Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
120


__ADS_3

Di hotel


Zian segera membuka pintu kamar hotel. Wangi elegan semerbak menyegarkan penciumannya.


"Masuklah."


Zian mempersilahkan Sheril untuk masuk duluan. Sementara dia menutup pintu dengan aman.


Sheril terpaku melihat kamar hotel di hias begitu indah. Wangi lemon menambahkan kesegaran ruangan kamar. Sheril sangat menyukainya.


Di sudut kamar, ada meja yang sudah tertata rapi dengan berbagai makanan, sebuah lilin yang tampak menghias di meja makan tersebut.


Sheril mengernyit. Ada apa? Apakah Zian yang sudah mengaturnya?


Dia tidak ingin bertanya. Sementara Zian meletakkan paper bag di atas tempat tidur.


"Sebaiknya kau mandi dulu, biar enak istrahat."


ucapannya seraya melepaskan sepatunya duduk di kursi tanpa meliriknya.


Rasanya enggan sekali untuk mandi, dia merasa dingin, entah itu cuaca, atau memang hawa kamar ber-AC ini yang memang sangat dingin.


"Kenapa diam?" Zian menatapnya.


"Ah ..., iya aku mau mandi sekarang."


Sheril langsung pergi ke kamar mandi dan segera menutup pintu dan menguncinya. Dia takut Zian mengintipnya.


Merasa sudah cukup, dia segera mengenakan pakaiannya. Karena tidak membawa baju ganti, terpaksa dia memakai kembali bajunya yang tadi. Kemudian keluar dengan rambut yang basah.


Zian menatapnya heran, kenapa Sheril memakai baju itu lagi?


Sheril merasa kaku.


"Kenapa memakai baju ini lagi ...."


"Aku ...."


Zian mengambil paper bag yang di taruhan di atas tempat tidur barusan, dan memberikannya pada Sheril.


"Aku sudah memesan baju untuk mu, ganti lah dengan yang ini."


Sheril mengambil paper bag itu dari tangan Zian, kemudian hendak beranjak ke kamar mandi lagi.


"Mau kemana?" Zian menahan tangannya.


"Mau ganti baju." Ucapannya sambil mengeratkan tangannya di tali paper bag itu.


Zian tersenyum kecil.


"Ganti bajunya di sini saja, aku tidak akan melihat mu. Aku mau mandi sekarang." Di Kalimat terakhirnya,


'aku mau mandi sekarang' Zian mendekatkan bibirnya di telinga Sheril, sengaja menggodanya, sambil berlalu melangkah ke kamar mandi.


Sheril cepat-cepat mengganti bajunya, sebelum Zian keluar, dia sudah mengganti bajunya.


Sesaat dia tercengang menatap baju dress mini. Baju ini tentu tidak akan ada cela untuk tubuhnya yang sedang mekar, aku malu memakainya!

__ADS_1


Tapi ..., tidak ada baju lain selain ini, dia terpaksa memakainya.


Benar saja, mini dress itu pas di tubuhnya, meski tidak sesak karena bahannya melar. Lekuk tubuhnya terlihat jelas, apa lagi perutnya yang buncit begitu menonjol, terlihat dengan sempurna.


Sebelum Zian keluar dari kamar mandi, Sheril segera berbaring di tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut, dan pura-pura tidur.


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Zian sudah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi.


Melihat Sheril tidur memakai selimut dengan posisi miring membelakanginya, Zian segera memencet tombol off remote AC. Mungkin dia kedinginan.


Zian mengambil botol air minum dan meneguknya sampai setengah tersisa. Kemudian menghampiri Sheril yang berbaring, duduk di sisinya.


Zian mengulurkan tangannya, membelai rambut Sheril yang masih lembab. Dia tau Sheril belum terlelap, mungkin berpura-pura tidur saja.


"Apa ngantuk?" Zian menatapnya.


Sheril tidak menyahut, hanya sedikit bergerak menarik selimut.


"Sebaiknya makan dulu, baru istirahat."


Zian mencoba menarik selimut Sheril.


"Aku belum lapar."


"Kalau begitu temani aku makan."


Sheril membuka matanya. Berarti, mau tak mau dia harus melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Aku ..., aku malu untuk bangun." Sheril berkata dengan malu-malu.


"Kenapa?"


"Baju ku mini sekali."


Zian tersenyum kecil. Dia baru mengerti sekarang, mengapa Sheril menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Emang kenapa kalau mini? Kan tidak ada yang melihat selain aku, kita hanya berdua di sini."


"Aku ..., aku hanya malu saja."


"Malu dengan siapa?" Zian ingin tertawa, geli melihat tingkah Sheril.


"Aku ...."


"Sudah-sudah, untuk sementara pakai saja yang ini. Lagi pula aku belum melihatnya, seberapa mininya sih?"


Zian menatap Sheril dengan menarik tangannya untuk berdiri.


"Ayo, temani aku makan, ngk apa-apa, apa pun yang kamu pakai, kamu tetap cantik."


Sheril terpaksa beranjak dari tempat tidurnya, lalu berdiri sambil membetulkan bajunya.


Zian memandangnya dari atas sampai ke bawah, mantapnya tidak berkedip, mini dress itu membalut lekuk tubuhnya. Depan belakang menonjol, bokongnya semakin besar. Zian menelan ludahnya. Dia sangat menyukai pemandangan ini, membayangkan sesuatu yang menyenangkan.


"Mas, mas ...!" Sheril berteriak, menyadarkan Zian dari bayangan mesumnya.


"Em ..., ya?"

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Zian tersenyum lalu menghampiri Sheril begitu dekat, hingga wangi sabun segar tercium olehnya. Dadanya mendadak bergetar, wangi tubuh Zian seakan mengeluarkan racun yang mematikan Sheril.


"Kamu sangat cantik, aku suka melihatmu memakai pakaian seperti ini."


Sheril menganga, lalu memperhatikan pakaiannya dari atas sampai bawah. Dia tidak percaya kalau Zian menginginkan dirinya berpakaian mini seperti ini! Apa mungkin dia akan merubah penampilannya menjadi seksi? Apa dia sengaja, agar dia di lihat oleh laki-laki hidung belang di luaran sana?


"Berpakaian seperti ini hanya boleh di rumah saja, tidak ada yang boleh melihatnya selain aku."


Sheril mengerjap-ngerjapkan bulu matanya. Hingga membuat Zian tidak tahan untuk memeluknya dan mencium bulu matanya, tangannya memegang pinggul Sheril, dan mengelus perutnya yang buncit. Zian menempelkan bibirnya di bibir Sheril, kesegaran odol fresh cool membuatnya tidak sabar ingin mengigit dan melintir lidahnya.


Napas Sheril terengah-engah, karena Zian tidak memberinya kesempatan untuk menarik napas, hingga dia terpaksa mendorong tubuh Zian.


Wajah Zian langsung berubah, dia sedikit kecewa karena Sheril mendorongnya.


"Aku, aku tidak bisa bernapas."


Zian menatap Sheril, melihat napasnya memburu. Dia mengerti, lalu tersenyum sambil menarik kursi.


"Duduklah."


Zian menatapnya, wajah itu bersemu malu.


Mereka makan dalam diam.


Zian menyudahi makanya. Mengelap tangannya dengan tisu, sembari menunggu Sheril menyelesaikan makanya, dia membuka ponsel.


"Aku ada urusan sebentar, jaga diri mu. Jangan keluar kalu bukan bersama ku.


Sheril mengangguk: "hati-hati."


Zian mencium keningnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan hotel.


Sheril menatap langkahnya hingga tubuhnya hilang di balik pintu.


.


.


.


.


Halo selamat pagi, Author sudah update lagi ya, jangan lupa dukung terus karya author ya 🙏🙏


Wajib like☑️


klik bintang lima di penilaian ☑️


tap love ☑️


vote setiap akhir pekan ☑️


komen jika ada kritik dan saran☑️


dan jangan lupa follow akun author ☑️

__ADS_1


 


__ADS_2