu saja yang minta di mengerti, kamu tidak tau bagaimana otakku berpikir keras untuk masa depan anak-anak kita! Ini ponsel mu, bermainlah sepuasnya," ujar Zian meletakkan ponsel di tangan Ririn.
Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Ririn.
Ririn mengepalkan kedua tangannya. Ia kesal dengan Zian.
...****************...
Sementara Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Emosinya sudah meledak sama Ririn. Untung saja Zian masih bisa menahannya.
Zian tidak bisa berpikir jernih saat ini. Kepalanya pusing tidak karuan. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan.
"Ah ... "
Zian memukul setir mobilnya dengan keras. Kemudian menghentikan mobilnya di mini bar yang ada di pinggir jalan. Zian sudah tidak taha ingin menuntaskan pikirannya dengan meneguk minuman yang beralkohol, agar pikirannya sedikit tenang.
"Hai Zian. Ngapain kamu disini," ujar seorang perempuan menepuk pundak Zian.
Zian menyipitkan kedua matanya. Ia berusaha mengingat perempuan yang duduk di sampingnya saat ini. Wajahnya tidak familiar, tapi Zian lupa dimana ia pernah bertemu dengan perempuan tomboi itu.
"Siapa ya, saya benar-benar lupa," ujar Zian masih menatap perempuan tomboi itu.
"Sudah kuduga. Kamu pasti melupakan aku," ujar perempuan itu tersenyum pada Zian.
Zian mencoba mengingat perempuan tomboi itu. "Senia, temanya Nino, iya kan?"
Senia melebarkan senyumnya. Lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Apa kabar kamu sekarang? Dan kenapa kamu di sini?" Ujar Zian.
"Nanya itu satu-satu bro. Lagian siapa yang duluan nanya," ujar Senia sambil menuangkan wine ke dalam gelas milik Zian.
"Oke-oke. Saya kesini ya biasalah mau apa lagi coba, kamu sendiri? Ngapain disini?" ujar Zian sambil meneguk wine.
"Ya memang tempat aku disini," ujar Senia datar.
"Oh, kamu kerja disini," ujar Zian lagi.
Senia menganggukkan kepalanya.
"Nino mana?" Tanya Senia.
"Ngk tau, itu anak sering ngilang kayak siluman," ujar Zian membuat Senia terkekeh.
"Aku akan menelponnya, biasanya dia nongkrong di sini," ujar Senia, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Belum sempat Senia menelponnya, "itu dia silumannya nongol," ujar Senia tersenyum tipis saat melihat Nino keluar dari mobilnya.
"Zian ... kenapa kamu disini," ujar Nino menghampiri Zian dan Senia..
"Emangnya kenapa kalau aku disini? Kamu sendiri ngapain juga kesini," ujar Zian tak ingin kalah dengan Nino.
"Sabar bro, gue kan cuma nanya, biasanya lo ngk pernah nongkrong di tempat seperti ini," ujar Nino mencurigai sahabatnya sekaligus sepupunya itu.
"Kebetulan lewat tadi, langsung mampir," ucap Zian datar.
"Lo kenapa bro? Apa ada masalah?" Tanya Nino.
"Ngk ada apa-apa," ujar Zian datar.
"Jangan bohong bro, gue itu kenal lo lama, bukan setahun dua tahun. Cerita bro, siapa tau gue ada solusi," ujar Nino cengengesan.
Zian tersenyum kecut. "Biasalah bro, masalh keluarga," ujar Zian.
"Sabar ya bro, bawa happy aja, jangan terlalu di pikirkan, nanti lo cepat tua," ucap Nino membuat Senia terkekeh.
Zian mengancam Nino dengan sorot mata tajamnya. Nino langsung menggaruk kepalnya yang tidak gatal.
"Nino, aku ingin bicara padamu," ujar Zian menatap Nino.
"Katakan saja," ujar Nino meneguk minumannya.
"Ya ngk disini juga, otak lo itu ngk cerdas banget," ujar Zian. Nino hanya terkekeh mendengar ucapan Zian.
"Sepertinya sanga pribadi," bisik Nino.
"Iya, itu semua gara-gara lo," ujar Zian.
Nino memutar mutar bola matanya. " Sepertinya gue paham apa yang ingin lo bicarakan," ujar Nino menatap Zian.
"Akhirnya otak lo cair juga," ujar Zian tersenyum tipis menatap Nino. Sementara Nino hanya bisa mengedikkan ke-dua bahunya.
__ADS_1
jangan lupa vote dan like nya ya reader. tap ❤️ agar kalian mengetahui setiap author update. dan follow juga ys.