Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
115


__ADS_3

Serena berjalan ke dapur, melihat punggung wanita itu, sibuk membereskan bekas memasak. Serena tidak pernah melihat Ririn seperti itu. Dia tidak berkata apa-apa, tidak ingin memujinya terlebih dahulu. Ia tidak tau wanita ini akan seperti apa kedepannya.


Serena kembali ke meja makan, menarik kursi, duduk menatap makanan yang terhidang.


Sepertinya sangat enak?


Sementara menunggu Zian turun, ia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layarnya.


Tidak begitu lama, Zian juga turun. Menarik kursi dan duduk di hadapan mamanya.


Zian melirik Sheril yang bekerja di dapur, Serena menyaksikan itu. Dia ingin tau, apa yang akan di lakukan putranya?


"Duduklah dan ikut makan bersama!"


Sheril mendengar perintah itu, sejenak ia berpikir. Ah mungkin bukan bicara dengannya!


Sheril kembali melakukan aktifitasnya.


Serena hanya menatap dalam diam.


"Apakah kau tidak mendengar apa yang aku katakan!" Zian kembali bicara dengan nada yang dingin.


Sheril menoleh dan menatap Zian dengan ragu, jika dia salah, maka akan sangat malu. Setelah berpikir akhirnya Sheri berucap dengan ragu: "Mas bicara dengan ku?"


"Tidak, aku bicara dengan tembok." Zian terlihat kesal.


Melihat itu, dengan ragu Sheril menghampiri meja makan, perasaan sangat canggung, apa lagi ada mertuanya di sana. Zian belum mengambil makanan sama sekali. Dengan cepat, Sheril mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Sementara Zian menarik kursi di sebelahnya, dia kira Sheril akan duduk dan makan bersama.


Tetapi, Sheril meletakkan piring makanan itu di hadapan Zian, kemudian menuang air minum dan meletakkannya di samping Zian. Ini lah yang Zian mau, di layanani oleh Sheril. Setelah itu Sheril ingin beranjak pergi ....


"Duduklah."


Sheril menghentikan langkahnya sebentar.


"Kalian makan saja, aku belum lapar."


Sheril kembali melangkahkan ke dapur, ingin menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


Melihat itu, wajah Zian langsung berubah. Serena melihat itu.


"Makanlah, jangan banyak drama di meja makan." Ucap Serena datar.


Serena menyendok makanan, dan meletakkannya di atas piring.


Sementara Zian dengan cepat memasukkan makanannya ke mulut, terlihat sekali kekesalan di wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau makan seperti itu? Kau kesal?"


Zian tidak menjawab, bahkan pertanyaan ibunya membuat hatinya semakin kesal. tidak begitu lama Zian meletakkan sendok dan pergi begitu saja.


Serena tersenyum dalam hati. Terlihat sisa makanan masih banyak di piring Zian, dia tidak menghabiskannya.


Sheril melihat tidak ada manusia lagi duduk di sana, ia segera membereskan piring kotor dan mencucinya. Mungkin mereka sudah pergi dengan kesibukannya masing-masing?


Belum selesai Sheril membereskan meja, tiba-tiba supir pribadi keluarga Zian datang dengan kantong plastik di tangannya.


"Nona, ini susu untuk mu, di minum ya." Pak supir yang Sheril tidak tau namanya itu langsung pergi.


"Pak ini dari siapa?"


Pertanyaan Sheril tidak di dengar lagi olehnya, karena sudah menjauh.


Sheril menghela napasnya. Pikirannya benar-benar kacau. Mereka sudah pergi, bagaimana kalau ....


Ah ..., semoga aku baik-baik saja di sini.


Sheril berjalan-jalan dan melihat pekarangan rumah Zian, ia takjub, begitu banyak tanaman hias dan juga ada beberapa pohon buah-buahan di halaman samping. Beberapa orang sibuk menurunkan perabot, seperti lemari dan tempat tidur. Sheril melihatnya sekilas, namun dia tidak begitu memperdulikannya. Sheril tidak berani untuk melihat kedepan, Ia keluar melalui pintu samping.


Sheril tidak menyangka suaminya sekaya ini, tidak tau Zian bekerja sebagai apa, yang jelas rumahnya seperti istana raja, memiliki perabot yang serba mahal, beberapa mobil Mewah di dalam garasi.


Sore pun tiba, para pekerja mulai bersiap untuk pulang, termasuk Zian, dia sudah siap untuk pulang, tetapi, tiba-tiba ponselnya berdering, Zian langsung mengangkatnya.


"Tuan, kami sudah melakukan sesuai apa yang anda perintahkan."


"Bagus, Hancurkan rumah makan itu, setelah kau memberi perhitungan pada perempuan sialan itu!"


"Baik Tuan, akan di laksanakan."


Zian langsung menutup ponselnya dan bergegas pulang.


Dia sudah memberi perintah kepada anak buahnya, untuk memberi perhitungan pada pelayan rumah makan yang tempo hari mengatai Sheril. Zian juga tidak terima ada orang lain yang mengatakan anaknya adalah anak haram.


Serena pulang terlebih dahulu dari Zian, ia langsung ke kamarnya dengan menggendong Aura. Anak itu tertawa girang melihat omanya datang dan menggendong. Pipinya terlihat tembem, tidak seperti saat Serena baru datang, tubuh Aura terlihat tidak berisi dan kurus. Ririn tidak begitu memperhatikan gizinya, wajar jika Serena cerewet dan mereka sering bertengkar.


Bocah itu menyebut nama mamanya.


Mama ..., Oma, Mama ...,


Serena cukup mengerti dengan ucapan balita itu.


"Aura, Mama mu lagi berobat, dia sakit, jangan tanyakan Mama dulu ya?" Ucap Serena yang di anggukkin bocah itu.

__ADS_1


Namanya anak-anak, tidak begitu lama, ia mengucap dan merengek menyebutkan mamanya lagi. Sepertinya bocah ini sangat merindukan ibunya.


"Iya, besok kita ketemu Mama ya," bujuk Serena sambil mengelus rambut halus balita itu.


Akan tetapi balita itu menangis dengan keras, Serena langsung panik dan kembali menggendongnya.


"Iya, iya, Aura mau apa? mau coklat, atau mau minum susu?" tanya Serena, namun anak itu menggelengkan kepala kecilnya.


"Nyonya ini susu Aura." baby sister itu menyerahkan botol susu dengan Serena.


Sheril yang sedang duduk di samping rumah, mendengar suara tangis balita dari dalam rumah, ia tertegun mendengarkan dengan cermat, mungkin dia salah dengar. Tetapi benar, suara itu dari dalam.


Tapi ....


Sheril tampak berpikir, dari kemarin ia tidak melihat adanya anak kecil. Oh mungkin saja istrinya Zian baru pulang bersama dengan anaknya, memikirkan hal ini, dada Sheril kembali bergetar. Apakah ia sanggup menghadapi nya jika bertemu.


Bersama dengan itu, Zian baru saja datang, ia langsung menggendong putrinya, barulah bocah itu diam.


"Zian, sepertinya dia merindukan ibunya, sejak tadi Aura menyebutkan Mama." Setelah Aura tidur, barulah Serena mengatakan ini pada Zian.


"Tidak, Ma, Aura tidak pantas merindukan ibu seperti dia, ini bukan yang pertama kalinya Ririn meninggalkan rumah dan juga meninggalkan Aura. solusinya tidak seperti ini!"


Serena mengelus pundak Zian. Mencoba untuk menenangkan emosi putranya.


"Sudahlah, yang terpenting kau urus dan didik dia." Serena keluar meninggalkan Zian yang ada di kamar putrinya.


Malam pun tiba.


Sheril menyiapkan makan malam untuk keluarga. Entah keluarganya juga atau bukan Sheril tidak berani mengakuinya. Ia kembali mendengar tangis seorang balita, kini suara itu semakin jelas ia dengar, yaitu dari ruang keluarga.


Tidak salah lagi, balita itu adalah putrinya Zian. Terlihat Serena menggendongnya menuju dapur. Sheril terpaku melihat gadis kecil yang kira-kira berusia kurang lebih 3 tahun, menangis pilu dalam gendongan Serena.


Bocah itu menatap Serena.


"Mama ..., Mama ....


Sheril terkejut, dia memangil mamanya, jika mamanya ikut ke dapur dan .... Tiba-tiba Sheril mengalihkan perhatiannya ke pada balita dan neneknya itu.


"Iya, ini, coklat, ambillah, Aura mau yang mana?" Serena membuka kulkas khusus makanan. Lalu bocah itu diam dari tangisannya dan mengambil satu makanan.


Sheril penasaran, kenapa ibu balita itu tidak terlihat. Tetapi ia tidak mau ikut campur, apa lagi sampai menanyakannya seperti itu, tidak.


...****************...


Yuk komen, Author sudah update lagi nih

__ADS_1


__ADS_2