Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
100


__ADS_3

Zian menatap wajah Sheril dengan tajam.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini," ucapan Zian, membuat Sheril menoleh dan menatapnya, begitupun dengan Ririn, ia menatap Zian dengan penuh kebencian.


Ia tidak menyangka Zian bicara seperti itu. Kenapa Zian seperti ini? mempertahankan perempuan itu, namun tidak membelanya sama sekali. Ririn mengingat bagaimana Zian mencintainya lebih dari apapun. Apakah yang di katakan Zian selama ini, hanya untuk menyenangkan hatinya saja.


"Kamu lebih memilih perempuan ini," tanya Ririn menatap Zian dengan rasa yang dongkol. Sungguh, baru kali ini Ririn merasakan, rasa sakitnya seperti ini.


Ingin sekali Ririn mencakar wajah perempuan itu. Tapi apalah daya, dia merasa tidak berguna. Zian tidak akan tinggal diam.


Zian membuang napasnya dengan kasar. Mengusap mukanya dengan cepat. Tidak tau harus bicara apa. Dengan penuh pertimbangan, melihat Ririn sudah sedikit tenang, akhirnya Zian mengucapkan sesuatu: "Ririn, maafkan aku, semua ini salahku yang tidak pernah aku inginkan, dia ..., 'Zian kembali diam sesaat'


"Aku melakukan kesalahan besar, tidak dengan sengaja merampas kesuciannya waktu aku tidak sadarkan diri, hingga dia hamil," Zian kembali diam.


Ririn menatap Zian dengan berlinang air mata. walau bagaimanapun, meski selama ini hubungan mereka terasa hambar, hampir tidak ada cinta lagi di hatinya Ririn, namun Zian tetaplah suaminya, ia merasa dagingnya terasa di sayat, mendengar penjelasan suaminya.


"Dan .., aku harus bertanggung jawab atas perbuatan ku sendiri, aku sudah menikahinya 4 bulan yang lalu," Zian menundukkan wajah bersalahnya.


Tubuh Ririn berguncang hebat, tenaganya seakan menjadi lemah seketika. Entah mengapa hatinya sangat berat, tidak percaya, rasa sakit semakin dalam menusuk relung hatinya. Perasaan macam apa? kenapa sesakit ini, ia mengingat kalu dia tidak begitu peduli dan cinta dengan suaminya, Kepura-puraan nya selama ini hanya membuat Zian percaya. Dia hanya memikirkan masa yang tiba saatnya datang. Semua yang ia inginkan sudah terpenuhi.


"Aku mohon, kamu menerima ini semua," ucap menundukkan wajahnya, yang membuat Ririn mengernyit.


"Enak sekali kamu bicara Zian, aku ini punya perasaan, tidak semudah itu aku menerima perbuatan keji kamu! Hal yang terjadi seperti ini karena suka sama suka, kalu tidak, tidak mungkin wanita j*****g ini bisa hamil! kalian pembohong, munafik!" nada suara Ririn mulai meninggi.

__ADS_1


"Berhenti mengatai dia wanita j*****g, dia lebih baik dari pada kamu!" Zian menatap Ririn dengan wajah yang keruh.


"Oh, oke, kamu sudah berani merendahkan istrimu sendiri. Lebih membela wanita ini dari pada aku, keterlaluan kamu Zian.


Sheril melangkah dengan hati yang bimbang, ia berpikir, akan menghadapi apa pun yang terjadi.


"Mas, ceraikan aku setelah bayi ini lahir, aku pun tidak bermaksud mengganggu rumah tangga kalian, jika aku tau sebelumnya, aku tidak akan pernah menerima mas Zian bertanggung jawab,"


Ririn langsung memotong kalimat Sheril.


"Munafik, pintar sekali kamu bersilat lidah, dasar perempuan m****n. kau sengaja menggoda suamiku!"


"Ririn, tenanglah, dia tidak bersalah dalam hal ini,"


Ririn menatap Zian nanar. Bibirnya tersenyum penuh ejekan. Zian takut Ririn akan berbuat sesuatu lagi.


"Atau ceraikan aku," ucap Ririn dingin.


"Baiklah," Zian menarik napasnya dengan dalam, kemudian menghembusnya secara kasar.


"Ayo, aku antar pulang, kita selesaikan ini secara baik, tidak berguna berdebat dengan mu disini," Zian mencengkeram tangan Ririn ingin menyeretnya keluar. Dengan cepat Zian mengambil kunci di saku celananya. dan membuka pintu dengan cepat.


"Tidak! Zian lepaskan aku, perempuan itu yang harus pergi! Kenapa kamu menyeret ku seperti ini!"

__ADS_1


Zian hanya diam, dia tidak ingin berdebat lagi.


Ririn ingin meronta, namun tenaganya lebih kuat daripadanya. Matanya menatap tajam ke arah Sheril.


"Kamu jangan kemana-mana, tunggu aku datang," pesan Zian menoleh kearah Sheril sebelum ia menyeret Ririn.


.


.


.


"Lepaskan! aku bisa jalan sendiri,"


Namun Zian tidak melepaskan pergelangan tangan Ririn. Ia mendorong Ririn masuk kedalam mobil, dan membawanya pergi.


Napasnya terlihat tersengal, wajahnya yang suram dan kelam, matanya yang menatap lurus kedepan.


"Penghianat, aku jijik melihat mu, ceraikan aku jika kamu tidak ingin meninggalkan perempuan itu,"


"Baik, jika itu keinginan terbesar kamu, jangan menyesal suatu hari nanti," ucap Zian.


Ririn terhenyak mendengar jawaban Zian, Jawaban yang tidak ia inginkan.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ikuti kisah selanjutnya ya, jangan lupa vote dan like.


__ADS_2