
Alzian cukup lelah hari ini, ia memutuskan untuk segera pulang dan tidur.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Ujar Ririn menyambut Zian di depan pintu, ia segera mengambil tas kerja Zian. Sementara Zian diam saja melihat perlakuan Ririn yang katanya ingin berubah.
"Sayang, aku siapkan makan untuk mu," ujar Ririn lagi.
"Tidak perlu, lagian aku belum lapar, aku mau mandi dan setelah itu mau istrahat, aku mengantuk sekali," ujar Zian seraya masuk ke dalam kamarnya yang di ikuti Ririn.
Selesai menyegarkan tubuhnya, Zian langsung merebahkan dirinya di kasur, tidak begitu lama, akhirnya Zian terlelap.
Tepat pukul 8 malam, Zian mengigau.
"Sheril," gumam Zian dalam tidurnya.
Sementara Ririn yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya akhirnya menatap suaminya yang menyebut nama Sheril yang tidak terlalu jelas ia dengar.
"Siapa dia," gumam Ririn yang masih menatap suaminya yang masih terlelap.
"Sheril,"
Zian kembali bergumam, kali ini Ririn mendengar dengan jelas nama itu.
"Zian, bangun, kamu bermimpi ya," ujar ririn membangunkan suaminya dengan menggoyangkan bahunya.
"Em... "
Zian menggeliatkan tubuhnya. Lalu ia segera duduk mengingat mimpinya barusan.
"Ada apa dengan Sheril," pikir Zian dalam hatinya, tentu saja Ririn tidak bisa membaca apa yang di pikirkan suaminya saat ini. Ririn tetap memandang wajah suaminya, membiarkan Zian benar-benar sadar dari tidurnya.
"Jam berapa sekarang," ucap Zian kemudian.
"Jam 8," ucap Ririn datar.
__ADS_1
"Apa? Sudah berapa jam aku tertidur," ujar Zian yang hendak turun dari tempat tidur, tapi tangannya di cekal Ririn.
"Siapa itu Sheril?" Zian tampak terkejut mendengar pertanyaan Ririn.
Tapi ia mampu menyembunyikan keterkejutannya.
"Kalau bertanya itu yang jelas," ucap Zian terlihat biasa-biasa saja.
"Pertanyaan ku sudah jelas, Sheri itu siapanya kamu, hingga kamu sampai membawa namanya di mimpi kamu," tanya Ririn lagi.
Zian semakin terkejut, ia tidak sadar kalau ia tertidur sambil mengigau.
Zian mengernyitkan dahinya. "Jangan ngada-ngada ah," elak Zian.
"Aku tidak mengada-ngada Zian, siapa dia, selingkuhan kamu?" Pertanyaan Ririn lagi-lagi membuat dada Zian sesak.
"Itu hanya mimpi Ririn, mimpi, jangan percaya hal-hal seperti itu, aku juga ngk tau," elak Zian lagi, lalu ia pergi ke wastafel mencuci mukanya di sana.
"Sayang, katakan, kamu tidak menghianati ku kan? Ujar Ririn memeluk Zian dari belakang. Zian benar-benar ke habisan kata, ia tidak ingi ibu dari anaknya terluka, itu saja.
"Ririn sudah, aku lelah, aku tidak ingin membahas tentang kekonyolan ini, aku mau pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan malam ini," ujar Zian.
Ririn berdecak kesal. Perasaannya sudah tidak enak, jantungnya berdegup kencang. "Baiklah Zian, jika kamu tidak mau mengakuinya, aku sendiri yang akan membuktikannya," pikir dalam benak Ririn.
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin membahasnya, tapi aku kangen sama kamu," ucap Ririn seakan minta jatah pada Zian. Zian menghembuskan napas kasarnya.
"Bukankah kamu tidak ingin aku sentuh, selama ini kamu tidak ingin aku sentuh, sekarang kamu jadi aneh," ujar Zian.
"Sayang, aku kan sudah berjanji akan berubah, aku ingin kita mengenang masa-masa muda kita dulu, sebelum kita memiliki anak," ucap Ririn. Zian memejamkan matanya, ia tidak ingin mengecewakan Ririn, setidaknya Zian juga merasa berdosa jika mengabaikan keinginan istrinya. Berdosa dan juga merasa bersalah. Hanya Ririn lah yang tidak merasa bersalah menolak keinginan suaminya.
Zian membalikkan tubuhnya menghadap Ririn, sementara Ririn langsung mencium bibir suaminya dengan lembut. Zian merasa tubuhnya hangat dan tegang, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatannya, walaupun Zian berat melakukannya, namun ke-lelakianya sudah menegang. Zian langsung membopong istrinya Ririn ke atas ranjang, melakukan hubungan yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Ririn merasa ada perubahan pada suaminya, Zian pun merasa asing dengan tubuh istrinya yang sudah lama tidak ia *****.
__ADS_1
Tidak begitu lama, Zian sudah selesai menuntaskan ritualnya. Ia langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Mau kemana kamu sayang?" Tanya Ririn yang masih berada di tempat tidur, ia menatap suaminya yang sudah berganti pakaian. Santai namun memukau.
"Mau keluar, ada urusan," ucap Zian seenaknya.
"Urusan apa sih malam-malam begini," ujar Ririn lagi.
"Pekerjaan kantor," ujar Zian lagi.
"Hem,"
Ririn menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Aku curiga sama kamu," ucap Ririn yang tiba-tiba membuat Zian langsung terdiam. Ia menghentikan langkahnya.
"Curiga apa? Kenapa kamu tiba-tiba mencurigai aku? Selama ini kamu sama sekali tidak peduli," ucap Zian kesal.
"Kok kamu jadi marah," ucap Ririn semakin curiga.
"Jangan-jangan kecurigaan ku benar," sambung Ririn lagi.
"Ririn sudahlah, jangan membuat ku pusing, aku pusing dengan pertanyaan kamu," Zian kelihatan sangat kesal, ia berlalu pergi meninggalkan kamarnya. Sementara Ririn juga tampak mulai kesal dengan sikap Zian.
"Aduh gimana ya, apa aku ikuti saja?" Batin Ririn, ia tampak berpikir keras.
.
.
.
yang penasaran, yuk komen ya.😁😁
__ADS_1