
Flashback.
Pagi yang cerah. Semua mahasiswa sudah berkumpul di kampusnya untuk membahas tentang skripsi.
Sheril tampak lelah dan lesu, ia tidak bersemangat melakukan apapun. Mukanya memucat. Elian memperhatikan sahabatnya yang tidak biasanya itu, biasanya Sheril selalu tampil semangat. Tiba-tiba ia terjatuh dan pingsan. Elian yang melihat itu langsung kaget dan menghampiri Sheril. Yang lainnya juga ikut panik dan menyaksikan Sheril pingsan.
"Kalian kok diam saja, ayo bantu aku mengangkatnya," Ujar Elian pada mahasiswa lainnya.
Akhirnya mereka membantu Elian mengangkat tubuh Sheril.
Sheril langsung di bawa ke klinik kampus.
Dan melakukan pemeriksaan kesehatan di sana. Perawat itu tampak ragu saat mengecek keadaan Sheril.
"Bagaimana keadaan temanku suster?" Tanya Elian saat mendapati suster itu agak ragu dengan kesehatan Sheril.
"Dia tidak kenapa-kenapa. Hanya kelelahan. Sebaiknya di bawa ke dokter kandungan saja agar lebih jelas. Tapi kami akan melakukan tespek terlebih dahulu setelah dia sadar," ujar perawat itu menjelaskan. Elian terkejut mendengar penjelasan.
"Maksud suster apa?" Tanya Sheril menegang.
"Kemungkinan dia hamil," ujar suster. Elian langsung melebarkan matanya, ia cemas jika itu benar-benar terjadi.
Mira dan teman-temannya langsung menutup mulutnya. Tanda ia tidak percaya, mereka saling pandang satu sama lainnya.
"Hamil? Tapi anak siapa?" Ujar mereka menerka-nerka.
"Mira, itu belum pasti, jadi tutup mulutmu itu," ucap Elian dengan penekanan.
"Kalau itu memang terjadi, mau bilang apa? Lagian kita juga tidak tau Sheril itu seperti apa yang sebenarnya," ujar temanya Mira menimpali.
Elian diam saja, ia mencemaskan sahabatnya itu, jika benar ia hamil, siapa yang akan bertanggungjawab. Kemana mencari laki-laki yang sudah memperkosa sahabatnya itu.
Sheril memegangi kepalanya saat ia sadar dari pingsan. Ia merasa kalau ia sedikit pusing.
"Sheril, kamu sudah bangun?" Tanya Elian saat Sheril mulai membuka matanya.
Yang pertama kali Sheril lihat adalah sahabatnya Elian.
"Aku di mana?" ujar Sheril dengan suara hampir tak terdengar. Ia mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan.
"Kamu ada di klinik, tadi kamu pingsan," ujar Elian. Sheril langsung mengingat terakhir kalinya ia berada.
Melihat Sheril sudah sadar, perawat yang memeriksanya tadi langsung menghampiri dimana Sheril berbaring.
Ia tersenyum ramah menatap Sheril. "Bagaimana perasaan mu?" Tanya perawat itu.
"Kepalaku sedikit pusing," ujar Sheril.
Perawatan itu kembali tersenyum. "Kalau sudah mendingan, nanti silahkan pergi ke-kamar kecil sebelah sana, dan ambil sedikit air seni mu, kami akan segera memeriksanya," ujar suster itu, membuat Sheril mengerutkan keningnya.
"Katakan yang sebenarnya suster, ada apa dengan ku," ujar Sheril. Ia merasa cemas dengan dirinya. Ketakutannya mulai menghantui pikirannya. Ia takut hamil, anak laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya.
"Kami belum bisa mengatakannya, tapi kami hanya bisa menduganya. Nanti kami akan menjelaskannya jika sudah melihat hasilnya," ujar perawat itu.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan melakukannya," ujar Sheril langsung turun dari ranjangnya menuju toilet yang di tunjukkan oleh suster barusan.
Sheril meremas jemari tangannya. Ia membayangkan jika itu terjadi dengannya, ia tidak tau akan seperti apa masa depannya. Bagaimana dengan pendidikannya? Sheril berharap itu tidak terjadi. Ia cemas dan gelisah saat menunggu hasil tespek dari suster itu.
Sebenarnya Sheril bisa melakukannya dengan sendiri, karena ia tidak merasa ada perubahan dari dalam dirinya. Tidak ada tanda-tanda kehamilan. walaupun Sheril calon dokter kandungan, tapi sama sekali ia tidak menyadari kehamilannya.
"Disini anda positif hamil, untuk lebih jelasnya lagi, sebaiknya langsung periksa ke dokter kandungan saja," ujar suster itu memperlihatkan hasil tespek pada Sheril.
Sheril langsung membekap mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya dengan apa yang di katakan perawat itu. Setelah melihat tespek yang positif garis dua. Tak terasa buliran air matanya mengalir begitu saja tanpa di minta.
Elian dan yang lainya juga nampak terkejut dan tidak percaya.
Mira dan teman-temannya juga terkejut dan langsung melebarkan matanya.
"Jadi kamu benar-benar hamil?" Ujar Mira langsung mengambil tespek di tangan Sheril.
"Iya! Ini sudah di pastikan positif, walaupun dia memeriksanya ke dokter kandungan, hasilnya akan tetap sama," ujar Mira. Ia menatap Sheril dengan tatapan sinis dan penuh hinaan. Bibirnya tersenyum miring.
"Kita tidak bisa membiarkan seorang mahasiswa mencoreng nama baik kampus kita," ujar salah seorang dengan nada sinis.
"Ia betul, kita akan segera melaporkan kejadian ini pada Dekan sebelum semuanya kacau," ujar yesi.
"Yesi, Mira dan juga yang lainnya, ini semua bukan kehendak Sheril, ini sebuah kecelakaan!" Ujar Elian membela sahabatnya.
"Kecelakaan? Kecelakaan bagaimana maksudmu? Yang jelas dia hamil di luar nikah, kami tidak akan membiarkan seseorang merusak kampus kita, bagaimana teman-teman," ujar Mira melirik teman-temannya secara bergantian, kemudian beralih menatap Sheril dengan sinis.
"Mira, Sheril ini teman kampus kita, dia sahabatmu juga, kamu jagan bicara begitu,"
"Gue tidak pernah menganggap dia teman ku, hu ... ayo kita pergi dari sini, menjijikkan," ujar Mira dan teman-temannya.
Sheril menangis mendapatkan perlakuan dari teman satu kampusnya itu. Hanya Elian yang mau mendampingi dan menenangkannya. Sheril menangis tersedu di pelukan Elian. Hanya Elian yang peduli dengan Sheril, termasuk memberikan tempat tinggal di rumahnya.
Sejak tinggal di rumah Elian. Sheril mendapatkan perlakuan baik oleh kedua orangtua Elian, meski mama Maria sempat ragu. Bahkan kini orang tua Elian tidak mengizinkan Sheril pergi, mereka akan membantu Sheril sampai ia lahiran.
flashback on
"Nino cari tau perempuan itu di kampus UNIB.G. Saya tidak mau tau, kamu harus menemukannya," ujar Alzian yang membuat Nino menggaruk kepalanya.
"Iya, nanti saya akan carikan," ujar Nino.
Zian menatap mata Nino dengan geram. "Sekarang juga Nino buka nanti!"
"I-iya, baiklah. Tapi jika tidak ketemu bagaimana?" Ucap Nino membuat mata Zian melotot kearahnya.
Nino tampak ketakutan mendapati Zian yang menatapnya tajam. "I-iya saya berangkat sekarang,"
"Awas saja kalau kamu tidak menemukanya, kamu akan mendapatkan akibatnya nanti!" Ancam Zian.
"Hu ... dasar sepupu payah, seenaknya saja nyuru gue, kenapa ngk elo saja yang mencarinya," upat Nino setelah di perjalanan menuju kampus UNIV.G.
Walaupun kesal. Tapi Nino tetap menjalankan perintah sepupunya itu.
...****************...
__ADS_1
Setelah 2 jam perjalanan. Nino akhirnya sampai di kampus yang di tujuannya.
"Bagaimana aku mencarinya, namanya saja aku ngk tau," ucap Nino yang masih di dalam mobilnya. Ia memperhatikan sekeliling kampus megah itu.
"Wah keren ... " ucap mahasiswa yang melihat mobil Nino yang baru saja terparkir di halaman kampus itu. Mata anak kampus langsung tertuju pada Nino yang langsung turun dari mobilnya. Para mahasiswa penasaran, mereka menghampiri Nino.
"Hai kakak, mau mencari siapa?" Ujarnya salah satu dari mereka.
Nino terdiam sejenak, kemudian otaknya berpikir. Ia menemukan ide yang bagus.
"Saya mau mencari seseorang, tapi saya ngk tau namanya," ujar Nino.
Mereka tersenyum serentak. "Ngk tau namanya, gimana mau ketemu kakak," ujar temanya lagi.
Nino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah iya, kemarin saya ada kenalan dengan anak kampus sini, waktu itu dia lagi KKN, tapi saya lupa namanya," ujar Nino.
"Anak KKN itu banyak kakak, sulit menemukannya kalu tidak tau namanya, setidaknya kakak tau jurusan apa gitu,"
"Em ... kalu ngk salah dia perawat, jenis kedokteran gitu, saya kurang paham,"
"Oh mungkin anak jurusan kedokteran," ujar mereka serentak.
"Ciri-ciri orangnya bagaimana kak, laki-laki atau perempuan?" Tanya mereka lagi.
Nino menjelaskan ciri-ciri orang yang sedang di carinya.
"Ngk tau kak ah, kami permisi dulu, waktunya kami masuk," ujar anak-anak kampus itu. Nino tampak kesal. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Nino berdering. Nino langsung merogoh saku celananya. Kemudian menatap layar ponselnya sekilas.
Alzian ....
Aduh bagaimana ini, perempuan itu belum juga di temukan, tapi si kepala batu ini sudah menghubungiku.
Nino mengabaikan telepon dari Zian, setelah beberapa kali Alzian menelpon, barulah Nino mengangkatnya.
"Iya ada apa?" Ucap Nino.
"Kemana saja kamu beru angkat telpon dariku?" Tanya Zian di seberang sana.
"Ya aku lagi mencari perempuan itu bro, ponsel gue ketinggalan di mobil, saat masuk kedalam tadi," ujar Nino berbohong.
"Dasar anak tak berguna, di berikan pekerjaan seperti itu saja ngk becus, pulang sekarang," ujar Zian.
"Pulang?" Ujar Nino mengerutkan dahinya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak ingin pulang, di sana saja, ngk usah pulang lagi," ujar Zian.
Zian langsung mengakhiri pembicaraannya.
Ikuti terus ceritanya.
jangan lupa vote dan like. ini ril karyaku sendiri, hasil meras otak. jadi tolong jangan pelit untuk like like dan like.
__ADS_1