
Ah ....
Zian kesal dengan dirinya sendiri. Ia mencengkram setir mobilnya dengan erat, kemudian memukul mukul setirnya dengan keras.
"Aku tidak bisa berpikir jernih," ujar Zian berbicara dengan dirinya sendiri.
Zian kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia mencari nama Nino.
"Ada apa menelpon ku?" Ujar Nino malas.
"Kita ke club yuk, aku pusing," ujar Zian.
"Sudah ku duga, kamu menelpon ku hanya untuk menemanimu," ujar Nino.
"Hei! Mau atau tidak! Kalau ngk mau, katakan saja ngk mau, jangan banyak bacot lu," ujar Zian meninggikan suaranya.
"Hehehe ... baiklah bos, kamu di ,ana sekarang?" Tanya Nino.
"Ini masih di jalan, sebentar lagi sampai," ujar Zian.
"Ok, gue langsung on the way," ujar Nino.
"Kenapa perempuan itu selalu mengganggu pikiran ku, aku tidak bisa berpikir karenanya!" Ujar Zian kembali memukul setir mobilnya.
Zian yang egois, gengsi yang tinggi, ia tidak ingin mengakui perasaanya.
...****************...
Zian memegangi kepalanya yang sakit dan pusing.
"Bro, aku rasa stop pesan minumnya, kamu sudah terlalu banyak minum," ujar Nino yang masi dalam alam kesadarannya.
Sementara Zian seperti orang gila, setiap melihat wanita yang ada di club malam berwajah Sheril, tapi Zian masi ingat kalau Sheril berada di villa.
"Bro, antarkan aku ke VillaZa," ucap Zian dengan suara seraknya.
"Baiklah," ujar Nino.
Nino segera membayar tagihan minumannya. Sementara Zian masih duduk.
"Hei, ayolah aku ingin kau menemaniku malam ini," ujar salah seorang memaksa perempuan yang ada di club malam itu.
"Aku tidak mau!" Ujar perempuan itu.
"Aku akan memaksamu jika kamu tidak mau!" Ujar laki-laki itu.
Zian melihat laki-laki itu memaksa Sheril. Ia langsung berdiri menghampiri laki-laki dan perempuan itu.
Zian langsung menarik tangan perempuan itu dan melindunginya.
"Apa kau bilang! Kamu memintanya untuk menemanimu?"
Bug ....
Satu bogem mentah mendarat di pelipis laki-laki itu.
Laki-laki itu meringis menahan rasa sakitnya, ia menyeka cairan merah di sudut bibirnya.
"Jangan ikut campur dengan urusan saya," ujar laki-laki itu. Ia ingin membalas Zian namun Nino langsung menyerangnya.
"Hentikan, ada apa ini?" Ujar Nino melirik Zian dan laki-laki itu.
"Temanmu sendiri yang mencari masalah dengan saya," ujar laki-laki itu marah.
Zian kembali menghantam laki-laki itu hingga membuatnya terpental jauh. Sementara keadaan sudah ricuh dengan keributan yang Zian ciptakan. Nino langsung membawa Zian keluar dari club itu.
"Awas saja kau laki-laki pengecut, aku akan membalasnya," ujar laki-laki itu.
__ADS_1
Nino langsung memacu gas mobilnya dengan kecepatan turbo. Ia takut kalau laki-laki yang Zian pukul tadi mengejarnya. Setelah merasa aman, Nino menurunkan kecepatan mobilnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun Sheril belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya berbaur menjadi satu.
Tin tin tin ...
Klakson mobil Nino berteriak panjang, meminta satpam segera membuka pintu gerbang VillaZa.
"Siapa yang datang malam-malam begini," gumam Sheri penasaran, Sheril langsung beranjak dari kasurnya mendengar suara klakson mobil. Ia segera menyingkap tirai jendela kamarnya, dan menatap mobil yang sangat di kenalnya itu.
"Zian? Bukanya dia bilang tadi tidak akan kesini," gumam Sheril.
Sheril mengeryitkan dahinya saat melihat sahabatnya yang keluar dari dalam mobil. Lalu sahabatnya Nino membuka pintu mobil samping, dan membimbing Zian.
"Kenapa dengannya?" Gumam Sheril.
Sheril langsung keluar dari dalam kamarnya menuju lantai bawah.
Ia menatap Nino dan Zian secara bergantian.
"Ada apa lagi ini, dia kenapa?" Tanya Sheril menatap Nino kemudian menatap Zian lagi.
"Saya hanya mengantar Zian, kalu begitu saya langsung pamit," ujar Nino.
"Tapi ... " Ucapan Sheril langsung terhenti saat Nino sudah menjauh darinya.
Sheril kembali menatap Zian.
Sementara Zian hanya bergumam tidak karuan.
"Kamu itu hanya menyiksa diri mu sendiri, kapan kamu akan berubah?" Ujar Sheril memarahi Zian. Zian tidak menjawab ucapan Sheril, ia berdiri dan berjalan sambil terhuyung.
"Kamu mau kemana?" Tanya Sheril.
"Aku mau istrahat," gumamnya tidak jelas, tapi Sheril mengerti maksudnya.
"Kamu berat sekali," ujar Sheril merangkul tangan Zian dengan mengalungkan tangan Zian ke lehernya.
Sampai di kamar, Sheril segera melepaskan sepatu Zian, sementara Zian tidur dengan posisi tubuh telentang.
Sheril menghembuskan nafas kasarnya. Lalu ia menggelar kasur tipis di lantai lalu dan tidur di sana, matanya sudah ngantuk sekali. Tidak begitu lama Sheril terlelap.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Sheril baru saja bangun, ia mendengar suara Zian Menggigil. Ia pun langsung bangun dan menatap Zian.
"Dia kedinginan," gumam Sheril. Lalu Sheril mengambil selimut dan menyelimutinya setengah badanya. Tapi Zian tetap saja menggigil. Sheril meraba jidat Zian.
"Panas sekali, dia demam?" Gumam Sheril. Sheril segera mengambil air Panas dan meletakkannya di dalam baskom kecil, ia juga mengambil handuk kecil untuk mengompres kening Zian yang panas.
Dengan sangat hati-hati Sheril mulai mengompres kening Zian. Ia mengulanginya beberapa kali, hingga Zian membuka matanya.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan," ujar Zian hendak bangkit dari tidurnya, namun Sheril menahannya.
"Kamu itu demam, berbaringlah, aku akan mengompres mu," ujar Sheril.
Zian menuruti kata Sheril, ia kembali berbaring. Sementara Sheril kembali mengompres kening Zian.
Zian menatap Sheril dengan lekat. "Kenapa kamu belum siap-siap, sebentar lagi Simba akan menjemput mu," ujar Zian menatap Sheril dengan mata sayu.
"Kamu lagi sakit, aku tidak mungkin meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini," ujar Sheril membuat hati Zian langsung berdetak. Ia menatap Sheril dengan seksama.
"Kenapa kamu sangat menghawatirkan aku? Bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu?" Ujar Zian.
"Tentu saja aku menghawatirkan kamu, karena kamu itu ... " Sheril tidak melanjutkan ucapnya. Ia terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Karena apa?" Tanya Zian.
__ADS_1
"Karena kamu ayah biologis dari anak ku," ucap Sheri.
Tentu saja bukan jawaban itu yang Zian berharap dari Sheril.
"Oh karena itu, kamu tidak usah khwatir, aku tidak apa-apa, sekarang ke masi barang-barang mu, dan pergilah dari sini," ujar Zian memalingkan wajahnya. Entah mengapa Zian merasa sakit hati. Yang sebenarnya Zian tidak rela Sheril pergi dari hidupnya.
Sheril menatap Zian dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya sakit mendengar ucapan Zian.
"Kamu mengusirku?" Ucap Sheril lirih.
Zian bangkit dari tidurnya.
"Bukankah kamu sendiri yang ingin pergi dari sini! Sekarang pergilah! Pergi dari dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" Ujar Zian tersulut emosi.
Sheril menatap Zian dengan berurai air mata, ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Zian.
Sheril menyeka airmatanya setelah ia berada di bathroom. Sheril tidak mengerti, sebenarnya seperti apa perasaan Zian terhadapnya, terkadang ia baik dan perhatian, terkadang ia juga berkata kasar dengan Sheri.
Selesai melakukan ritualnya, Sheril langsung keluar dari bathroom. Ia menatap Zian yang masih berbaring di tempat tidurnya. Sementara Zian tidak sedikitpun melirik Sheril.
Sheril langsung menghampiri Zian, ia duduk di tepi ranjang. Sheril menatap Zian dengan lembut.
"Sebelum aku pulang, izinkan aku melakukan sesuatu," ujar Sheril.
Zian tidak merespon ucapan Sheril, bahkan ia tidak ingin menatap wajahnya.
"Bolehkah aku melakukan sesuatu untukmu?" Tanya Sheril kembali.
"Terserah kamu saja," ujar Zian ketus.
Sheril kembali meraba kening Zian.
"Suhu tubuhmu masih tinggi, aku kompres lagi ya," Ujar Sheri dengan lembut. Namun Zian tetap saja membisu, bahkan saat Sheril mengompres keningnya ia tetap tidak bicara.
"Biarkan handuknya seperti ini, aku akan kebawah sebentar," ujar Sheril sambil berlalu.
Zian menatap punggung Sheril yang sudah menjauh keluar dari dalam kamarnya.
Zian terpaku dalam lamunannya. Entah mengapa Zian merasa nyaman di perlakukan Sheril seperti ini.
Sheril kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan. Sheril meletakkan nampan itu di atas meja, lalu ia melepaskan handuk yang masih menempel di kening Zian.
"Duduklah, kamu harus makan terlebih dahulu," ujar Sheril. Seraya mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauk.
"Aku tidak mau, dan kamu, jangan memaksa ku," ujar Zian memalingkan wajahnya.
"Bukankah kamu sudah mengizinkan aku untuk melakukan sesuatu untuk mu?" Ujar Sheril menatap Zian dengan lekat.
"Sudah aku katakan, aku tidak mau makan," ucap Zian.
"Bagaimana kamu akan cepat sehat, kalau tidak mau makan? Aku belum bisa pergi kalau kamu belum memakan sesuatu," ujar Sheril.
"Baiklah, habis itu kamu pergilah dari hidupku," ujar Zian membuat wajah Sheril langsung merah menahan perasaannya.
Sheril langsung menyuapi Zian dengan telaten, akhirnya makanan yang ada di dalam piring tinggal sisa separuh lagi, Zian menikmati setiap suapan dari Sheril.
Sheril pun tersenyum saat melihat makanan yang ada di dalam piring tinggal satu sendok lagi.
"Suapan terakhir," ucap Sheril. Zian melahap makanan terakhirnya.
"Akhirnya habis juga, ternyata kamu itu kelaparan," tukas Sheril membuat mata Zian melotot. Ia merasa malu dengan ucapan Sheril, namun Zian mampu menutupinya.
"Jangan melototi ku seperti itu, sekarang minum dahulu," ujar Sheril sambil menyodorkan gelas air putih ke bibir Zian.
Setelah menyudahinya menyuapi Zian makan, Sheril langsung membawa bekas makanan Zian ke dapur.
Maaf author baru update, jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1