
Begitu selesai membersihkan diri masing-masing, Sheril langsung mengenakan pakaiannya yang pres body, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Sementara Zian sudah siap dengan pakaian formalnya.
Tok-tok-tok ....
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
"Tuan, Nona, sarapan sudah siap," ujar bibi Arum dari luar.
"Iya Bibi, kami akan segera turun!" Teriak Sheril dari kamar, ia sengaja meninggikan suaranya agar bibi Arum mendengarkannya.
Zian menatap Sheril dari atas sampai bawah sambil menelan saliva nya. Bentuk tubuh Sheril benar-benar menggodanya.
Tapi ....
"Kenapa dia memakai pakaian seperti ini? Apa ia sengaja ingin memperlihatkan bentuk tubuhnya pada orang lain," gumam Zian dalam hatinya, ia tidak suka melihat Sheril terlalu menampakkan bentuk tubuhnya, apa lagi akan berpergian.
"Em, sayang, ganti pakaian yang lain saja, kamu kelihatan aneh memakai pakaian ini," ujar Zian.
"Apanya yang aneh Mas, menurutku tidak," ujar Sheril seraya memutar-mutar tubuhnya sambil menatap bayangan dirinya dari dalam kaca.
"Mas ngk suka kamu memakai pakaian ini," ujar Zian menatap Sheril dengan wajah datarnya.
"Iya, aku akan menggantinya," ujar Sheril seraya memilih dress ataupun gaun yang ada di dalam lemari pakaiannya. Kemudian Sheril langsung menggantinya dengan gaun warna Brown, bawahannya agak sedikit mengembang, tapi masih memperlihatkan lekuk tubuh Sheril.
"Mas gimana menurutmu, apa ada yang salah?" Ujar Sheril seraya menatap bayangan dirinya seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Zina menatap Sheril tanpa berkedip, sebenarnya Sheril sangat cantik memakai gaun ini, bahkan lebih cantik dan elegan dari yang tadi. Namun tiba-tiba Zian mengeryitkan dahinya, tanda ia tidak setuju dengan baju ini yang terlalu memperlihatkan tonjolan yang ada di d**a Sheril.
"Apakah tidak ada baju lagi selain ini, kenapa kamu memilih pakaian yang terlalu sempit seperti ini," ujar Zian menatap Sheril tidak suka.
Sheril memperhatikan bajunya lagi. "Dimananya yang salah mas, ini sudah cukup," ucap Sheril.
"Tidak, ganti yang lain saja," ujar Zian melipat tangannya di dada. Sheril pun terpaksa menggantinya lagi dengan pakaian yang lain, hingga beberapa kali saja.
Zian menarik napasnya setelah melihat Sheril mengenakan gaun ini. "Ini sangat sesak sayang,"
"Mas, ini tidak sempit, hanya pas saja di tubuhku, aku tidak memiliki baju lagi, hanya beberapa saja yang masih muat," ujar Sheril sambil merapikan bajunya.
Zian baru sadar kalu tubuh Sheril sedang mekar, pantas saja semua bajunya terlihat sempit.
__ADS_1
Zian melepaskan jasnya dari tubuhnya, lalu menyelimutinya di bahu Sheril.
"ya sudahlah, pakai saja yang ini. Ayo turun," ajak Zian seraya memegang tangan Sheril, Sheril pun mengikuti langkah Zian dari belakang.
Sampai di meja makan, Sheril langsung menyiapkan makanan untuk Zian. Setelah itu ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Tidak ada percakapan antara mereka, sampai mereka menyelesaikan sarapannya.
"Bibi, aku akan keluar sebentar," pamit Sheril pada bibi Arum.
"Iya, baik Non, bersama Tuan, kan?" Ujar bibi Arum menatap Zian yang sudah mendahului Sheril keluar menuju pintu depan.
"Iya Bibi, Sheril pergi dulu," pamit Sheril seraya melangkah kan kakinya menyusul Zian.
Zian sudah menunggu Sheril di depan pintu mobil yang sejak tadi sudah di bukanya.
"Kamu ngapain aja, kok lama sekali di dalam," ujar Zian menatap Sheril.
"Aku pamit sama bibi Arum sebentar," ujar Sheril seraya masuk kedalam mobil. Zian segera menutup pintu mobilnya, kemudian ia pun masuk menghadap setir mobil.
"Pamit kok lama sekali," ujar Zian setelah duduk di jok mobilnya.
"Ini laki-laki kenapa cerewet banget ya," ucap Sheril dalam hatinya, ia memalingkan wajahnya keluar kaca jendela mobil, sementara Zian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hingga Zian membelokkan mobilnya di halaman klinik terdekat.
Zian langsung turun dan membukakan pintu mobil buat Sheril. Sheril pun langsung turun yang langsung di gandeng oleh Zian.
Sheril melirik wajah Zian sekilas, ia merasa bahagia di perlakukan begini, wajahnya pun nampak berseri-seri. Sheril tidak menyangka Zian menawarkan dirinya untuk mengantar Sheril check up. Inilah momen yang Sheril tunggu-tunggu selama ini, di saat ia hamil, suaminya akan setia mendampingi dan menuruti keinginannya. Zian sudah memenuhi sebagian keinginannya, ia sangat senang hari ini.
Sheril mengeratkan genggaman tangannya pada Zian, saat memasuki ruangan pemeriksaan ibu hamil. Zian melirik Sheril.
"Ada apa sayang? Apakah kamu takut?" Tanya Zian setelah ia merasakan genggaman tangan Sheri berpegang dengan kokoh.
"Tidak, a-a-ku sangat senang hari ini, terimakasih kamu mau mengantarkan aku kesini," ujar Sheril gelagapan. Ia menundukkan wajahnya, ia sangat malu dengan pengakuannya yang polos ini.
Zian tersenyum menatap Sheril. Ia pun merasa bersalah karena tidak bisa sepenuhnya mendampingi Sheril setiap hari, karena banyak hal yang membuatnya tidak bisa.
"Sayang, kenapa berucap seperti itu, tentu saja mas akan mengantarmu, apa lagi menyangkut anak ku," ujar Zian mengacak rambut Sheril.
__ADS_1
Namun Sheril menanggapinya dengan wajah yang biasa-biasa saja, ia tidak ingin terlalu senang dan terlalu berharap.
Setelah mengambil kartu antri, tidak begitu lama, nama Sheril di panggil, karena tidak terlalu ramai, maka Sheril dan Zian tidak terlalu menunggu lama. Zian pun segera mendampingi Sheril masuk keruangan dokter spesialis kandungan.
Dokter pun segera memeriksa Sheril, lalu melakukan USG yang terbaik, karena Zian menginginkannya.
"Bayimu sangat sehat, semua berjenis kelamin laki-laki, tapi saya ragu, dengan bayi yang satunya," ujar dokter itu melirik Zian sekilas.
"Laki-laki?" Zian langsung tersenyum lebar. Ia sangat senang, karena ia sangatlah mendambakan anak laki-laki. Lalu Zian melanjutkan kalimatnya.
"Maksud dokter apa? Bayi yang satunya, apa bayi ku kembar?" Tanya Zian penasaran.
Dokter paru baya itu tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
Zian langsung tersenyum dan menggenggam tangan Sheril dengan erat. Ia sangat bahagia mendengar kabar ini, bayinya laki-laki, kembar lagi, bertambah lengkaplah kebahagiaan zian. namun seketika wajahnya berubah datar seraya bertanya lagi pada dokter itu.
"Maksud dokter tadi apa? Ragu dengan bayi satunya?" Tanya Zian.
"Sepertinya, yang satunya mengalami kelainan, karena tidak sama dengan pergerakan dengan bayi satunya lagi, tapi Tuan dan nyonya tenang saja, masih ada harapan untuk memperbaikinya," ujar dokter itu.
"Apa?"
Zian langsung terdiam.
"Tenang Tuan, ini tidak apa-apa, sering terjadi hal seperti ini pada bayi kembar," ujar dokter itu lagi.
"Tapi saya ingin semua bayi ku sehat dokter, bagaimana pun caranya lakukan yang terbaik," ujar Zian.
"Iya Tuan, kami akan melakukan yang terbaik, dan saya akan memberikan resepnya, tapi obatnya mahal dan tidak ada di sini," ujar dokter perempuan itu.
"Baiklah, kami akan memesannya berapapun harganya," ujar Zian dengan tegas. Sementara Sheril mengeratkan genggaman tangannya.
"Tenanglah sayang, bayi kita tidak akan apa-apa," ujar Zian menenangkan Sheril. Sebetulnya Sheril lah yang menghawatirkan Zian, Sheril takut Zian akan kecewa dengan keadaan bayinya. Namun dugaan Sheril salah.
Selesai melakukan pemeriksaan, Zian merangkul Sheril keluar menuju parkiran, pikirannya berkecamuk jadi satu. Ia merasa bersalah itulah yang Zian rasakan saat ini.
"Sayang, hati-hati," ujar Zian membimbing Sheril masuk mobil.
ini riil hasil meras otak, di larang keras mengcopy atau yang lainya.
__ADS_1
yuk dukung terus ya, jangan lupa tampilkan like atau pun vote setelah membaca 'wajib' ya