
Sheril mengedarkan pandangannya, seolah mencari sosok seseorang yang tidak berada di dalam kamar itu lagi. Kamar ini lebih besar dari kamar yang ia tempati sebelumnya. Tempat tidurnya pun lebih besar dan mewah.
Sheril duduk di tepi tempat tidur king,"Sekarang aku sudah menjadi seorang istri," gumam Sheril sambil memegangi perutnya yang masih belum kelihatan itu.
Sheril segera mengganti pakaiannya dengan pakaian apa adanya. Lalu ia mencuci mukanya ke wastafel.
Ceklek ....
Suara pintu terbuka lebar. Sheril langsung menoleh, dadanya berdegup kencang saat mengetahui siapa yang membuka pintu. Dia tidak lain adalah suaminya.
Zian segera menghampiri Sheril. Ia menata Sheril dari atas sampai bawah, Sheril merasa risih dengan sikap Zian, ia melangkah mundur.
"Pakaian mu kumal sekali, apakah tidak ada pakaian yang lebih bagus dari ini," ujar Zian sambil menjinjing baju Sheril. Sheril langsung menepis tangan Zian.
"Aku bukanlah orang kaya seperti mu, yang bisa membeli pakaian mahal kapan pun kamu mau, dan yang paling penting aku bukan memakai pakaian orang lain," tukas Sheril membuat Zian langsung terdiam.
Kalimat Sheril mampu membuatnya bungkam seketika.
Kalau Sheril tau, ucapannya adalah menampar dirinya sendiri. Kalau Sheril tau, dia tidak akan pernah berucap seperti itu, lagi pula, Sheril belum mengetahui yang sebenarnya.
Zian langsung pergi meninggalkan Sheril.
Ia mencerna ucapan Sheril.
Zian langsung pergi meninggalkan villa, ia sama sekali tidak berpamitan pada Sheril kalu ia akan pergi kemana?.
...****************...
Zian baru saja tiba di halaman rumah megahnya. Ia memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Zian langsung turun dari mobilnya menuju kerumah besar miliknya.
__ADS_1
Saat Zian ingin masuk, Ririn langsung memeluknya.
Zian langsung terkejut dengan sikap istrinya yang tidak biasanya.
"Kamu kenapa?" Tanya Zian merenggangkan pelukannya, ia memegang pundak Ririn dan menatapnya dengan seksama.
"Tadi aku tidak sengaja memecahkan gelas yang sedang aku pegang, entah kenapa kejadian itu seperti sesuatu pertanda, dan Mama langsung memarahiku," ujar Ririn.
"Lalu," ujar Zian ingin mendengar ucapan Ririn selanjutnya.
"Aku takut terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan," ujar Ririn menundukkan wajahnya.
"Ririn, kau percaya dengan hal semacam itu?" Ujar Zian menatap manik mata Ririn.
"Bukan percaya, cuma aku merasa tidak enak setelah kejadian itu, coba kamu pikir, gelas berisi air putih, yang sedang aku pegang tiba-tiba langsung pecah, itu pertanda biruk," ujar Ririn.
"Sayang, tidak usah percaya dengan hal semacam itu, itu hanya mitos, tidak usah di pikirkan ya," ujar Zian.
"Ma, sudahlah, aku mau ke kamar, mau ganti baju," ujar Zian memotong kalimat Mama Serena.
Ririn merasa tertekan dengan sikap mama mertuaya. Wajahnya langsung berubah masam.
Ririn menatap sekilas mama mertuaya. Kemudian ia berlalu pergi menyusul Zian.
"Kamu mau kemana?" Ujar Serena.
"Mau ke kamar," ujar Ririn datar.
"Tidakkah kau akan menyiapkan makanan untuk suami kamu?" Ujar Serena membuat Ririn menghentikan langkahnya. Ia berbalik lalu berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Punya mertua yang sangat cerewet, kenapa tidak pulang saja ke luar negeri," upat Ririn sambil menyiapkan makan untuk suaminya.
Sementara Zian langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, setelah selesai mengganti baju santainya.
Ririn masuk kedalam kamar, ia menghampiri suaminya yang sedang tidur.
"Tidur?" ucap Ririn sambil memegang pundak suaminya.
Em ....
Ucap Zian.
"Aku sudah siapkan makan untuk mu," ujar Ririn.
"Baiklah," ujar Zian sambil bangkit dari tidurnya.
Sebenarnya Zian malas makan, tapi dia hanya menghargai istrinya.
Zian langsung turun dari ranjang.
"Kamu ngk ikut makan?" Tanya Zian.
"Aku sudah makan tadi, kamu makan sendiri saja," ujar Ririn. Padahal Zian berharap istrinya mau menemaninya makan.
Yah makan sendiri lagi.
vote lagi ya.
mulailah dari sekarang untuk mendukung karya author, karena author sudah menjelaskan dari sebelumnya.
__ADS_1
jangan lupa tekan like habis membaca.
terimakasih