Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Pusing


__ADS_3

Di kediaman Alzian Guinandra.


Zian baru saja pulang. Tapi Serena tidak melihat istrinya menyambut putranya.


"Kemana Ririn?" gumam Serena.


Serena menyambut putranya.


"Sayang, kamu baru pulang," ujar Serena seraya ingin mengambil tas kerja Zian.


"Iya, Ma, ngk usah biar Zian saja," ujar Zian melihat Mamanya ingin mengambil tas kerjanya.


"Ngk apa-apa, sini," ujar Serena mengambil tas dari tangan Zian.


"Kamu kemana ngk pulang semalam, Mama telpon ngk aktif," ujar Serena seraya membawa tas kerja Zian kedalam.


"Zian banyak kerjaan, Ma, lembur, jadi ngk pulang," ujar Zian berbohong.


"Kamu sudah makan, nak? Tadi Mama buat makanan kesukaan kamu lo," ujar Serena.


"Benarkah! Aku jadi lapar nih," ujar Zian mengelus perutnya.


"Mama siapkan ya," ujar Serena.


"Iya Ma, Zian ganti baju dulu," ujar Zian seraya menaiki anak tangga.


"Kemana anak itu, kok ngk nongol, suami pulang di biarkan saja, ada apa ini?" Pikir Serena dalam hatinya.


"Mama mau kemana," ujar Zian menoleh setelah menyadari kalau Mamanya mengikutinya dari belakang.


"Mama mau ke kamar kamu," ujar Serena.


"Untuk apa, Ma, Zian mau ganti baju," ujar Zian.


"Cuma sebentar kok," ujar Serena.


Zian menghembuskan napas kasarnya. Ia tidak bisa mencegah keinginan orang tua yang sudah membesarkannya itu.


Mata Serena langsung tertuju ke ranjang king milik Zian. Ia menatap Ririn tidak suka.


"Aku kira kamu lagi sibuk mengurus Aura, ternyata lagi bersantai sambil main ponsel," sindir Serena membuat Ririn meletakkan ponselnya.


Dada Serena langsung berdebar melihat Ririn. Tapi ia menahannya karena Zian baru saja pulang kerja. Serena langsung keluar dari kamar mereka dengan perasaan yang tidak enak.

__ADS_1


"Aku ingin melihat bagaimana cara perempuan yang putraku sangat cintai ini mengurus suaminya, kalau begini terus, ini tidak bisa di biarkan, kasihan putraku," gumam Serena mengepalkan tangannya seraya pergi kedapur.


Sementara di dalam kamar, Ririn menekuk wajahnya. Zian melirik Ririn dengan sudut matanya.


"Mama selalu saja menyudutkan aku, begini begitu semua salah. Diruamhku, aku tidak pernah melakukan apa pun, tapi di sini semua usil dengan ku," gerutu Ririn.


Zian hanya menggelengkan kepalanya.


"Ririn, kamu itu sudah bersuami dan memiliki anak, bukan masih gadis. Seharusnya kamu berpikir bagaimana seharusnya bersikap," ujar Zian.


Ririn menatap Zian dengan seksama.


"Zian, apakah kamu menyuruhku melakukan segalanya? Aku ini buka pembantu! lagi pula sudah banyak pembantu di rumah ini," tukas Ririn.


Zian menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembusnya perlahan-lahan.


"Ririn aku tidak menyuruhmu melakukan tugas mereka, setidaknya kamu melayaniku dengan baik, bagaimana tugas seorang istri memenuhi kebutuhan suaminya. Sudahlah aku tidak ingin salah paham padamu, aku mau makan, mama sudah menungguku," ucap Zian, ia masih saja berkata dengan nada yang lembut meski hatinya dongkol.


Ririn hanya diam saja, ia mencerna ucapan suaminya.


"Makan, sama sekali tidak ada basa basi, kamu sudah sangat berubah Zian," gumam Ririn.


Dulu waktu awal menikah, kamu selalu membangunkan aku di pagi hari, menyiapkan sarapan untukku, menyiapkan air hangat untukku mandi, tapi sekarang semua kulakukan sendiri, mengambil sarapan sendiri. Zian benar-benar sudah berubah. Itulah yang di pikirkan Ririn.


Suami tidak selalu bisa berbuat seperti yang Ririn mau, suami bisa saja memanjakan istrinya, tapi seharusnya seorang istri juga harus mengimbangi perasaan suaminya. Semara apa pun sama suami, kita tetap melakukan kewajiban kita sebagai seorang istri. Tapi tidak dengan Ririn.


"Siap Nyonya besar," jawabnya langsung melakukan apa yang di perintahkan Serena.


"Bibi, jawab dengan jujur, apakah Ririn sering menyiapkan makan untuk suaminya?" Tanya Serena menatap bibi Nur dengan intens.


Bibi Nur, langsung menegang, wajahnya seperti ketakutan.


"A ... anu Nyonya, s... saya kurang tau," ucapnya gelagapan sambil menundukkan kepalanya.


"Ngk mungkin kamu ngk tau, katakan yang sebenarnya! Jangan menyembunyikan apapun dari ku," Bentak Serena dingin, tapi mampu membuat bibi Nur berkeringat dingin.


"Iya Nyonya, Nyonya Ririn jarang melakukannya, bahkan sayalah yang sering membuatkan teh untuk Tuan," ujar bibi Nur membuat mata Serena menyala. Ia memendam kemarahannya.


"Baiklah setelah ini, datang lah ke kamar ku, dan ceritakan semuanya," ujar Serena pelan setelah melihat Zian sudah menuju meja makan.


Serena memandang kearah tangga, ia berharap Ririn menantunya itu ikut turun menyusul suaminya, tapi yang ia harapkan tidak juga muncul. Serena segera mengambilkan makanan untuk putranya.


"Mama, sudah, biar Zian saja," cegah Zian.

__ADS_1


"Biarkan Mama melakukanya sayang, Mama akan menemani mu makan," ucap Serena menyodorkan piring kehadapan putranya, lalu meletakkan segelas air putih di samping putranya.


Serena melirik sekilas pada wajah putranya.


"Ma, Zian mau pergi lagi setelah ini," ujar Zian setelah menghabiskan makanannya.


"Lah, baru pulang sudah mau pergi lagi, apa ngk istrahat dahulu di rumah, Mama lihat belakangan ini kamu sangat sibuk, kadang ngk pulang," ujar mama Serena.


"Iya Ma, banyak kerajaan," ujar Zian berbohong.


"Ya sudah hati-hati," ujar Serena.


Sebelum pergi, Zian kembali kedalam kamarnya. Ia mengambil sesuatu. Zian melirik istrinya yang sepertinya lagi memikirkan sesuatu.


"Aku mau pergi," ujar Zian.


"Mau kemana?" Tanya Ririn. Biasanya Ririn tidak akan menyahuti ucapan Zian. Kali ini entah angin apa yang membuatnya ingin tau suaminya mau kemana.


"Entah, aku pusing di rumah," ujar Zian seraya berlalu pergi.


Zian pergi ke suatu tempat dimana ia sering menenangkan pikirannya di sana. Tapi kali ini Zian tidak memesan banyak minuman seperti biasa, ia memesan hanya beberapa gelas saja. Setelah itu ia pergi meninggalkan bar menuju VillaZa. Kepala Zian sedikit berat dan pusing. Tapi ia masih bisa mengendalikan setir mobilnya sampai ke Villa.


Jam menunjukkan pukul 8 malam, Zian melangkah kakinya dari mobil, ia segera masuk kedalam villa dengan tangan memegangi kepalanya yang pusing. Sampai di ruang keluarga, Zian langsung saja menjatuhkan dirinya di atas sofa, dengan posisi tubuh tengkurep. ia tidak melihat ada seseorang yang lagi nonton tayangan film kesukaannya.


"Dia kenapa?" Ujar Sheril mengernyitkan dahinya.


"Hei ... kamu kenapa? Kenapa tidak istrahat di kamarmu saja," ujar Sheril sambil menggoyangkan pundak Zian.


Zian hanya bergumam halus, Sheril membekap hidungnya karena mencium bau alkohol dari Zian.


"Kamu mabok lagi, apa keuntungan kamu meminum minuman keras itu," tukas Sheril, ia tidak tau kalau Zian akan menanggapi ucapannya.


"Aku pusing dengan masalahku, tidak di rumah di kantor, dengan begini pikiranku sedikit tenang," ujar Zian dengan suara seraknya, tapi terdengar jelas di telinga Sheril. Sheril tampak terdiam, bagaimana pun juga Zian adalah ayah biologis dari bayi yang ia kandung.


"Ok baiklah, aku ingin bertanya, apakah setelah ini masalah mu akan selesai?" ujar Sheril memberanikan dirinya.


Zian langsung bangkit dari tidurnya, ia tersenyum mendengar suara Sheril, setidaknya perempuan ini sudah mau bicara dengannya.


Sheril langsung melangkah mundur.


"Tidak, tapi setidaknya pikiran ku sedikit tenang," ujar Zian menatap Sheril dengan mata yang memerah. Lalu bangkit dari duduknya menuju anak tangga.


Zian berjalan agak sempoyongan, Sheril yang melihatnya langsung membantunya naik keatas, ia tidak ingin laki-laki ini terjatuh di tangga yang akan membahayakan nya.

__ADS_1


yuk komen, like, dan vote ya, insaallh author akan update lagi setelah ini


ikuti terus kisahnya ya, dan jangan lupa dukung terus karya author dengan like, vote, komen dan juga hadiah gift agar dukungan klian semakin meningkat dan mendapatkan pulsa gratis dari author jika top fans kalian paling tinggi. terimakasih.


__ADS_2