
Sheril merasa lega saat keluar dari kedai itu, ia tidak melihat mobil yang mengikuti mereka tadi. Entah apa yang di takuti Sheril, mungkin dia menghawatirkan Elian atau entah apa, ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Elian menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak begitu lama, mereka pun sampai di parkiran rumah sakit. Tanpa mereka sadari kalau mobil yang tadi mengikuti mereka telah menukar mobilnya dengan mobil yang lain, karena mereka tau kalau mangsanya mencurigai mereka.
Dengan pura-pura menjadi pengunjung rumah sakit, dua orang pria bertubuh besar dan menyeramkan mengikuti langka Sheril dan Elian masuk kerumah sakit.
Elian dan Sheril langsung mengambil nomor antrian.
Sementara dua orang pria itu tampak lagi mengangkat telpon dari seseorang.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukannya?" Tanya seseorang dari seberang sana yang tidak lain adalah Alzian.
"Iya Bos, kami sudah mengikuti mereka, mereka tadi sempat mencurigai kami, hingga akhirnya kami harus mengganti mobil," ucap pria itu.
"Lalu, dimana mereka sekarang?" Ujar Zian tidak sabaran.
"Kami sekarang di rumah sakit Bos, apa yang akan kami lakukan selanjutnya?" Tanya pria itu.
"Mau ngapain mereka kerumah sakit," gumam Zian dalam hatinya.
"Kalian tetap awasi mereka, cari tahu kenapa mereka kerumah sakit, dan ingat jangan gegabah, beritahu saya dahulu sebelum bertindak," ujar Zian dengan tegas.
"Baik Bos," ujar pria itu. Ia memasukkan ponselnya kembali di saku celananya.
๐ท๐ท๐บ๐บ๐บ๐บ
Tiba saatnya nama antrian Sheril di panggil.
Elian langsung menemani Sheril masuk keruangan spesial kandungan.
Sheril nampak ragu saat mengetahui dokter kandungan yang akan memeriksanya itu adalah laki-laki.
"Siapa yang akan di periksa?" Ujar dokter tampan itu melirik Elian dan Sheril secara bergantian.
"Teman saya Dokter," ucap Elian menampilkan sedikit senyuman tanda ia beramah-tamah pada orang lain.
"Silahkan duduk," ucap dokter itu yang bernama Erix, ia tersenyum ramah.
Sheril ragu-ragu untuk duduk.
"Ayo duduklah," ucap Elian menarik kursi buat Sheril duduki. Sheril pun langsung duduk.
Dokter segera memeriksa tensi dara Sheril. "Sudah berapa bulan kandungannya?" Tanya dokter itu.
"Em, kurang lebih 3 bulan dokter," ujar Sheril. Sheril menatap Elian yang berdiri di sampingnya, ia juga ragu dengan usia kandungannya.
"Apakah ada keluhan, seperti mual, sakit kepala, atau demam gitu," ujar dokter itu lagi.
__ADS_1
"Sejauh ini tidak ada dokter," jawab Sheril langsung.
"Suaminya mana?" Tanya dokter itu lagi.
Sheril langsung menegang saat dokter itu menanyakan keberadaan suaminya, ia tidak tau harus jawab apa, Sheril langsung melirik Elian.
"Suaminya sedang sibuk dokter, jadi tidak bisa menemaninya," ujar Elian.
"Lain kali ajak suaminya sekalian ya," ujar dokter itu lagi.
Sheril nampak ragu. Kemudian, dengan berat hati Sheril menganggukkan kepalanya.
"Silahkan berbaring," titah dokter Erik. Setelah Sheril berbaring, dokter Erix ingin menyibak baju yang di kenakan Sheril. Sementara Sheril sangat terkejut, ia langsung menepis tangan dokter Erix. Perasaannya panas dingin.
Dokter Erix nampak mengernyitkan keningnya. "Kamu kenapa? Bagaimana saya meriksa kandungmu kalau tidak di izinkan membuka bajumu, kamu tenang saja, semua orang akan mengalami hal yang sama," bujuk dokter Erix. Wajah Sheril langsung memerah.
"T-tapi dokter, saya tidak terbiasa di pegang laki-laki lain," ujar Sheril gugup, jantungnya berdegup kencang.
Dokter Erix menampilkan senyum ramahnya. "Saya mengerti, tapi kamu harus paham kalu saya adalah Dokter kandungan, saya juga meriksa banyak orang hari ini, kamu lihat kan semua ibu-ibu yang antri di luar, mereka di periksa sama seperti dirimu, kalu saya tidak membuka bajumu, bagaimana kita akan melihat perkembangan janin mu," ucap Dokter Erix.
"Sheril," panggil Elian pada sahabatnya, ia memberi kode agar Sheril tidak menolak lagi.
"T-tapi ... " ujar Sheril. Elian menggelengkan kepalanya, agar Sheril tidak membantah lagi.
"Lakukanlah Dokter," ucap Elian. Kemudian Elian langsung berdiri di samping Sheril.
"Aku ada di samping mu, jadi biarkan dokter melakukan tugasnya," kata Elian pada Sheril.
Dokter Erix tersenyum melihat interaksi pasiennya seperti itu.
"Tenangkan dirimu, tarik napas dalam-dalam, kemudian hembuskan secara perlahan," titah dokter Erix.
Sheril menuruti perintah dokter kandungan itu, setelah merasa lega, dokter Erix langsung mengoleskan pelumas gel di perut Sheril yang tampak masih datar. Dokter Erix mulai meletakkan alat di atas perut Sheril.
"Pokus dengan komputernya ya," ujar dokter Erix langsung memulai memutar-mutar alatnya.
Dokter Erix mengamati layar memonitor, ia pun menjelaskan perkembangan janin Sheril, serta memantau struktur tengkorak, otak, dan jaringan di dalam kepala bayi.
"Janinnya sangat kuat dan sehat, walupun seperti itu, kamu tetap menjaga kesehatan dan pola makan yang benar, jangan terlalu lelah ya, nanti saya akan memberikan resep vitaminnya," ujar dokter itu menjelaskan.
Elian dan Sheril langsung keluar dari ruangan dokter Erix, setelah selesai memeriksa kandungan Sheril.
Elian merangkul pundak sahabatnya menuju parkiran. "Elian, kamu dengarkan, kalau janinku kuat, itu berarti aku bisa bekerja," ujar Sheril berbinar. Sheril sama sekali tidak keberatan untuk mempertahankan kandungannya, bahkan ia menyayangi anaknya yang belum berbentuk itu.
"Jika memang itu kemauan mu, aku akan mendukung mu, yang penting jangan memaksakan diri, kamu tidak boleh lelah," ujar Elian sambil mengelus perut datar sahabatnya itu.
"Iya, dia adalah darah daging ku, aku menyayanginya, aku janji akan menjaga kesehatan ku," ucap Sheril. Kemudian mereka masuk kedalam mobil Elian.
Tanpa mereka sadari dua orang laki-laki tadi terus saja mengawasi Elian dan Sheril, mereka memotret elian dan Sheril dari samping. Mereka juga sudah mendengar percakapan antara Sheril dan Elian barusan.
__ADS_1
Orang itu langsung menghubungi seseorang yang tidak lain adalah Alzian.
"Bos, kami sudah menemukan dua orang perempuan, mereka baru saja keluar dari dokter kandungan, perempuan itu ternyata sedang hamil Bos," ujar bodyguard itu membuat Zian langsung terdiam.
"Hamil? Mungkinkah perempuan itu hamil anakku?" Ucap Zian memenuhi pikirannya. Ia tampak ragu-ragu.
"Hallo Bos, jadi apa yang harus kami lakukan?" Ujar bodyguard itu menyadarkan lamunan Zian.
"Iya, kalian pulang saja, nanti di lanjutkan lagi setelah waktu yang tepat," ujar Zian langsung memutuskan telponnya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Ayo aku akan mengantarmu pulang, sebentar lagi aku ada jadwal kelas," ujar Elian.
Sheril nampak sedikit murung saat Elian mengatakan jadwal kelas. Ia merasa sedih, karena tidak bisa mengikuti kegiatan kampusnya lagi seperti dulu.
Elian menatap Sheril, ia merasa bersalah karena tidak sengaja mengatakan ucapan itu yang membuat sahabatnya merasa sedih.
"Sheril, maafkan aku ya, aku tidak sengaja membuatmu sedih, kamu yakin saja, semua kejadian yang menimpa kita itu, adalah sebuah rencana indah yang sudah di persiapkan tuhan sebelumnya, aku yakin kamu akan bahagia setelah anak mu lahir nanti," ujar Elian menguatkan sahabatnya itu.
Sheril menitikkan air matanya. "Aku kangen sama Nenek dan Kakek," lirih Sheril.
Elian langsung memeluk sahabatnya. "Terus bagaimana? Apakah kamu akan pulang kampung?" Tanya Elian.
Sheril langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Elian, bagaimana aku pulang, dan tidak mungkin aku akan tinggal lama di kampung, apa yang akan dikatakan orang-orang nanti, lagipula, aku tidak punya cukup uang untuk pulang," ujar Sheril sambil menyeka airmatanya.
"Ya ampun Sheril, jika kamu ingin pulang untuk beberapa hari, aku bisa memesan tiket PP untuk mu, setelah melepas kangen, kamu bisa kembali lagi kesini," ujar Elian memelas.
"Tidak Elian, aku akan pulang setelah anakku sudah lahir dan aku sudah bekerja,"
"Tapi itu waktu yang lama Sheril, kalu kamu mau pulang besok, secara tidak langsung, perutmu belum tampak menonjol, mereka tidak akan mencurigai mu," ujar Elian.
"Entahlah Elian, aku pikirkan dulu, aku sudah banyak merepotkan kamu, dan keluargamu," ujar Sheril merasa tidak enak hati.
"Sheril, tolong jangan bicara seperti itu, aku tidak ingin mendengarnya lagi," ucap Elian ketus.
"Iya Elian, aku memang mudah merasa," ucap Sheril dengan suara sendunya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, sekarang kamu masuk, aku langsung pergi saja," ujar Elian setelah mereka sampai di depan gerbang rumah Elian. Sheril langsung turun.
"Ya sudah, kamu hati-hati," ujar Sheril tersenyum melirik Elian, kemudian menutup pintu mobilnya.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
๐jangan lupa tap โค๏ธ vote dan like setelah
๐membaca. berikan hadiah gift๐
๐yuk komen agar author update lagi
__ADS_1
wajib Like, oke๐น๐น