
"Mama!"
Tampak Zian menghela napasnya.
"Ma, tadi Aura menangis, setelah dia di gendong olehnya, Aura diam. Jadi ...."
"Ya Mama melihatnya."
"Jadi Mama ...."
Serena menuju lantai atas, meninggalkan Zian yang seperti masih ingin bicara. Pria dewasa itu marah, wajahnya seketika berubah.
Sheril. Dia selesai mandi dan mengganti pakaiannya yang di berikan Zian barusan, ia menggendong Aura dan keluar dari kamarnya. Takut ibu dari bocah itu mencarinya.
"Aura, ayo kita main," ucap sister pengasuh Aura sejak kecil. Gadis kecil itu menatap Sheril, mungkin minta persetujuan padanya.
"Aura main dulu ya, Tante mau masak, oke?" Sheril tersenyum lembut menatapnya.
Bocah itu mengangguk dan berkata: "Mama ...."
Sheril mengangkat kedua alisnya, terkejut mendengar bocah itu menyebut Mama sambil menatapnya.
Lalu Sheril tersenyum dan mengelus pipinya.
"Ayo kita keluar?" Baby sitter itu mengajak Aura dengan ramah.
Sementara Sheril berkutat di dapur, memasak sesuai yang dia bisa. Kali ini Sheril akan memasak sup iga sapi kesukaan Zian, juga tumis kangkung dan sambal cumi. Melihat ada sebuah jagung manis yang ada di kulkas, Sheril berniat masak sayur bening, tidak hanya mereka yang bisa memakannya, tetapi Aura juga bisa makan dengan sayur bening itu.
Sementara Zian sudah pergi kekantor lagi, karena memang belum waktunya pulang dan masih ada pekerjaan yang tertunda.
Hatinya cukup baik hari ini, wajahnya berbinar dan tidak ada kemurungan di wajahnya.
Setelah pulang dari kantor nanti, Zian akan bicara serius dengan Sheril. Dan ingin mengatakan satu hal.
Suara ketukan pintu yang cukup keras Zian dengar dari dalam. Seketika wajah tampan itu berubah menjadi marah.
"Siapa yang berani mengetuk pintu seperti ini! Tidak sopan sekali! Brengsek!" Zian berdiri dan melangkahkan menuju pintu keluar ruangan kerjanya. Ia sendiri yang akan membukanya untuk orang yang sungguh tidak sopan itu. Belum sempat Zian memutar kenop pintunya, orang itu kembali mengetuk dan menggedor dengan tidak sabar. Zian semakin marah.
Brengsek ....! Saat Zian mengangkat tangannya dan ingin memukul orang tersebut serta membuka pintu dengan lebar, senyum lebar terpampang di depan matanya. Orang tersebut tersenyum-senyum simpul, sementara Zian memutar-mutar bola matanya.
"Ayo pukul saja."
"Brengsek kamu, dasar anak yang tidak tau sopan santun!"
Bukk ..., Zian memukul lengan kekar lelaki itu, yang tidak lain adalah adiknya yang baru datang dari luar negeri.
__ADS_1
"Au ..., kau benar-benar memukul ku!" Reza meringis kesakitan serta memegangi lengannya yang pegal dan sangat sakit, akibat di pukul oleh Zian.
"Itu tidak seberapa untuk mu. Tidak ada yang berani mengetuk pintu seperti dirimu tadi, dan rasakan ini, aku akan memukul mu lagi!" Zian mengangkat tangannya kembali.
"Ah tidak tidak. Ya maaf, maaf ...." Reza melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
"Maaf ...."
Reza mengulangi ucapannya serta menatap kakaknya yang juga menatapnya dengan tajam.
"Kau tega sekali memukul adik mu ini? dan kau tidak mengizinkan aku masuk? Dasar pelit.
Zian melotot menatap Reza.
"Kau tidak boleh masuk."
Zian menutup pintu kembali, sementara adiknya menerobos pintu tanpa seizin Zian.
"Kak, aku baru datang, kok kamu gitu menyambut ku? Dari tadi aku menelpon mu, tapi nomor ponsel kamu tak aktif."
"Untuk apa kau menelpon ku?"
"Ya minta di jemput lah."
Bagaimana kamu bisa langsung kekantor? kenapa kau tidak langsung ke rumah?"
"Aku mau buat surprise, tapi ...."
Hahahh ....
Tawa Zian menggelegar di ruangannya, Reza mengernyitkan keningnya.
"Surprise ..., tapi mendapatkan bogem mentah." Zian kembali tertawa lepas.
Sementara Reza mendengus dengan kesal.
"Oke, oke. Kau mau makan apa? Kita bisa pesan makanan." Zian tersenyum melirik adiknya.
Reza tersenyum mendengar kata makan.
"Kau yang traktir, kan?"
Zian mengangguk.
Reza semakin melebarkan senyumannya.
__ADS_1
Reza memeluk Zian, mereka berpelukan dengan gaya laki-laki zaman sekarang, dengan kepalan tangan yang masing-masing terulur seolah-olah ingin meninju.
"Tapi ...," Reza menggantung kalimatnya, yang sambil menatap Zian.
Zian melihatnya sambil mengernyit.
"Kenapa?"
"Aku mau, kita makan di restoran yang mahal, bukan pesan makanan lewat ojol,"
Zian menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Minta di traktir, trus mau makan di restoran yang mewah pula," Zian menatap Reza dengan mencibirkan bibirnya.
"Sekali-kali lah kak, kau kan sudah kaya sekarang."
"Hem ...." Zian tampak berpikir.
"Mari, kita pergi sekarang," Zian langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang di ikuti oleh Reza.
"Tapi bayar masing-masing nanti ya," canda Zian yang langsung di tatap Reza dengan melotot ke arahnya.
Beberapa karyawan melihat mereka berdua melintasinya. Tampak mereka menatap kedua Pria itu dengan mata yang tidak berkedip.
Dua orang Pria tampan? Siapa yang di sebelah Tuan? Mereka tampak berpikir, karena tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Pria itu tampak lebih muda dari pak Zian.
Reza yang tidak bisa melihat perempuan cantik, langsung melemparkan pandangan dan tersenyum manis pada mereka. Sementara zian menatapnya tidak suka.
Zian langsung memukul pundak Reza, hingga adiknya merintih dan mengalihkan pandangannya kepada Zian.
"Kau kenapa sih, suka sekali memukulku!"
"Masih saja kau menatap mereka, kakak akan mencongkel biji mata mu!"
Reza langsung merinding mendengar ucapan Zian.
"Galak sekali lo," Reza terlihat jengkel dan tidak berani lagi menatap mereka. Karyawan itu terlihat tertawa sambil membekap mulutnya, melihat Reza yang di pukul oleh atasan mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Yuk ikuti terus kisahnya.
follow author ya
__ADS_1