Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
Mertua yang menyebalkan


__ADS_3

Hiks-hiks-hiks....


"Papa, Mama, andai kalian masih ada di dunia ini, mungkin nasib putrimu tidak akan seperti ini. Nenek, Kakek, hiks-hiks-hiks, Sheril rindu mendengar suara kalian Nenek," Sheril menangis sejadi-jadinya.


"Perempuan itu kenapa tiba-tiba dia menangis?" Ucap Zian sambil melajukan mobilnya. Ia membayangkan wajah Sheril, bentuk mata Sheril, bibirnya, dagunya.


"Ah kenapa aku jadi memikirkannya," Zian memukul setir mobilnya dengan keras.


Kring ....


Ponsel Zian tiba-tiba berdering.


"Iya hallo, Ma. Ada apa? Tumben telpon jam segini?" Tanya Zian.


"Mama kangen dong sama putra mama. Apa kabar cucu Mama sayang," ujar Serena.


"Baik, Ma," jawab Zian singkat.


"Mama sudah di airport, mau ke Indonesia," ujar Serena mamanya Zian.


"Ma, kenapa ngk bilang dulu kalau mau keindonesiaan," ucap Zian jengkel.


"Alzian? Ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti tidak suka Mama datang kesana!" Ujar Serena Dengan suara tingginya.


"Em ... maafkan Zian, Ma, b-bukan begitu maksud Zian, kalau Mama bilang sebelumnya, Zian bisa jemput Mama," ujar Zian berbohong.


"Emangnya kamu di mana sekarang?" Tanya Serena.


"Zian lagi di luar kota, Ma, ada pekerjaan," jawab Zian.


"Oh, ngk apa-apa, suruh supir jemput mama ya," ujar Serena sambil tersenyum.


"Baik, Ma," ujar Zian.


Zian langsung mengakhiri pembicaraan sama mamanya.


"Aku takut, Mama berantem lagi sama Ririn, bagaimana ini," ujar Zian bingung. Zian sudah memastikan kalau mereka akan berantem lagi.

__ADS_1


Serena tidak suka dengan sikap Ririn yang terlalu manja. Itulah mereka sering adu mulut. Serena tipe orang yang bersih dan rapi, ia tidak suka dengan perempuan yang malas.


Bandara Sukarno Hatta. Serena sudah tiba di Indonesia. Ia tersenyum sambil memandang sekeliling bandara. Sudah hampir 1 tahun ia tidak menginjakkan kakinya di tanah air. Rasanya ia sudah sangat rindu dengan tanah kelahirannya ibunya.


"Nyonya, Saya sudah mencari Nyonya kemana-mana, ternyata nyonya ada disini, kenapa nomor ponsel Nyonya tidak aktif?" Ujar Rendi, supir pribadi keluarga Zian.


"Saya lupa menyalakannya setelah sampai, ayo kita langsung pergi saja, saya sudah tidak sabaran ingin beristirahat," ujar Serena sambil berlalu meninggalkan Rendi yang mengambil barang-barang miliknya.


"Barang-barang Nyonya banyak sekali, apakah dia akan lama tinggal di Indonesia?" Pikir Rendi.


Selesai menyusun barang milik Serena. Rendi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Satu jam perjalanan akhirnya, Serena sampai juga di istana yang dulu menjadi tempat berkumpulnya keluarga Serena. Tapi kini istana itu sudah di wariskan atas nama Alzian Guinandra.


"Ririn!" Panggil Serena menggema di seluruh ruangan.


Ririn terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi baginya.


"Suara Mama? Tapi tidak mungkin, kalau mama mertua ke Indonesia, pasti Zian akan memberitahunya,"


Ririn kembali dengan aktivitasnya, yaitu berinteraksi di dunia maya. Sepertinya ia tidak bosan-bosan memainkan ponselnya.


"Ririn!"


Kali ini ia yakin kalau pendengarannya tidak salah. "Ini benar-benar suara mama mertuaku," ujar Ririn beranjak dari tempat tidurnya.


Ia langsung keluar dari dalam kamarnya menuju lantai bawah.


Serena menatap Ririn yang lagi turun dari anak tangga.


"Kamu lagi ngapain? Di panggil-panggil ngk menyahut," ujar Serena dengan wajah datarnya.


"Mama, kenapa tidak ngasi kabar kalu mau datang? Maaf tadi aku lagi di kamar mandi," ujar Ririn berbohong.


Serena menatap mata Ririn dengan seksama, ia mencari kebenaran di sana.


"Benarkah kamu dari kamar mandi?" Ujar Serena, ia tidak suka dengan kebohongan sekecil apapun.


Ririn gelagapan mendengar pertanyaan dari mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Em ah, i-iya, Ma, aku benaran dari kamar mandi," ujar Ririn tidak suka dengan pertanyaan mama mertuanya seperti itu.


"Orang dari kamar mandi itu tangannya dingin dan lembab, ini tanganmu panas, mungkin kamu sambil main ponsel di kamar mandi ya," ujar Serena tersenyum menatap Ririn.


Wajah Ririn langsung memerah, ucapan mama mertuaya itu adalah tamparan baginya.


"Ya sudah, mana Aura? Bawa kesini mama ingin menggendongnya," ujar Serena.


"Baik, Ma," ujar Ririn. Ia langsung menuju kamar putrinya.


"Mertua yang sangat menyebalkan, belum saja sehari di sini, sudah membuat darahku mendidih," sungut Ririn.


Serena tersenyum saat melihat Aura dalam gendongan Ririn.


"Cucu oma, sini sayang. Ya ampun cucu oma sudah besar sekali," Serena langsung menghujani Aura dengan ciuman gemasnya.


"Papa apa kabar, Ma," ujar Ririn basa basi,"


"Papa mu baik saja, mata kamu kenapa sembab begitu? Apa habis menangis?" Tanya Serena mengagetkan Ririn. Ririn langsung menggosok matanya.


"Tidak, aku tidak menangis, Ma, mungkin kena debu," ujar Ririn.


"Zian kapan pulang?" Tanya Serena tiba-tiba.


Ririn terdiam sejenak, ia tidak tau harus menjawab apa, karena ia tidak tau Zian kemana, sampai hari ini ngk pulang-pulang.


"Emangnya Zian tidak mengatakan apa pun sama Mama?" Ririn balik bertanya.


"Tidak, Zian hanya bilang, lagi di luar kota," ujar Serena.


"Oh, mungkin hari ini pulang, Ma, cepat selesai cepat pulang," ujar Ririn.


"Ajaklah Aura mandi, sudah sore ini, habis itu langsung kasi makan, mama juga mau beres-beres," titah Serena.


"Iya, Ma," Ririn langsung mengambil Aura dari pangkuan mertuanya dan membawanya ke atas.


"Hu ... ada mertua mulai repot, di suruh ini, suru itu, padahal ada baby sister juga, ngapain harus aku yang mandikan," sungut Ririn sebel.

__ADS_1


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


__ADS_2