Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
senyuman Sheril


__ADS_3

Sheril langsung menuju ke kamarnya, ia segera menyusun belanjaannya di dalam lemari penyimpanan. Sheril pun tidak lupa membuka kantong plastik yang Zian bawa semalam. Ia langsung tersenyum saat melihat banyak makanan kesukaannya yang di belikan Zian. Ada beberapa batang coklat berbagai jenis, ada coklat yang seperti kelereng, ada yang berbentuk boneka, kotak dan banyak lagi. Ada pula keripik ayam, keripik kentang, kue brownies, dan berbagai macam lainnya. Sheril langsung menata makanan itu di dalam kulkas makanan yang memang di sediakan Zian sejak dulu untuk menyimpan beberapa cemilan untuknya. Sheril hidup bagai di dalam surga, karena ia tidak pernah menyetok makanan sebanyak ini, berbelanja seenaknya. Apakah Sheril merasa beruntung dengan kehidupannya sekarang? Atau tidak?


"Suamiku memang tau apa yang aku suka, terimakasih Mas," ucap Sheril sambil senyum-senyum sendiri.


Sheril merenung sambil memakan Silverqueen kegemarannya sejak dulu. "Waktu di kampung, sebulan untung sekali aku bisa memakan cokelat, itu pun coklat biasa," gumam Sheril dalam ingatannya. Habis memakan coklat ia langsung membereskan kamarnya. Walaupun ada pembantu khusus untuk membersihkan dan merapikan semua yang ada di villa, namun Sheril tidak ingin merepotkan mereka, ia juga tidak ingin menunda-nunda untuk membersihkan kamarnya hanya sekedar menunggu pembantu kebersihan melakukannya.


Sheril sudah terbiasa dengan aktivitas seperti itu, jadi ia pun tidak ingin ketergantungan pada pembantu atau orang lain untuk melakukan sesuatu yang ia bisa.


Saat Sheril ingin istirahat, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Sheril segera membuka pintu kamarnya.


"Nona cantik, ini pesanan Nona," bibi Arum menyodorkan kantong kresek putih yang berisi mika yang biasa tempat pedagang kuliner menaruh bingkisan makanan.


Sheril menatap kresek yang bibi Arum pegang.


"Aku tidak pernah memesannya, Bi," ujar Sheril.


"Tapi ini tertera untuk nona Sheril," ujar bibi Arum.


Sheril segera mengambil kantong plastik berisi makanan itu, entah makanan apa itu, Sheril merasa tidak memesannya.


Sheril menatap kantong plastik yang berada di tangannya sekarang.


"Tapi aku benar tidak memesannya, Bi, mungkin grab itu salah orang kali," ujar Sheril.


"Tidak mungkin salah, Non. Alamatnya tepat di sini, coba nona cantik perhatikan lagi," ujar bibi Arum.


"Baiklah, Bi, ayo kita bukan sama-sama," ujar Sheril.


Bibi Arum menuruti keinginannya nona cantiknya.


Sheril pun segera membawa makanan itu keatas meja dan ingin membukanya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, ia segera melihat layar ponselnya yang tertera nama mas Zian di sana.

__ADS_1


"Iya mas, ada apa?" Tanya Sheril.


"Gimana? Enak ngk makanannya?" Tanya Zian di seberang sana.


Sheril langsung tersenyum girang sambil melirik bibi Arum.


"Ini dari kamu mas?" Tanya Arsyi yang di dengar Zian sagat senang.


"Iya, bagaimana?" Ujar Zian juga menampilkan senyuman manisnya di balik layar ponsel mahalnya.


"Ya ampun Mas, terimakasih banyak, tadinya aku meragukan makanan itu, karena aku tidak merasa memesannya," ujar Sheril.


"Iya, tadi kan kamu menginginkan makanan itu, tapi mas keburu telat kerja, jadi ya sudah, mas pesan lewat gofood," ujar Zian.


"Terimakasih mas, aku akan segera memakannya," ujar Sheril.


"Ngk usah berterimakasih seperti itu, mas kan suami kamu. Ya sudah cepat habiskan makananmu, mas tutup telponnya dulu ya," ujar Zian.


"Bibi, ternyata ini dari mas Zian! Ayo bi, kita makan sama-sama," seru Sheril dengan berbinar.


"Tidak Non, bibi masih kenyang," ujar bibi Arum merasa tidak enak hati. Ia kemudian hendak keluar meninggalkan Sheril.


"Bibi, ini untuk mu." Sheril menyodorkan satu kotak makanan pada bibi Arum. Bibi Arum menatap Sheril.


"Tapi Non?"


"Ngk apa-apa bibi, ambil saja," ujar Sheril memaksa. Tentu saja bibi Arum menerimanya dengan senang hati.


"Terimakasih Non," ujar bibi Arum seraya mengembangkan senyumannya, lalu pergi meninggalkan kamar Sheril.


Dengan hati yang senang, Sheril menyantap makanannya sampai tak tersisa. Ia benar-benar bahagia di perhatikan seperti ini.

__ADS_1


Selesai makan, Sheril mengarahkan kamera ponselnya, mengambil sebuah gambar kotak makanan yang sudah kosong. Lalu mengirimkan gambar pada Zian lewat aplikasi, yang beru saja ia potret.


"Mas, aku sudah menghabiskan makanan ku, makanannya enak, lihat, tanpa tersisa,"


Sheril memberikan emoji tersenyum lalu menekan tanda pana kirim di ponselnya.


Tidak begitu lama Zian sudah melihat pesan dari Sheril.


Zian senyum-senyum sendiri melihat apa yang di lakukan istrinya. Ia merasa senang.


"Iya sayang, kalau masi mau, nanti mas belikan lagi ya," pesan dari Zian langsung di baca oleh Sheril.


Sheril mengembangkan senyumannya dengan girang.


"Tidak mas, aku sudah kenyang," jawab Sheril.


"Kangen tauk,"


Pesan dari Zian membuat Sheril tersenyum geli, dadanya langsung bergetar.


"Hem ... ya sudah mas, selamat beraktivitas ya," ujar Sheril didalam pesannya.


Zian menghela napasnya dengan lembut saat membaca pesan terakhir dari Sheril. Sebenarnya ia masih ingin berkirim pesan, namun Sheril sepertinya sengaja mengalihkan ucapan Zian.


Sementara Sheril memegangi dadanya yang berdegup kencang yang ia tidak tau itu perasaan apa, yang jelas, wajahnya terlihat sangat senang dan senyum-senyum sendiri.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜Š


Maaf para reader, author baru update lagi.

__ADS_1


semangati terus author dengan dukungan kalian ya, author sangat mengharap like, vote dan komentar positif dari kalian. selamat membaca😊


__ADS_2