Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Relaks coffee


__ADS_3

Zian merasa bersalah pada perempuan yang sudah dinodai nya tempo itu. Ia dangat menyesali perbuatannya. Gara-gara Zian perempuan itu yang tidak lain adalah Sheril, ia telah di keluarkan secara tidak hormat dari kampusnya. ternyata perempuan itu mahasiswa yang selalu berprestasi tinggi. Ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolahnya. Tapi karena Zian, harapan dan masa depannya hancur, ia di usir dan di hina, bahkan pihak sekolah mengusirnya juga dari apartemennya.


Zian nampak frustasi memikirkan masalahnya itu. Apa lagi kalu perempuan itu hamil anaknya. "


"Bos, saya sudah mengikuti mereka lagi? sepertinya, mereka kerja di Relaks coffee," ujar anak buah Zian.


"Baiklah, kalu begitu aku akan menyuruh Nino untuk datang kesana sekalian," ujar Zian mematikan telponnya. Zian langsung menghubungi Nino.


"Apa yang harus aku katakan jika dia mengenali ku, Bos?" Ujar Nino.


"Justru karena itu, kamu harus kesana, ,kamu pastikan kalau dia masih mengingatmu atau tidak," ucap Zian.


"T-tapi Bos ... "


"Tidak ada tapi tapian, ini semua juga gara-gara kamu! Saya tidak mau tau itu," ujar Zian langsung memotong ucapan Nino.


"Baiklah, saya segera kesana," ujar Nino.


"Ah sial, kenapa urusan ini menjadi rumit seperti ini, dan bagaimana jika perempuan itu melakukan sesuatu setelah mengenaliku? Ah tidak ... tidak ... bagaimanapun caranya aku akan bicara padanya," gumam Nino.


Setelah sampai di Relaks coffee, Nino memperhatikan keadaan di dalam cafe itu, ia melihat Simba sudah menunggunya di dalam cafe.


Nino langsung turun setelah melihat Simba duduk disana.


"Hai Bro, akhirnya kamu datang juga," ujar Simba mengacungkan telapak tangannya, mereka bersalaman ala laki-laki.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Nino setelah ia duduk.


"Oh tidak, aku juga belum lama duduk disini," ujar Simba.


"Ngomong-ngomong, mana perempuan itu?" Ujar Nino menarik kedua alisnya keatas.


"Sit ... aku sudah memesan kopi, kamu mau pesan apa?" Tanya Simba melirik Nino. Sementara Nino tampak celingukan mencari sesuatu.


"Iya aku juga mau memesan kopi,"


"Nino, kendalikan dirimu. Jangan membuat mereka mencurigai kita dengan sikap mu itu, tenang lah, bersikap santai lah dengan seolah-olah kamu hanya mampir disini," ujar Simba memelankan suaranya.


"Baik bos," ujar Nino menuruti kata-kata Simba.


Seorang pelayan perempuan mengantarkan kopi yang di pesan Simba barusan.


"Em, Mbk aku juga mau pesan kopi," Ujar Nino.


"Baik tuan, tugu sebentar ya," ujar pelayan itu meletakkan gelas kopi pesanan Simba.


"Maaf Mbak, toiletnya ada di mana?" Ujar Nino. Simba menatap Nino dengan lekat, ia tau taktik Nino, sebetulnya ia bukan ingin ke-toilet.

__ADS_1


"Ada di sebelah sana Tuan, dari sini lurus saja, terus belok kiri, ikuti tanda panah," ujar pelayan itu menjelaskan dengan rinci.


"Baik, terimakasih," ujar Nino seraya melangkah meninggalkan Simba.


"Nino!" Simba mengejar Nino,


"Aku tau kamu bukan mau ke toilet," ujar Simba.


"Astaga bro, gue beneran mau ke-toilet, kalo ngk percaya ayo ikut dengan ku," ujar Nino menarik tangan Simba.


"Ogah, ngapain gue ikut lo ke-toilet, awas lo kalu macem-macem," ujar Simbal langsung memutar balik langkah kalinya.


Simba kembali ketempat dimana ia duduk tadi, ia duduk santai sambil ngopi, matanya memperhatikan karyawan yang lagi pada sibuk semuanya.


Tidak begitu lama Nino pun kembali.


"Berapa lama lagi kita di sini?" Ujar Nino tidak sabaran.


"Santai bro, kopi aja belum di minum, duduk saja nikmati dulu kopinya," ujar Simba, sambil menyalakan rokoknya.


Dari jauh, Sheril melihat kedua pemuda itu merokok, dan dilihatnya di atas meja tidak tersedia asbak.


"Rini, apakah tidak ada asbak rokok disini?" Ujar Sheril.


"Ada kak, sebentar saya ambilkan," ujar Rini seraya pergi kebelakang. Tidak begitu lama Rini pun kembali dengan tangan membawa asbak.


"Tidak, berikan padaku, mereka merokok di sana, jadi untuk menjaga kebersihan cafe, kita harus menyediakan hal kecil seperti ini," ujar Sheril menatap Rini.


"Iya kak, kalau begitu kami akan menyiapkannya," ujar Rini.


Sheril menghantarkan asbak itu ke meja no 12. "Permisi Tuan," ujar Sheril sedikit tersenyum samar sambil meletakkan asbak di depan Simba dan Nino.


Nino langsung terkejut dan membulatkan matanya saat melihat perempuan yang meletakkan asbak itu.


"Ini kan perempuan malam itu," ujar Nino dalam hatinya.


Nino berusaha melakukan sesuatu agar perempuan itu meliriknya, apakah dia masih mengingat wajahnya atau tidak.


Tangan Nino sengaja menyenggol kopi yang baru saja di antara.


Gelas itu langsung terjatuh dan pecah, berserakan di lantai. Seketika Sheril menoleh saat mendengar benda yang terjatuh dari meja yang barusan ia hampiri.


"Ya ampun Tuan, kenapa bisa terjatuh," ujar Sheril tampak khwatir.


"Tuan tidak kenapa-kenapa?" Tanya Sheril langsung menata kearah Nino.


"Saya tidak apa-apa Nona," ujar Nino.

__ADS_1


Seketika Sheril terdiam saat menatap Nino. "Ini kan laki-laki yang menjemput ku waktu di kos-kosan itu, aku tidak mungkin salah," pikiran Sheril berkecamuk. Tubuhnya langsung bergetar.


"K-kamu," ujar Sheril langsung membekap mulutnya. Ia melangkah mundur.


"Nona, Nona kenapa? Nona baik-baik saja, kan," ujar Nino ingin menghampiri Sheril.


"Jangan melangkahkan kaki mu lagi, kamu orang yang waktu itu kan," ujar Sheril berlinang air mata.


Tapi Sheril berpikir, tidak ada gunanya ia marah-marah pada lelaki yang tidak di kenalnya itu, toh semuanya sudah menjadi bubur, tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu.


Nino langsung terdiam. "Rupanya perempuan ini masih mengingat wajahku," pikir Nino dalam hati.


"Nona, Nona tenang dulu ya, ayo duduk dulu agar mbk bisa berpikir," ujar Nino. Setelah Sheril duduk, Nino langsung mengambil segelas air putih, lalu memberikannya pada Sheri.


"Minum lah," ucap Nino. Sheril langsung meminum segelas air putih itu sampai tandas.


Setelah Nino merasa kalau perempuan itu sudah agak baikan, ia memulai pembicaraannya.


"Sekarang katakan, apakah Nona mengenali saya? Dan kenapa kamu seperti terkejut melihatku? Apakah ada masalah?" Ujar Nino gadi cantik di depannya. Nino menelan saliva nya.


"Ternyata perempuan ini sangat cantik," pikir Nino.


"Sekarang katakan, apakah anda melupakan wajahku, saat anda menjemput ku di kos-kosan itu?" Ujar Sheril membuat Nino langsung melebarkan matanya.


"K-kamu beneran perempuan itu?" Ujar Nino menegang.


Sheril tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Nona, bisa kita bicara sebentar?" Ujar Nino menatap iba perempuan itu.


"Saya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak di sini," ujar Nino lagi.


"Apa yang ingin kamu katakan padaku? Apakah kamu ingin melecehkan aku lagi?" Ujar Sheril membuat jantung Nino langsung berdetak kencang.


"Tidak, bukan begitu, baiklah saya akan mengatakannya disini," ujar Nino.


"Baiklah, saya akan menemui mu setelah pulang kerja nanti," ujar Sheril.


"Baik, saya akan menunggumu di taman dekat sini," ujar Nino lagi.


"Sekarang kalian pergi dari sini," ucap Sheril dingin.


"Iya baiklah Nona, kami akan pergi.


Nino mengajak Simba pergi meninggalkan cafe itu.


ikuti terus ceritanya ya, jangan lupa tekan vote dan like setelah membacanya.

__ADS_1


yuk komen agar author update lagi.


__ADS_2