
Sheril melirik Zian yang sudah terlelap. Lalu ia bangkit dari tidurnya, kemudian dengan hati-hati ia memelankan langkah kakinya seperti orang yang ingin mencuri. Ia tidak tau kalau Zian juga pura-pura tidur. Zian memperhatikan gerak-gerik Sheril dengan sudut matanya. Setelah Sheril mau memutar kenop pintu, Zian langsung memeluknya dari belakangnya.
"Kamu mau kemana pencuri," bisik Zian di telinga Sheril.
Sheril sangat terkejut, ia ingin berteriak tapi Zian langsung membekap mulutnya dengan tangan kanannya.
Sheril merinding mendengar bisikan Zian.
"Aku, a-aku mau keluar, mau tidur di kamarku," ujar Sheril gelagapan.
"Tidak, kamu tidak akan aku biarkan tidur di sana," Zian langsung mengambil kunci pintu kamarnya dan memasukannya ke saku celananya.
"Kamu jahat, aku tidak bisa tidur di kamarmu," ucap Sheril mendengus kesal.
Tampa pikir panjang Zian langsung mengangkat tubuh Sheril.
"Apa yang kamu lakukan, turunkan aku!" Tukas Sheril geram, ia memukul dada Zian dengan keras, tapi bukannya Zian yang kesakitan, tapi tangannya lah yang sakit.
"Sudah aku turunkan, kamu mau apa?" Ujar Zian menatap Sheril dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tinggal beberapa senti saja hidung Zian akan menyentuh bibirnya. Sheril langsung mendorong tubuh Zian, tapi anehnya, tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Sheril langsung memalingkan wajahnya.
Zian tersenyum samar menatap wajah Sheril yang bersemu, jujur saja Zian sangat menyukai tingkahnya yang seperti ini.
"Aku mau makan," ucap Sheril tiba-tiba.
"Makan? Jangan bilang kalu ini hanya akal-akalan kamu saja, agar bisa keluar," Zian langsung mengangkat wajahnya sambil menautkan kedua alis tebalnya.
Kriuk ....
Tiba-tiba suara perut Sheril berbunyi. Zian langsung terbahak. Sementara Sheril merasa malu dan juga takut mendengar suara tawa Zian yang seperti iblis.
"Katakan, kamu mau makan apa?" Tanya Zian menatap Sheril.
Sheril tampak berpikir sejenak.
"Aku mau makan ayam chicken," ujar Sheril, ia sengaja menyebutkan nama makanan yang tidak akan ditemuinya di dalam villa itu.
"Baiklah, aku akan memasaknya untuk mu," ujar Zian seraya ingin beranjak pergi.
"Sok pintar masak," gerutu Sheril kesal.
Zian menoleh dan menatap Sheril, ia mendengar jelas apa yang di ucapkannya barusan.
"Aku akan mengunci pintunya dari luar agar kamu tidak mencoba untuk kabur," ujar Zian.
"Dasar sinting," ujar Sheril meneriaki Zian.
Zian bingung bagaimana cara membuat ayam chicken yang di maksud Sheril. Zian mengacak-acak isi kulkas mencari bahan-bahan yang ia inginkan, tapi ia tidak menemukanya.
Setelah mengacak isi kulkas, Zian mengacak rambutnya, tanpa ia sadari kalau rambutnya memutih akibat bekas tepung yang menempel di tangannya.
"Gimana cara membuatnya? Bibi Arum tidak ada lagi," Zian bingung dengan apa yang akan ia lakukan.
"Tunggu dulu, kenapa aku mau direpotkan memasak untuk perempuan itu," ujar Zian sadar. Ia memikirkan apa yang ia lakukan.
"Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur, kali ini aku akan memasak untuknya, tapi lain kali tidak lagi, tidak akan," gumam Zian. Ia duduk memikirkan bagaiman cara membuatnya. Lalu seketika bibirnya tersenyum saat mengingat Mbah Google.
"Mbah Google akan membantuku," ujar Zian tersenyum miring.
Zian memulai memasak, mulai dari merebus ayam, pecahin telur, terus tepung. Zian mengikuti petunjuk sesuai yang ada di google.
__ADS_1
Sekarang Zian siap menggoreng ayam yang sudah di celupkan dalam adonan tepung.
"Duh, kenapa spatula nya lengket begini," Zian kesulitan untuk mengangkat ayam chicken nya yang ia rasa sudah matang.
Tepung ayam chicken nya seperti karet, Zian tidak tau kalu tepung yang ia gunakan itu adalah tepung kanji.
Dengan bangganya Zian membawa masakannya keatas.
Ceklek ....
Zian membuka pintu kamarnya. Matanya langsung tertuju ke arah Sheril yang berbaring di ranjang.
"Ini anak benar-benar ya, tadi katanya mau makan, hei ... bangunlah ini aku sudah memasaknya," ujar Zian membangunkan Sheril.
"Aku ngantuk, salah sendiri masakannya lama," ujar Sheril mengeratkan pelukannya dengan bantal guling.
Zian menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Susah paya aku membuatnya, malah ngk di makan," Zian mengangkat piring berisi ayam chicken buatannya itu dan hendak membuangnya.
"Mau di bawa kemana? Aku lapar, sejak tadi aku menunggunya," ujar Sheril.
Zian langsung menoleh dan kembali menghampiri Sheril.
"Katanya ngantuk," ujar Zian sambil menyodorkan piring di tangannya.
Sheril menatap isi piring yang ada di tangannya sekarang. Ia merasa aneh dengan bentuk masakan ini.
"Ini apa? Baru kali ini aku menemukan makanan yang seperti ini," gumam Sheril dalam hatinya.
"Ayo di makan," ucap Zian.
Zian menatap Sheril dengan seksama.
"Kamu kenapa seperti itu?" Tanya Zian.
Sheril tidak dapat menahan tawanya lagi, ia pun langsung tertawa lepas.
Sementara Zian mengeryitkan dahinya. Ia senang bercampur aneh melihat Sheril bisa tertawa lepas seperti itu, ia nampak lucu dan menggemaskan.
Ha-ha-ha ....
"Ternyata kamu sudah sangat tua sekali," ujar Sheril.
"Apa? Tua. Hei aku ini masih muda, baru kali ini ada orang yang mengatai ku tua, dan itu kamu, hanya kamu yang mengatakannya," ujar Zian tidak suka di katakan tua.
"Iya, karena hanya aku yang melihatnya," ujar Sheril menahan senyumnya.
"Dasar perempuan aneh," gumam Zian, tapi masih terdengar jelas di telinga Sheril.
Sheril langsung mencicip makanan yang di masak Zian, ingin rasanya ia memuntahkan isi perutnya sekarang juga. Rasanya sama sekali ngk enak. Tapi Sheril cukup tau untuk menghargai usaha seseorang, ia tetap memakannya walaupun rasanya ngk enak.
"Dia ternyata mempunyai hati yang baik, bahkan sangat baik," pikir dalam hatinya Sheril.
"Aku ingin bicara padamu," ujar Sheril setelah ia merasa sudah cukup memakan makanan itu.
"Besok saja, ini sudah hampir subuh, aku ngantuk," ujar Zian.
"Tidak bisa, karena besok aku mau izin, mau pulang pada ke keluargaku," ucap Sheril membuat Zian langsung bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Mau kemana kamu," ujar Zian menatap Sheril dengan mata yang tajam.
"Aku ingin kembali dengan keluarga ku, aku sudah terlalu lama di sini, mereka pasti menghawatirkan aku," ujar Sheril menundukkan kepalanya.
Zian berdiri dan duduk di atas ranjang menghadap Sheril.
"Bagaimana bisa kamu pulang, kamu bahkan tidak menjawab pertanyaan ku," ujar Zian.
Sheril mengangkat wajahnya.
"Pertanyaan kamu yang mana, aku tidak tau," ujar Sheril.
"Baiklah, akan aku ulangi. Apakah anak yang ada di dalam perutmu itu adalah anakku? Aku ingin kamu mengatakannya dengan jujur, jika kau berbohong, aku tidak akan mengampuni mu," ujar Zian dingin.
Sheril langsung terdiam. Ia tidak berani menatap wajah Zian.
"Kalau aku mengatakannya, apakah kau akan membebaskan aku dari sini," ujar Sheril yang mulai berkaca-kaca.
"Aku janji akan membebaskan mu jika kau memenuhi syaratnya," ujar Zian.
Sheril langsung menatap Zian.
"Apa maksudmu? Jangan menyulitkan keadaan ku, walaupun aku begini, masih ada yang menyayangi ku, keluarga ku pasti menghawatirkan aku," ujar Sheril membuat dada Zian langsung berdegup kencang.
Zian langsung menatap manik mata Sheril dengan dalam.
"Siapa yang menyayanginya?" Gumam Zian dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Iya, katakanlah apa yang ingin kamu katakan, tapi jangan mencoba untuk berbohong padaku, suatu saat aku juga akan mengetahuinya," tukas Zian penuh dengan penekanan.
Sheril menganggukkan kepalanya dengan berat.
"Iya, dia hasil dari perbuatan kamu," isak Sheril yang mulai tidak bisa membendung air matanya lagi, tangisan Sheril seketika pecah.
"Tapi aku minta, tolong jangan ganggu hidupku lagi, aku ingin hidup tenang dengan keluarga ku, aku tidak ingin seperti ini," ujar Sheril dalam tangisnya membuat hati Zian ikut tercabik-cabik mendengar apa yang di ucapkannya barusan. Entah mengapa perasaan Zian tidak enak saat mendengar Sheril akan pergi.
Zian tidak berkata apa-apa, ia langsung berdiri menghadap kaca jendela kamarnya, ke-dua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"Baiklah, sore besok supir akan mengantarmu pergi dari sini," ujar Zian, ia menghentikan kalimatnya sejenak.
Sheril langsung mengangkat wajahnya, bibirnya langsung tersenyum senang.
"Tapi dengan syarat, menikahlah denganku besok," ujar Zian langsung membalikkan tubuhnya menghadap Sheril.
Sheril langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apa-apaan! Kamu jangan bercanda, aku tidak ingin menikah dengan mu," tukas Sheril menatap mata Zian dengan keberaniannya.
"Itu syarat yang harus kamu pikirkan, jika tidak mau, juga tidak apa-apa, aku tidak bisa memaksamu," ucap Zian ingin berlalu pergi.
Nantikan keseruannya ya.
jangan lupa dukung author dengan like vote, komen.
tekan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 jika kalian terkesan.
mulai dukung karya author dari sekarang ya.
karena di akhir cerita nanti, author akan berbagi pulsa gratis, dengan menyeleksi dukungan terbanyak dari 1 2 dan 3. terimakasih
__ADS_1