
Ririn benar-benar murka, ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Senyuman sinis menyerigai menghiasi bibirnya. Ririn menambah kecepatan mobilnya, agar ia cepat-cepat sampai di alamat yang tertera. Ia sudah tidak sabar ingin menghajar perempuan itu. Napasnya naik turun, hatinya bagai di siram air panas, mendidih tidak karuan.
Sementara Sheril masih berada di kamarnya bersama Elian, menunggu Sheril mengganti pakaiannya yang lebih pantas bila keluar rumah. Elian menatap sekeliling kamar yang lebih besar dan luas daripada kamar miliknya.
Selang 20 menit,
tin ..., Klakson panjang Ririn tekan agar satpam itu segera membuka pintu gerbang yang terpampang bertulisan Villaza. Ririn menatap nanar villa itu. Hatinya semakin memanas tatkala tau kalau Zian menyembunyikan perempuan j******g itu di sini.
"Bajingan kamu Zian, berapa lama kamu menyembunyikan perempuan itu di sini!" Geram Ririn mencengkram setir mobilnya dengan keras. Ririn belum tau pasti hubungan suaminya pada perempuan itu seperti apa, Sheril hamil anak dari suaminya pun Ririn tidak tau itu. Ririn cukup berani, gegabah melakukan tindakan yang belum ia ketahui sebenarnya. Namun nalurinya kuat, kalau suaminya berselingkuh.
"Selamat siang neng, ada yang bisa sata bantu?" Ucap satpam itu.
Ririn membuka kaca mobilnya menatap
satpam itu dengan geram.
"Cepat buka pintu gerbangnya!" Sentak Ririn tidak suka.
"Maaf neng, anda salah masuk, khusus pengunjung pintunya ada di sebelah sana," ucap satpam itu menunjukkan pintu gerbang yang satunya khusus untuk tamu yang berkunjung.
Ririn melotot ke arah satpam itu yang tidak ingin membuka pintu gerbangnya.
"Saya ada perlu cepat buka!" Ucap Ririn dingin.
"Maaf neng, disini ada peraturannya, jika neng ada keperluan, silahkan ke resepsionis dulu, ini khusus untuk pribadi, bukan untuk umum," jelas satpam itu.
"Khusus pribadi? Apa mungkin Zian menyewa villa untuk perempuan j*****g itu," Ririn menggertakkan giginya.
Ririn menghembuskan nafas kasarnya. "Saya ingin bertemu Zian, atau wanitanya," ucap Riri yang mulai kesal. Entah kenapa Ririn bisa langsung berucap ke intinya.
"Oh neng ingin bertemu Tuan, tapi maaf neng, Tuanya tidak ada, anda bisa datang kembali setelah Tuan pulang,"
"Ngk apa-apa, saya akan menunggunya, karena memang kami sudah membuat janji bertemu di sini," bohong Ririn agar ia di permudahkan untuk masuk.
"Tuan, berarti villa ini milik suamiku, kenapa Zian tidak pernah memberi tahu ku, kalau ia memiliki villa sebesar ini, benar-benar keterlaluan kamu Zian," gumam Ririn dalam hatinya yang semakin membara.
Dengan keraguan satpam itu segera membuka pagar penutup villa. Satpam yang bernama Yanto itu tidak tau apa-apa, ia hanya bekerja, tidak pernah ikut campur dalam urusan Tuannya, ia pun tidak tau tentang keluarga Zian, siapa istri dan anaknya, ia hanya menjalankan tugas.
__ADS_1
"Maaf neng, ada yang bisa saya bantu," sapa satpam itu sedikit menundukkan kepalanya menghormati setiap tamu yang datang.
Pak Yanto tidak melihat atau mencurigai perempuan cantik itu, ia hanya menatap perempuan itu dingin.
"Tidak, saya hanya menunggu sampai Zian pulang," ucapannya berlalu meninggalkan pak Yanto yang mematung di luar.
Ririn masuk dalam diam, memperhatikan seisi ruangan. Bibi Arum keluar, ia terkejut dengan kedatangan Ririn.
"Nyonya Ririn? Ada apa dia kemari?" Batin bibi Arum gemetar bercampur gelisah, meremas ujung bajunya dengan erat, ia bersembunyi di balik pintu. Bibi Arum pernah bekerja di rumah besar Zian di kota, ia sudah sangat mengenali Ririn, ia tidak sebaik nona Sheril.
Ririn menatap bibi Arum dengan memicingkan matanya.
"Bibi Arum!" Ririn tampak terkejut melihat bibi Arum ada di villa ini. Sama halnya dengan bibi, hatinya merasa tidak baik, firasat menjadi buruk seketika, tubuhnya bergetar.
"Ternyata bibi Arum kerja disini," ucapan Ririn menambah bibi Arum semakin memucat.
"I-iya nyonya, saya di sini," sambil menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap wajah Ririn.
Ririn melipat kedua tangannya.
"Oh ..., ternyata bibi sudah bersekongkol dengan suami saya, untuk menampung perempuan"J****g itu?" ujar Ririn dengan bibir yang melengkung kesamping tanda ia tersenyum sinis menatap bibi Arum.
Benar Nona cantik bukanlah perempuan seperti yang Ririn ucapkan, nona cantik tentu lebih baik dari Ririn, hanya ia takdirnya saja yang tidak baik.
"Benarkah?" Ririn mengelilingi tubuh bibi Arum yang sudah panas dingin, ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi. apa lagi sebentar lagi Zian dan mungkin nona cantik juga akan pulang bersamaan.
Bibi arum mencari cara, agar Zian dan nona Sheril tidak pulang sebelum istrinya Ririn pergi dari sini.
"Kalau begitu, antar saya ke kamar suami saya bi," tukas Ririn yang masih menyilang ke-dua tangannya di dada.
Bibi Arum terkejut dengan keinginan Ririn, ia langsung mengangkat wajahnya menatap Ririn,
"T..., tapi nyonya, Tuan tidak mengizinkan sembarangan orang masuk kedalam kamarnya," ucap bibi asal, tanpa berpikir lagi ia mengatakan itu.
Mata Ririn membulat, menatap tajam wajah bibi Arum, ia sangat marah mendengar larangan bibi Arum.
"Bibi lupa siapa saya! Saya istrinya Alzian, bukankah bibi yang orang lain di sini!" bentak Ririn dengan keras, ia tak terima dia dianggap orang lain.
__ADS_1
"B- bukan begitu maksud ku nyonya, Tuan tidak mengizinkan masuk ke kamarnya tanpa seizinnya," sela bibi Arum yang kini sudah berkeringat dingin.
"Bibi!
Ririn ingin mengangkat tangannya, tapi niatnya di urungkannya seketika, Ririn menggenggam tangan di atas, menurunkannya perlahan. tubuhnya juga bergetar menahan emosi.
"Jangan banyak bicara! tidak ada yang berani melarang nyonya Alzian! antar saya sekarang juga!" bisik Ririn dengan pelan namun sangat menekan dan menusuk hati bibi Arum.
"B... baik nyonya,"
Dengan perasaan yang gelisah, bibi Arum mengantar Ririn.
Hancurlah sudah, Ririn akan melihat kamar Zian yang masih di tempati Sheril saat ini.
Saya tidak tahu kalau Zian memiliki villa seindah dan sebagus ini, pantas saja perempuan itu betah tinggal di sini.
"Silahkan nyonya ini kamarnya," ucap bibi setelah membuka pintu kamar yang tertutup itu. Ririn mengedarkan pandangannya mengelilingi sudut ruangan kamar itu, lalu ia membuka lemari pendingin, ada banyak cemilan di sana, khususnya yang banyak makanan di sukai perempuan termasuk dirinya. Lalu Ririn tertegun dengan sebuah kotak susu, ia segera mengambil dan mengeluarkan susu kotak khusus ibu hamil itu.
Matanya semakin membulat.
"Kenapa ada susu hami di kamar suami saya bibi? Apa benar ini kamar suami saya? Kenapa ia menyimpan susu ini di sini?" Ririn semakin curiga, dadanya semakin berdebar, jantung semakin berpacu.
Ririn melempar kotak itu ke sembarang arah, ia ingin mencari tahu yang lainnya. Lalu Ririn membuka lemari pakaian, ia membeku saat melihat ada banyak pakaian perempuan di sana. ada beberapa pakaian laki-laki yang tidak lain pakaian suaminya sendiri.
Dengan emosinya Ririn mengeluarkan isi lemari itu.
"Bajingan, penghianat kamu Zian," Seperti orang gila, Ririn mengacak isi lemari itu, hingga semua berserakan di lantai.
"Bibi pasti tau segalanya, katakan padaku bi, siapa perempuan j*****g itu, katakan bi! dimana dia? aku akan menghancurkan wajahnya, beraninya dia tidur di kamar suami ku,"
"Nyonya tenanglah ... "
"Bagaimana aku bisa tenang bi, kalian sudah menghianati ku! keterlaluan brengsek! Termasuk kamu bibi, penghianat!" Ririn memotong kalimat bibi Arum, teringat akan kotak susu hami termahal, tak terasa air mata Ririn menetes. Ia kembali mengambil kotak susu itu lalu merobeknya hingga serbuk itu berhamburan di atas kasur maupun di atas lantai.
"Bibi, katakan padaku, jangan coba menyembunyikan sesuatu dariku!" ujar Ririn dingin.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak berhak menceritakannya, hanya Tuan lah yang akan mengatakannya," ucap bibi tidak ingin mengambil resiko dengan Zian. karena pekerjaannya tergantung kepada Zian bukan Ririn.
__ADS_1
"Bibi ...!"
pekik Ririn, namun seketika ia berhenti berucap setelah mendengar suara bariton yang amat di kenal Ririn.