
"Sayang, aku ingin bicara penting sama kamu," ujar Zian seraya menatap Sheril tak berkedip.
Sheril menatap Zian datar.
"Katakan saja," ucap Sheril.
Zian mengambil kedua tangan Sheril lalu menggenggamnya dengan erat, matanya terus menatap Sheril dengan penuh arti.
Sheril merasa canggung, tidak biasanya Zian menatapnya seperti itu.
"Mas, kenapa kamu terus memandangi ku seperti itu?" Ucap Sheril menundukkan wajahnya.
Zian menarik napasnya dalam, lalu kembali menghembusnya secara perlahan. Sebetulnya Zian tidak tega mengatakan ini pada Sheril, ia tidak ingin Sheril sakit hati, atau pun Zian takut Sheril akan marah padanya.
Sebetulnya selama ini Zian bukan menutupinya, tapi belum ada kesepakatan untuk berterus-terang pada Sheril.
"Mas, kok diam? Katanya ingin mengatakan sesuatu, apa itu? Ayo katakan," ucap Sheril menatap suaminya dengan penasaran.
..."Sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu," batin Zian menatap mata Sheril....
"Sayang, aku harap kamu jangan marah ya, kamu harus bisa menerima kenyataan ini, aku tidak mau menutupinya dari mu,"
Deg ....
Dada Sheril langsung bergetar. Sementara ucapan Zian terhenti sesaat. Ia mengeratkan genggaman tangannya kembali.
"Sayang, kamu harus kuat dan yakin, aku sama sekali tidak bermaksud ingin menyakiti mu, tapi aku harus berterus-terang padamu," ucap Zian membuat Sheril penasaran.
Sheril mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya saling bertautan.
"Apa mas, cepat katakan, jangan buat aku penasaran, ada apa? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" Sheril menatap Zian dalam, sementara Zian menundukkan wajahnya.
"Sheril, sebetulnya aku .., aku sudah," Zian kembali menjeda kalimatnya dengan berat. Lidahnya keluh untuk mengatakannya.
"Iya, sebetulnya aku, aku sudah? Sudah apa? Mas, katakan, aku akan mendengarnya," ulang Sheril seperti kalimat Zian barusan.
Zian tampak menghembuskan napas beratnya. Ia yakin akan keputusannya untuk berterus-terang.
"Sheril, maafkan aku, sebelum aku menikah dengan mu, aku sebetulnya sudah memiliki anak dan istri," ungkap Zian menatap Sheril dengan mata dalamnya.
Sheril menatap Zian tak percaya. Dadanya sesak seketika.
"Mas, katakan sekali lagi, aku harap pendengaran ku bermasalah tadi," ucap Sheril dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak sayang, itu benar, aku sudah beristri sebelum menikahi mu," ucap Zian lagi.
Bagai di sambar peti di siang bolong, genggaman tangan Zian seketika terlepas. Jantung Sheril mendadak berhenti dalam hitungan detik, pandangannya mendadak kosong. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
Sheril seakan tidak bertenaga, tulang belulang Sheril serasa remuk. Ya tuhan, kenapa Zian baru mengatakannya sekarang. Cobaan apa lagi ini? Bibirnya bergetar, matanya sudah memerah menahan tangis.
"Sayang, kamu ngk apa-apa kan?" Ujar Zian.
Ngk apa-apa gimana? rasa sakit yang pasti di rasakan Sheril saat ini.
Zian menghampiri Sheril, ia takut terjadi apa-apa pada istrinya, terutama pada calon anak mereka.
"Sayang maafkan aku," Zian berusaha ingin memeluk Sheril, namun Sheril menolak.
"Berhenti mas," ucap Sheril dengan suaranya yang bergetar dan kedengaran lemah.
Zian menahan diri. Ia terdiam sambil menatap Sheril yang berurai air mata.
"Sayang, dengarkan aku, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini dari mu,"
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu sudah memiliki anak dan istri mas," Sheril memotong ucapan Zian.
"Jika aku tau dari awal, aku akan membatalkan pernikahan itu, aku tidak ingin di katakan keluargamu merebut suami orang, terutama istri kamu mas, orang-orang akan menyangka kalau aku merebut mu," isak Sheril dengan lirih, air matanya sudah banjir membasahi pipinya.
"Sayang, aku minta maaf, semua terjadi karena kecerobohan ku, kamu tidak bersalah di sini, tapi aku yang salah," imbuh Zian menyesali perbuatannya.
"Karena malam sial itu, kamu harus menanggung akibatnya, dan aku harus mempertanggung-jawabkan semuanya, apa lagi kamu hamil dari benihku, aku tidak ingin membuat anak ku menderita," ujar Zian bergetar dan tertunduk.
"Karena aku hamil anak mu, hingga kamu merasa harus bertanggung jawab?" Tanya Sheril datar.
Zian menganggukkan kepalanya.
Ada sejuta penyesalan yang bergelayut di dalam hatinya. Penyesalan karena sudah mencintai pria yang sudah berstatus suami orang. Tapi apalah daya, semua sudah terjadi.
"Akankah aku mengambil sebuah keputusan ini," pikir Sheril yang ingin meminta cerai dari Zian. Air mata Sheril semakin deras, ia terisak menangisi nasibnya yang malang.
"Tapi bagaimana dengan anakku, akankah ia lahir tanpa seorang ayah?" Pikir Sheril lagi, ia meraba perutnya yang sudah semakin menonjol.
"Bagaimana jika suatu saat Kakek dan Nenek menanyakan suaminya?" Berbagai pertimbangan memenuhi benak Sheri.
"Aku mau pulang," lirih Sheril dengan suara seraknya.
Zian menganggukkan kepalanya lalu melirik jam tangan yang melekat di tangan kanannya membuat Zian semakin terlihat keren.
Zian mengulurkan tangannya ingin menggenggam tangan Sheril, namun Sheril mengabaikannya, Zian menelan saliva nya, ia mengerti suasana hati istrinya saat ini, hingga ia tidak mempermasalahkan sikap Sheril yang acuh.
Sheril berdiri mengekor Zian, sebelum pulang Zian pergi ke kasir dahulu untuk membayar tagihan makanannya. Sheril mendahului Zian pergi kedepan dimana pintu utama restoran itu berada. Ia berjala gontai.
"Sheril!" Seru seseorang membuat Sheril mendadak menahan langkahnya. Ia mendengar seseorang yang memanggil namanya yang tidak asing lagi. Ia segera mencari sumber suara itu.
"Sheril! Benarkah ini kamu!" Seru seorang gadis itu tampak tersenyum lebar.
__ADS_1
Perempuan itu tampak langsung memeluk Sheril dengan penuh kerinduan. Ia sangat senang bertemu Sheri, Sheril pun membalas pelukannya dengan erat. Dia tidak lain adalah sahabat baiknya Elian.
"Kamu kemana aja? Kami sudah mencari mu kemana-mana, kenapa kamu ada disini? Kamu bersama siapa?" Perta Elian bertubi-tubi. Sheril bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya, namun ia menangis tersedu di depan Elian.
"Sheril, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Elian memegang kedua pundak Sheril. Sheril memeluk Elian kembali. Ia semakin menangis.
Elian semakin heran.
"Sheril, ayo kita pergi dari sini, sepertinya kamu butuh ketenangan? Banyak hal yang ingin aku tanyakan sama kamu," Ucap Elian yang mendapatkan gelengan kepala dari Sheril.
"Elian, maafkan aku, lain kali aku akan datang ke rumah mu, aku juga, banyak hal yang ingin aku sampaikan, aku kangen kamu," isak Sheril dengan suara seraknya, mereka saling memeluk kembali. Ada rasa hangat dari tubuh sahabatnya, Elian bisa membuat Sheril sedikit tenang.
"Kamu dengan siapa disini," tanya Elian.
"Elian, aku sudah menikah dengan ayah dari anak ku ini, aku bersamanya, nanti aku akan menceritakannya pada mu," ucap Sheril tertahan.
"Hem," Zian menghampiri mereka. Sementara Sheril menghentikan ucapannya.
Elian menoleh laki-laki itu yang tidak lain sudah menjadi suami Sheril saat ini. Elian menatap Zian dari ujung rambut sampai kaki. Zian menggandeng tangan Sheril, ia tidak ingin menampakkan kalu ada sesuatu yang terjadi antara mereka.
"Kamu tidak pura-pura baik di depanku kan?" Tanya Elian sambil mengintimidasi Zian. Zian menatap Elian tajam.
"Apa maksudmu?" Ujar Zian dengan suara yang datar.
"Aku hanya ingin memastikan, kalau kamu memperlakukan sahabatku dengan baik atau tidak," ucap Elian tidak kalah dengan Zian.
"Seperti yang kamu lihat, apakah kami kelihatan bertengkar sekarang?" Pertanyaan Zian membuat Elian tersenyum kecut.
"Oh ya, tapi kenapa mata sahabatku kelihatan sembab? Sepertinya dia banyak menangis, apakah kamu sudah melukai hatinya," tanya Elian menatap Zian lalu melirik Sheril sekilas.
"Apa urusanmu? Ini istriku, jangan ikut campur dengan masalah kami," imbuh Zian menatap Elian.
"Mas, sudah, dia sahabatku. Elian kamu pulanglah ya, besok aku akan main ke rumah mu, aku juga mau pulang," ucap Sheril dengan menampilkan sedikit senyuman.
"Sheril, apa kamu yakin dengannya?" Tanya Elian, ia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
Zian mengerutkan keningnya menatap Elian dengan rasa tidak suka.
"Elian, sudah, aku baik-baik saja, sudah ya aku duluan, sampai jumpa besok," Sheril dan Zian menuju mobilnya.
Sementara Elian tertegun menatap kepergian sahabatnya.
.
.
.
__ADS_1
.
ayo dong, dukung terus karya author dengan cara like dan komen.