Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
126


__ADS_3

Mereka sudah menyelesaikan makan malamnya dengan tenang. Serena tampak memegangi pelipisnya, kepalanya sedikit pusing, dia juga tidak tau kenapa.


Sheril melihatnya dengan mengernyitkan keningnya. Melihat Serena seperti mau terjatuh, reflek Sheril menghampirinya dan memegang kedua pundaknya.


"Nyonya ada apa?" Sheril bertanya dengan khwatir.


"Tidak apa-apa, hanya pusing sedikit." Serena ingin bangkit tapi Sheril menahannya.


"Jika nyonya perlu sesuatu, katakan pada ku, aku akan mengambilnya!"


Serena kembali duduk, dia merasa tidak kuat untuk berdiri.


"Ambilkan obat sakit kepala di kotak obat itu."


Sheril segera mengambilnya, dia juga menuang segelas air putih dan membawanya ke meja makan. Setelah membuka bungkus obat itu, Sheril memberikannya kepada Serena dan membantunya untuk meminum air putih.


"Nyonya, apakah perlu ke dokter? Biar aku panggilkan."


"Tidak usah, nanti juga sembuh."


"Tapi ...."


"Aku mau istirahat saja."


Serena bangkit dan mencoba untuk berjalan, namun kakinya terasa berat pandangannya sedikit buram.


"Nyonya!" Sheril kembali menghampiri Serena yang hampir jatuh ke lantai.


"Mas!" Sheril berteriak memanggil Zian.


"Nyonya sebaiknya duduk dahulu, sepertinya Nyonya kurang enak bada, aku akan memanggil Dokter."


Serena duduk kembali sambil memijat keningnya. Tidak lama kemudian Zian datang.


"Ada apa? Mama kenapa?"


"Mas, panggil dokter sekarang juga, sepertinya Mama sakit." Sheril langsung membekap mulutnya, tanpa sadar dan merasa bersalah, dia sudah memanggil Mama Zian dengan sebutan Mama. Dengan kepanikan seperti itu, Zian tidak terlalu memperhatikan, lalu segera menelpon Dokter.


"Mama, sebentar lagi dokter akan datang, ayo, aku antar ke atas." Zian membimbing Serena naik ke lantai atas. Sheril mengiringinya dari belakang.


Sesaat Zian menatap mamanya yang berbaring di atas tempat tidur.


Tidak lama kemudian dokter datang, dan segera memeriksa kesehatan Nyonya Austin.


"Bagai mana dokter, apa yang terjadi dengan ibu ku."


Dokter itu tersenyum.


"Tidak apa-apa, Nyonya hanya perlu istirahat, dia kelelahan. Nanti saya akan menuliskan resep obat, dan tebus di apotek."


"Baiklah."


Setelah menulis resep obat, Dokter itu pamit. Zian mengantarnya sampai keluar.


Sheril duduk di sisi ranjang, menarik selimut lalu menutupi setengah tubuh Serena.

__ADS_1


"Istirahatlah Nyonya, kalau ada apa-apa, panggil saja aku."


Serena melirik Sheril, lalu mengangguk dengan pelan.


Sheril keluar dan menutup pintu kamar Serena dengan hati-hati.


Saat ingin melangkah, Sheril mendapati Zian yang ingin masuk ke kamar Serena, membawa obat untuk ibunya. Tadi Zian menyuruh sopir untuk membelinya di apotik.


"Apa Mama sudah tidur?"


"Belum." Jawab Sheril singkat dan ingin melangkah, tapi Zian menarik tangannya.


Mereka saling tatap untuk sesaat.


"Jangan dulu tidur, aku mau memberikan obat ini sama Mama,"


Sheril mengangguk lalu pergi melalui Zian.


"Ma, ini minum obatnya dahulu."


Zian memberikan obat sesuai anjuran dokter. Dan menyodorkan gelas air minum.


Zian duduk di sisi Serena yang berbaring.


"Ma. bagaimana keadaan mu, apakah kita perlu ke rumah sakit saja? Aku khwatir, soalnya besok aku harus berangkat ke luar negeri."


Serena menatap Zian.


"Mama tidak Kenapa-napa sayang, hanya lelah saja. Tidak apa-apa, itu pekerjaan mu, pergilah. Mama akan baik-baik saja."


"Ma, apa perlu Papa pulang saja ke Indonesia, perusahaan di sana biarkan Zian yang mantau, lagi pula ada Reza di sana, biar dia juga bisa belajar mengurusnya."


"Baiklah. Besok aku akan pergi, Mama jaga kesehatan dan istrahat yang banyak, aku tidak ingin Mama sakit."


"Iya sayang."


"Ma."


Zian seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia ragu.


"Ada apa?"


"Aku sebetulnya khwatir sama Mama dan juga Sheril, dia hamil besar. Sementara aku jauh dari kalian."


"Zian, jangan menghawatirkan Mama, soal istri mu itu, Mama juga akan mengawasinya. Lagi pula dia juga pandai menjaga dirinya, dia masih sangat muda."


Zian menghela napasnya. Jawaban Serena tidak membuatnya puas.


"Baiklah, Mama istirahatlah, aku juga mau istirahat."


Zian bangkit dan pergi meninggalkan kamar ibunya. Menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan masuk ke kamar Sheril.


Pandangannya menyapu seluruh ruangan kamar yang tidak mendapati di mana sosok istrinya berada. Lalu dia mendapati sebuah bayangan di balkon kamarnya.


Zian segera masuk dan menutup pintu, lalu membuka pintu yang terhubung ke balkon.

__ADS_1


"Kenapa di sini?" Zian bertanya serta duduk di sampingnya.


"Ngk apa-apa, cuma mau melihat bintang." Sheril mendongak ke atas, menatap bintang yang bersinar terang di angkasa. Zian pun mendongak seperti Sheril.


"Kamu menyukai bintang?" Zian beralih menatap wanita yang sedang duduk di sampingnya. Sheril mengangguk lalu tersenyum.


"Kau adalah bintang dan aku adalah bulan."


"Kenapa begitu?" Sheril menatap Zian.


"Iya, ada bulan tetapi tidak ada bintang, langit tidak akan indah, sama halnya seperti ku. Tanpa kamu hidupku tidak akan indah."


Sheril tertawa lepas mendengar kata-kata Zian yang lucu menurutnya. Zian menatap Sheril, baru kali ini dia melihatnya tertawa lepas seperti itu, tertawa seakan tidak ada beban sama sekali. Zian senang melihatnya.


Zian berdiri lalu menarik tangan Sheril: "kita duduk di sana saja."


Mereka duduk di bangku samping tembok kamar yang terhubung dengan kamar Aura. Duduk di sana ternyata lebih luas untuk menatap bintang-bintang di langit. Zian menikmati malam terakhirnya bersama Sheril, membuat wanitanya merasa senang dan bahagia. Dia memeluk istrinya dalam kegelapan malam yang hanya disinari rembulan dan bintang.


Zian tiba-tiba berjongkok di hadapan Sheril. Sementara Sheril terkejut dan melangkah mundur sambil memegang perutnya, menatap Zian yang berada di bawahnya. Zian mendongak dan mengelus perut Sheril, serta memberikan kecupan hangat di perutnya.


"Besok Papa akan pergi. Jaga Mama mu dengan baik, dan jangan nakal ya." Sekali lagi Zian mencium perut istrinya yang besar seperti balon.


Sheril tersenyum tipis, memandang suaminya dengan rasa sedih, lalu memeluknya dengan erat.


"Aku akan menunggu mu, Mas." lirihnya, matanya berkabut, menahan tangis.


Zian memandangnya lalu mengangguk, serta mencium keningnya, udara di luar terasa dingin menembus kulit, hingga dia mengajak Sheril untuk masuk.


Zian berbaring duluan di tempat tidur, sementara Sheril ke kamar mandi, mungkin buang air atau sekedar cuci muka saja.


Perasaannya dia menunggunya dengan sangat lama, Sheril belum juga keluar.


Apa yang dia lakukan di sana? Zian sungguh tidak sabar, hingga dia bangkit mau menyusul. belum sempat dia berdiri, namun Sheril sudah keluar.


Sheril mengambil handuk dan mengelap mukanya.


"Sayang, ayo cepat."


Sheril menoleh.


"Ada apa, mas?"


"Kesini!"


Zian tidak tahan, ingin memeluk dan menghabiskan waktu bersamanya malam ini.


Author sudah update ya


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️

__ADS_1


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author


__ADS_2